Wednesday, December 14, 2011
Sunday, August 14, 2011
ALAM PAGETO MENURUT KITAB-KITAB PANGRUHUM KISUNDA

(Richadiana Kadarisman Kartakusuma)
SEWA KA DARMA
Sewakadarma (SD) berbahasa Sunda Buhun (Perpustakaan Nasional, Br. 408. SD) tentang ajaran (Sang) Sewakadarma ‘pengabdian atau kebaktian terhadap darma’ ditulis pada helaian daun nipah 37 lempir (74 halaman); tapi yang ditulisi 67 halaman.
SD disusun seorang pertapa perempuan bernama Buyut Ni Dawit yang bertapa di pertapaan Ni Teja Puru Bancana di Gunung Kumbang. Tidak mengherankan jika SD menguraikan mengenai gisa ‘lesung’ dengan istilah-istilah yang khas untuk perempuan, sepenti dikasayan, dyangiran, dan dipêsekan. Juga uraian mengenai pakaian bidadari.
SD menampilkan “agama pribumi” - unsur Hiyang yang bertahta di kahiyangan, bertaut dengan kalöpasan ‘kelepasan, moksa’ yang menekankan kepada penggunaan bayu ‘tenaga’, sabda ‘ucapan’, dan hêdap ‘tekad’ sesuai tuntutan dan petunjuk darma ke dalam dua bagian. Pertama ajaran yang menguraikan cara persiapan jiwa untuk menghadapi maut sebagai gerbang peralihan ke dunia gaib. Melukiskan peristiwa maut secara indah dan mengesankan karena maut merupakan “pintu gerbang kelepasan” bagi jiwa. Kedua melukiskan perjalanan jiwa sesudah meninggalkan “penjara”nya yang berupa jasad dan kehidupan duniawi
Cara penulis melukiskan tempat yang dilalui jiwa dalam perjalanannya menuju gerbang surga menunjukkan bahwa ia sangat akrab dengan suasana pegunungan yang mungkin menjadi tempat tinggalnya selama hidup bertapa. Tumbuhan, satwa, bukit, lembah, jembatan, pancuran, dataran tinggi adalah suasana pegunungan dikhayalkannya menjadi suasana daerah pinggiran surga:
/35/ tuluy ñorang bönang ñayu- Lalu menempuh tempat yang diperindah
tajur pinang - pohon pinang
kumara sinar hanjuang- kemilau sinar hanjuang
sasipat mata handölöm- handölöm segaris mata
salaput böhöng tatali kayu waduri- widuri setinggi leher
manara döng kêmbang bulan- lantana dan bunga bulan
wera tumpang wera lancar- wera tumpang wera lancar
kêmbang soka- bunga soka
Daerah perbatasan surga itu penuh dengan berbagai jenis serangga penghasil madu persediaan makanan para dewa: bangbara tunggul, bangbara kumbang, engang, tiwuan, siröpön, dan töwöl. Di surga pun ada tangga pada tiap ujung jalan seperti tangga terpasang pada pintu pagar yang mengelilingi dusun, hanya bahannya berbeda. Surga berlapis-lapis menurut derajat penghuninya. SD menyebutkan kedudukan mata angin dan bahan baku bangunan kahiyangan nya menurut warna masing-masing:
Di atas kahiyangan kelima (Isora, Brahma, Mahadewa, Wisnu, Siwa) terletak kahiyangan Sari Dewata dengan Ni Dang Larang Nuwati sebagai penghuninya, yang saat hidup di dunia telah berikrar tidak akan kawin untuk mengabdikan diri kepada agama. Namun ikrarnya sebenarnya terdorong oleh kesedihan karena cintanya tidak berbalas sehingga karenanya dia tidak dapat menempati surga tertinggi.
/58/ ... liwat saundak döi ti iña- Lewat setingkat lagi dari situ
datang ka sari dewata- tiba ke Sari Dewata
gösan wirumananggay- tempat Wirumananggay
döngöng pwa langkawang tidar - dan Pwah Langkawang Tidar
pwa sêkar dewata- Pwah Sekar Dewata
döng bagalna- dan tunangannya
ni dang larang nuwati - Ni Dang Larang Nuwati
katyagian papa hêdapna cawene- yang ingkar derita karena tekad perawan
möyötan maneh mo lakian- berikrar tidak akan bersuami
na hêntö dyasangrahakön- karena bertepuk sebelah tangan
hantö dipikatrêsna- tidak dicintai
diña kasorgaanana- dalam kebahagiaannya
Setingkat di atas kahiyangan Nuwati, terletak kahiyangan Bungawari, di situlah tempat tinggal Pwah Sanghiyang Sri (dewi padi), Pwah Naga Nagini (dewi bumi), dan Pwah Soma Adi (dewa bulan) yang menghuni jungjunan bwana ‘puncak dunia’.
Di situlah batas kehidupan surgawi. Sang Atma ‘Jiwa’ yang telah lepas dan kungkungannya singgah di setiap tingkat surga. Namun jiwa yang mantap karena gemblengan ajaran Sewa ka darma tidak akan berlama-lama di situ. Ia akan terus naik mencari lapisan yang layak bagi “dirinya”. Dari Bungawari masih ada tangga emas untuk naik ke lapisan lebih tinggi.
Untuk masuk ke situ tidak akan ada ajakan atau undangan. Jiwa yang sempurna menjalankan Sewa-ka-darma akan mampu memasukinya. Ia akan tiba di bumi kancana ‘dunia emas’; di situlah terletak jatiniskala ‘kegaiban yang sejati’. Keadaan serba cerah dalam keheningan yang mutlak. Jiwa telah sampai ke ujung perjalanan karena di situlah terletak keabadian. Ia telah lepas dan melampaui para dewa dan para hyang. Itulah kebahagiaan sejati digambarkan sebagai:
/64/ ... suka tanpa balik duka- Duka tanpa mengenal duka
warêg tanpa balik lapar- kenyang tanpa mengenal lapar
hurip tanpa balik pati- hidup tanpa mengenal mati
sorga tanpa balik papa- bahagia tanpa mengenal nestapa
hayu tanpa balik hala- baik tanpa mengenal buruk
nohan tanpa balik wogan- pasti tanpa mengenal kebetulan
moksa löpas tanpa balik wulan- moksa lepas tanpa mengenal ulangan hidup
Dalam gambaran mengenai moksa itu kita menarik simpulan bahwa sekalipun berbicara tentang dewa-dewa Hindu, berpijak pada rucita Budisma mengenai nirwana yang sebenarnya berarti ‘tertiup habis’. Maksudnya, telah padam segala hasrat dan nafsu: Jiwa dalam keadaan bebas. Rucita nirwana tidak memasukkan peranan tuhan ke dalamnya; hanya karma yang menentukan. Rucita karma dalam Sewakadarma menggambarkan Jiwa yang mencapai moksa itu berada dalam suasana dunia yang:
/65/ ... twatwag kajatiniskala - Tiba pada kegaiban murni
luput ti para dewata - lepas dari para dewata
löpas ti sang hyang- lepas dari sanghyang
tan hana kara - tak ada rintangan
lêñêp añara cintya - meresap merasuk alam pikiran
kena rampes tanpa denge - sebab utuh tanpa dengar
kena suwung tanpa wastu - sebab hampa tanpa wujud
ka nu lêngis tanpa kahanan- kepada yang halus tanpa kurungan (wadah)
döng alitan - dan lembut
(...) (...)
sarwa tunggal wisesa - serba tunggal kuasa
SANGHIYANG SIKSA KANDA NG KARESYAN
Sanghyang Siksa: Kanda ng Karêsyan (Perpustakaan Nasional Kr./Koropak 630). Naskah daun nipah itu ditulis menggunakan (pisau) pangot, selesai ditulis dalam tahun Saka nora catur sagara wulan (1440 S=1518 Masehi).
Naskah itu terdiri atas dua bagian. Bagian pertama disebut Dasakrêta sebagai kundangön urang reya ‘pegangan orang banyak’, bagian kedua disebut Darmapitutur berisi hal-hal yang berkenaan dengan pengetahuan yang seyogianya dimiliki oleh setiap orang agar dapat hidup berguna di dunia. Uraian itu nampak sekali didasarkan pada kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat dan bernegara. Walaupun SSKK menyebutkan dirinya karêsyan, isinya tidak hanya berkenaan dengan kehidupan kaum agamawan.
Bahkan lebih banyak yang berkaitan dengan kearifan dan kewaspadaan hidup menurut ajaran darma. SSKK cukup menarik karena pada bagian akhirnya menyebutkan sang sewaka darma sebagai sumber pegangan akhlak. Apakah tidak mungkin hal itu mengacu kepada ajaran yang terkandung dalam naskah SD? Isi ajaran yang tersurat dalam SSKK sebagian besar justru ditujukan kepada kelompok yang bukan resi, terutama dalam hal pelaksanaan tugas hulun ‘rakyat’ bagi kepentingan raja. Ditinjau dari isinya, kata siksa kanda ng karêsyan mungkin dapat diartikan ‘aturan atau ajaran tentang hidup arif berdasarkan darma.
Berdasarkan darma itulah SSKK menampilkan pandangan yang berbeda mengenai moksa sebagaimana yang tersurat dalam SD khas bersifat keagamaan. Perbedaan itu terdiri atas:
Pertama, SSKK membicarakan kesejahteraan hidup manusia di dunia dengan memahami darmanya masing-masing.
Kedua, bila tuntutan darma terpenuhi dengan sem-puma, tercapailah krêta ‘kesejahteraan dunia’. Ketiga, keberhasilan dalam darma akan membuka kesempatan untuk moksa bagi siapa pun tanpa harus menjadi “pendeta” dulu.
Paparan kahiyangan para dewa lokapala ‘pelindung dunia’ (Isora, Wisnu, Mahadewa, Brahma, Siwa) dalam SSKK didasarkan pada rucita ajaran Siwa--sidhanta. Paparan lokasi kahiyangan itu menurut warna dan kedudukan mata angin, dan terdapat pada bagian pertama (Dasakrêta):
/3/ ... lamun pahi kaopeksa sanghyang wuku lima dina bwana, boa halimpu ikang desa kabeh. Desa kabeh ngaraña: purba, daksina, pasima, utara, madya. Purba, timur, kahanan Hyang Isora, putih rupaña; daksina, kidul, kahanan Hyang Brahma, mirah rupaña; pasima, kulon, kahanan Hyang Mahadewa, kuning rupaña; /4/ utara, lor, kahanan Hyang Wisnu, hirêng rupaña; madya, têngah, kahanan Hyang Siwah, aneka warna rupaña. Ña mana sakitu sanghyang wuku lima dina bwana ‘
(= Kalau terpahami semua Sanghyang Wuku Lima di bumi, tentulah akan (tampak) menyenangkan (keadaan) semua tempat. Tempat-tempat itu disebut purwa, daksina, pasima, utara, dan madya. Purwa yaitu timur, tempat Hyang Isora, putih warnanya. Daksina yaitu selatan, tempat Hyang Brahma, merah warnanya. Pasima yaitu barat, tempat Hyang Mahadewa, kuning warnanya. Utara yaitu utara, tempat Hyang Wisnu, hitam warnanya. Madya yaitu tengah, tempat Hyang Siwa, aneka macam warnanya. Ya sekian itulah Sanghyang Wuku Lima di bumi’.)
Dalam pada itu, paparan mengenai suasana kahyangan atau kalanggêngan dalam SSKK ternyata hampir tidak berbeda dengan paparan SD, dan terdapat pada bagian kedua (Darmapitutur):
/25/ ... Ña mana kitu ayöna, na janma ingêt di Sanghyang Darmawisesa, ñaho di karaseyan ning janma. Ya ta sinangguh janma rahaseya ngaranna. Lamun pati ma, eta atmana manggihkön sorga rahayu. Manggih rahina tanpa balik pêtêng, suka tanpa balik duka, sorga tanpa balik papa, enak tanpa balik lara, hayu tanpa balik hala, nohan tanpa balik wogan, mokta tanpa balik byakta, nis tanpa balik hana, hyang tanpa balik dewa. Ya ta sinangguh parama Iêñêp ngaranna
(= Manusia yang teringat Sanghyang Darmawisesa, mengetahui kerahasiaan manusia; itulah yang disebut manusia (yang paham) rahasia. Jika meninggal, sukmanya akan menemukan kemuliaan dan kebahagiaan, mengalami siang tanpa malam, suka tanpa duka, kemuliaan tanpa kenistaan, senang tanpa menderita, indah tanpa keburukan, kepastian tanpa kebetulan, gaib tanpa nyata, hilang tanpa wujud, menjadi hyang tanpa kembali menjadi dewa. Itulah yang disebut parama-lênyêp (kesadaran utama)’
SSKK menyatakan bahwa moksa adalah keadaan jiwa yang berhasil memasuki kahiyangan, yang dengan tegas membedakan surga (tempat dewa) dengan kahiyangan (tempat hyang). Masuk surga disebut munggah, sedangkan masuk kahiyangan disebut moksa atau luput:
/28/ …Ini kahayang janma: yun suda, yun suka, yun munggah, yun luput. Ini kalingana: yun suka, ma ngaranna hayang purna, mumul köna ku sarba kasakit; yun suka ma ngaranna hayang bönghar, mumul kantunan ku drabya; yun munggah ma ngaranna hayang sorga, mumul manggihkön bwana; yun luput ma ngaranna hayang mokta, mumul kabawa ku para sorga. Ña mana sakitu kahayang janma sareyana ‘
(= Inilah keinginan manusia: yun suda, yun suka, yun munggah, dan yun luput. Maksudnya, yun suda adalah ingin sempurna, tidak mau terkena segala macam penyakit; yun suka adalah ingin kaya, tidak mau ditinggalkan (kehilangan) harta; yun munggah adalah ingin surga, tidak mau menemui dunia, dan yun luput adalah ingin mencapai moksa, tidak mau terbawa oleh penghuni surga. Demikianlah semua keinginan manusia’.)
Uraian itu memberikan gambaran yang terbalik dari SD, karena dalam SD jiwa yang moksa dikatakan menempati alam lebih tinggi daripada kahiyangan.
JATI NISKALA
Jatiniskala (JN) - Perpustakaan (Kr. 422.) dari kabuyutan Ciburuy, Garut Selatan, diserahkan oleh Raden Saleh kepada Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Aca 1970:20), mengingat tempatnya dalam peti yang sama dengan naskah-naskah Ciburuy yang lain (peti no. 15).
JN digoreskan pada 14 lempir daun nipah; setiap lempir ditulis pada kedua mukanya, kecuali lempir terakhir yang hanya ditulisi satu muka, sedangkan lempir pertama rupanya ditulis lebih kemudian karena bentuk aksaranya adalah aksara Jawa, sedangkan lempir yang lain beraksara Sunda. Dengan demikian, dari ke-14 lempir itu naskahnya hanya terdiri atas 25 halaman.
Tulisan pada setiap lempir rata-rata empat baris, yang keadaannya masih cukup baik dan utuh, kecuali beberapa aksara yang agak rusak. Kalau memperhatikan bahwa kalimat terakhir naskah itu tidak diakhir dengan ciri baca titik (.), harus dipertimbangkan adanya kemungkinan bahwa JN belum selesai dituliskan.
Walaupun, berdasarkan keadaan naskahnya sendiri dapat diketahui bahwa lempir terakhir itu memang hanya bertuliskan satu muka. JN mengandung embaran mengenai ajaran keagamaan yang memperlihatkan berbaurnya ajaran Hindu dengan ajaran pribumi. Bahkan, dalam JN nama-nama pribumi itu jauh lebih banyak, dan mereka ada yang memperoleh derajat sebagai apsari ‘makhluk kahiyangan, pendamping dewa’:
/2/ ... ujar sanghyang acikumara, ja cumiri, cakrawati, muku eta löwih lain ja eta niskala, aing alit alit aing, bihöng bihöng aing, hantö hantö aing, tan hana tan hana aing, yata sira manggih ning bumi kumirincing, disada tataböhan, di aci bumi kumirincing, kumarêncang, kumarêncog, rari ti nu rari aci kwaswaran, pêndang pênding narawangsa ...’ Kata Sanghyang Acikumara,“
(= Karena menjadi tanda kekuasaan, hal itu tidak akan terlalu menjadi berlebihan. Karena kaIanggêngan itu, yang mungil adalah kemungilanku, yang mungkin adalah kemungkinanku, yang tidak adalah ketidakanku, yang tiada adalah ketiadaanku. Demikianlah jika kita menemukan dunia yang gemerincing, gemerencang, kerabat muda dari yang lebih muda adalah inti dari segala yang lebih rendah. Alunan suara tarawangsa ...’)
Sementana itu digambarkan bahwa dalam perjalanan menuju kalanggêngan seseorang akan bertemu dengan sejumlah pohaci dan apsari yang semuanya berada dalam “kurungan”:
/4/ ... ujar sang acilarang aduh anakku acikumara, hapu ka madyana, lamun sakitu maan talatah aing akini: lamun mumul ma mula disukah, da lurusan, lamun daek mah baana, döng hiji anak mulah salah tuduhan, aja epwagan, pitu:
pwahtunjung herang,
pwah sri tunjung lenggang
pwah sri tunjung hnah
pwah sri tunjung manik,
pwah sri tunjung putih,
pwah sri tunjung bumi,
pwah sri tunjung bwana,
mangkukurungan, nam, maan aksari kalih, ngaranna:
aksari tunjung naba,
aksari tunjung mabra,
aksari tunjung syang,
aksari tunjung kuning,
aksari nagawali,
aksari naga nagini,
selan, sagini:
pwah sri sarinanawati, döng
pwah aksari manikmaya,
aksari mayalara,
aksari atasti lana,
aksari madongkap,
aksari nikasi,
aksari mayati,
aksari padingin,
aksari kudya kêling,
aksari tuwana,
aksari janalwaka,
aksari manwa hirêng,
aksari madwada,
aksari kunti,
aksari titisari,
aksari kindya manik,
aksari madi pwaka,
aksari pata,
aksari jabun,
aksari galentwar,
aksari warawati,
aksari rumawangi,
aksari kinasihan,
aksari kamwawati,
aksari kêmang,
aksari jatilawang,
pwah bentang kukus:
aksari ratnakusumah
aksari hning hinis jati,
aksari nwantwaña nika,
aksari gêng
aksari kalasan
aksari kagadipi,
aksari endah patala,
aksari seda jati,
aksari imbit jati,
aksari jlijlag sabumi, aksari
/5/ mlar, aksari gwada bancana, aksari sareseh sane ... ‘
Kata Sang Acilarang, “Duhai anakku Acikumara, berangkatlah kau, jika demikian dengan membawa amanatku ini: Rasa malas janganlah kausukai, karena memicikkan. Sebaliknya, kemauan haruslah kaubawa. Lagipula ada satu hal, Anakku. Janganlah kau sampai salah arah, janganlah menyeleweng.
Ada tujuh pohaci, yaitu
Pwah Sri Tunjungherang,
Pwah Sri Tunjunglenggang,
Pwah Sri Tunjunghnah,
Pwah Sri Tunjungmanik,
Pwah Sri Tunjungputih,
Pwah Sri Tunjungbumi, dan
Pwah Sri Tunjungbuwana.
Semuanya berada dalam kurungan dan masing-masing mempunyai apsari yaitu
Aksari Tunjungmaba,
Tunjungmabra,
Tunjungsiang,
Tunjungkuning,
Nagawali, dan
Naganagini.
Kemudian, agak terselang,
Pwah Sri Sarinyanawati.
Di samping itu, ada
Pwah Aksari Manikmaya,
Mayalara,
Atastilana;
apsari yang tiba, yaitu
Aksari Nikasi,
Mayati,
Padingin,
Kuduakeling,
Mayutumawa,
Janaloka,
Manwahirêng,
Madwada,
Kunti,
Titisani,
Kindyamanik,
Kanyawati,
Kemang, dan
Jatilawang.
Kemudian ada lagi yang disebut pwah bintang kukus, yaitu
Aksari Ratnakusumah,
Hening Hinisjati,
Nawang-tonya,
Gen,
Kalasan,
Kagadipi,
Rndahpatala,
Sedajati, dan
Imbitjati.
Kemudian ada lagi para apsari yang tugasnya berkelana di dunia, apsari yang mengembang, apsari yang suka menggoda dan mendatangkan bencana, dan apsari yang ramah ...’
Agar dapat memasuki kalanggêngan dan kembali, maka:
/7/ ... ñawana pêt mêcat sanghyang aci nistmên tina raga alit. Na raga ditunggwan ku bayu dewata hdap dewata sabda dewata. sakitu mana dipajarkön anggös cunduk puhun datang ka tangkal, katutuning bisa, katutuning durêg tan sida ka jati nistmên ya sida tan hana paran sida mwaksah tan patuduhan sira ta manggih tan parupa, tan pareka, tan pakatangan sanga tan bayu tan sabda tan hdap tan tutur tan swarga tan mwaksah tan lêpas tan hyang tan dewata tan warna tan darma ... ‘
(= Maka nyawa Sanghyang Acinistmên (=inti dari segala kebenaran) itu pun meninggalkan tubuh halusnya. Tubuhnya ditunggui oleh daya ketuhanan, ujaran ketuhanan, oleh tekad ketuhanan. Demikian itulah yang dianggap sudah sampai ke pangkal, sampai ke batang. Terkena racun, ter- kena dureg tidak mempan terhadap kesejatian yang sebenarnya. Jadilah tiada tujuan mencapai kelepasan tanpa petunjuk. Ia pun bertemu (dengan sesuatu yang) tanpa wujud, tanpa rupa, tanpa cerita yang sesungguhnya. Tanpa daya, tanpa ujaran, tanpa tekad, tanpa kisah, tanpa kebahagiaan, tanpa kelepasan, tanpa hyang, tanpa dewata, tanpa warna, dan juga tanpa darma‘)
KAWIH PANINGKES
Kawih Paningkês atau Kawih Panikis (KP) Perpustakaan Nasional (Kr. 419. ) KP terdiri atas 40 lempir daun nipah yang ditulisi kedua mukanya, kecuali lempir terakhir yang hanya ditulisi bagian mukanya. Itu berarti bahwa KP terdiri atas 79 halaman; halaman terakhir yang ditulisi dengan kalimat (...) drêbya larang nusödahan mo- mengesankan bahwa sebenarnya naskah itu belum selesai ditulis.
Namun, meng-ingat bahwa penggal kalimat itu terdapat pada halaman muka lempir terakhir, ketidakselesaian itu tidak dapat dianggap karena ada lempir-lempir tambahan yang hilang atau belum ditemukan. Kenyataan itu justru memberikan petunjuk bahwa nampaknya KP memang tidak terselesaikan, entah apa alasannya.
Sementara itu, jika kita perhatikan lempir pertama KP yang langsung dengan kalimat, luhur tan hana rahina wêngi, ada kesan bahwa seharusnya ada yang mengawali kalimat itu. Apalagi jika diperhatikan bahwa lempir itu tidak diawali dengan ciri yang biasa terdapat pada awal sebuah naskah, yaitu ciri baca pembuka, dugaan ini tentunya lebih kuat.
Dengan demikian, sekurang-kurangnya ada satu lempir bagian awal naskah yang tidak ada: mungkin hilang, mungkin sudah demikian rusaknya sehingga akhirnya “hilang” rangkaiannya.
KP nampaknya memuat embaran mengenai ajaran agama namun istilah2nya telah mengandung kosakata Sanskrta, diantaranya nama-nama dewa dan istilah dewa, dewata, sri, mahayoga, dan moksah, ditemukan bersama-sama dengan pohaci dan istilah yang dikenal dalam kebudayaan “asli” Sunda: wirumananggay, kahyangan, sanghyang, dan puhun .
Dalam KP terdapat gambaran bahwa pada waktu naskah dituliskan, ajaran pribumi rupanya dapat “mengatasi” pengaruh dari luar namun sebatas peminjaman istilah ke dalam bentuk pemahaman sepanjang ada pengertian setara
/19/ ... baruk da sang wiku lamun muja ka dêwata löngit kawikwana na pandita lamun samadi mihdap hyang dewata hilang na kapanditaan ja kassarkön katinöng sarwa dingan trisna trisna bala swarangan... ‘
(= Katanya, kalau wiku ‘pendeta’ memuja kepada dewata, hilanglah kewikuan-nya. Jika pendeta bersamadi (memuja) dewata, hilanglah kependetaannya, karena perhatian dan kecintaannya tergeser oleh kelakuannya sendiri’)
Yang sangat menarik dalam KP adalah peringatan menyatakan,
/22/ ... kitu urang janma ini ulah dek ingkah ti janma lamuntimu na janma mulah eta di- /23/ mana eta kana kilang mantuturkön jati swarangan nuturkön jalan nu bênêr hantö jalan dwa tilu nu trisna jalan sahiji tö aya ngenca ngatuhu ja datar kana tangkal masana tilas masana patêmönang hingan... ‘
(= Maka kita (sebagai) manusia janganlah bergeser dari kemanusiaan, karena sudah ditemukan manusia janganlah hal itu dijadikan alasan untuk menurutkan kesejatian sendiri. Mengikuti jalan yang benar, bukan dua atau tiga jalan kerinduan. Jalan yang tunggal, tidak ada belokan ke kiri ke kanan karena datar (lurus) menuju batang pohon bekas tempat yang tidak terbatas’ )
SêRAT DEWABUDA (SEWA KA DARMA berbahasa JAWA KUNA)
Sêrat Dewabuda (SDB) atau Sewakadarma, koleksi Perpustakaan Nasional (milik Brandes, Br. 638). Dalam koleksi naskah Perpustakaan Nasional dan berbagai tempat penyimpanan yang lain dapat diketahui bahwa cukup banyak naskah yang bernama Sêrat Sewakadarma yang umumnya ditulis dalam bahasa Jawa Kuna.
Katalogus naskah berbahasa Jawa yang kini merupakan khazanah bagian naskah lembaga di Belanda dan Eropa umumnya, disusun oleh Pigeaud (1960—2), misalnya, memberikan gambaran kepada kita bagaimana banyaknya naskah berbahasa Jawa dengan nama Sewakadarma itu.
Sewakadarma tidak terlalu banyak ditemukan hanya ada tiga buah, yaitu Sewakadarma (Br. 408), Sêrat Sewakadarma (Br. 637), dan Sêrat Dewabuda (Br. 638). SDB yang berbahasa Jawa Kuna itu dituliskan pada daun nipah, terdiri atas 129 lempir, sedangkan halaman-nya berjumlah 255 karena lempir pertama hanya ditulisi satu muka, sedangkan lempir terakhir kosong dan lempir sebelum akhir ditulisi satu muka. Dari kolofon-nya yang terdapat pada lempir 129-30, diperoleh embaran mengenai waktu dan tempat penulisannya.
Berdasarkan kolofon itu dapat diketahui bahwa SDB ditulis selama dua bulan, dimulai pada hari Selasa Kliwon bulan ketujuh, dan selesai pada hari pasaran Pon bulan kesembilan tarikh Saka. Walau tidak menyebutkan harinya embaran yang menyebutkan bahwa waktu itu“menjelang purnama terbenam” dapat dijadikan ancar-ancar untuk memperhitungkan bahwa naskah itu selesai ditulis sekitar tanggal 15 bulan kesembilan itu.
Menurut perhitungan tarikh Masehi, masa itu jatuh antara bulan-bulan Januari-Pebruari (kapitu) dan Maret-April (kasanga). Tahun penulisannya disebutkan tahun Saka 1357, bersesuaian dengan tahun Masehi 1435. SDB ditulis di sebuah lembah bernama Argasela, terletak di tepi sungai Mulutu, di antara dua gunung (Cupu dan Rantay) dan sebuah bukit (Talagacandana).
SDB termasuk yang mengandung ajaran bagaimana pandangan, sikap, dan kaidah-kaidah yang berlaku dalam kehidupan masyarakat, serta ajaran agama yang dianut sekurang-kurangnya oleh lingkungan yang menghasilkannya. Dari namanya diduga lingkungan yang menghasilkan naskah itu dalam kehidupan sehari-harinya telah mencampurkan ajaran-ajaran yang bersifat Hindu dengan yang bersifat Buda.
Di samping menyebutkan nama-nama dewa Hindu, SDB juga menyebut hal-hal yang khas ajaran Buda . Dalam kaitannya dengan moksa ‘kelepasan’, SDB mencatatkan,
/55/ ... dlaha ilkaning mati ata yan kapangguhênta ikeng kamoksan. an-panglinari sunyataya. Misra butasêt myawayawa. Irikang aparamarta. ya ta sinangguh aparamarta ngaraña. ya moksa lpas lingña. ikan sunyataya kinawruhan pwaya apan katon pweking aparamarta apa ta menak nikan sêngguhênta moksa lawan kamoksan apan katon pwa ikan alilang ahning nirawarana langgêng nira sraya kasparsa ikang aparamarta iken bayu langgêng ndya ta matangyan moksa ika
(= Langgeng hingga ajal jika dapat kautemukan kelepasan itu. Katakanlah sebagai sunyataya, bergabung yang hidup di luar, ke dalam aparamarta ‘ketidak-benaran’. ltulah bertemu dengan ketidakbenaran namanya, mencapai moksa lepas katanya, menuju sunyataya. Hal itu diketahui, karena terlihat sebagai ketidak-benaran. Apakah merasa senang jika kautemukan moksa dan kelepasan itu? Apakah terlihat tiba-tiba, hening dan suci, kekallah kebebasan itu. Terasalah ketidakbenaran itu, udara yang kekal. Manakah kemudian yang disebut moksa ...‘)
CARITA PARAHIYANGAN
Carita Parahyangan (CP) merupakan sebagian Kr. 406 koleksi Perpustakaan Nasional. digoreskan pada 47 lempir daun nipah, setiap halaman bertuliskan empat baris.
Berlainan dengan lima naskah yang berisi embaran kehidupan keagamaan, kemasyarakatan, dan pengetahuan, CP lebih bersifat naskah sejarah, walaupun untuk menjadikannya sebagai sumber sejarah masih memerlukan kajian yang teliti dan hati-hati. Embaran CP berkenaan dengan kisah dan perkembangan kehidupan politik di wilayah Parahyangan sejak masa awal (sekitar abad ketujuh) hingga keruntuhan kerajaan Sunda tahun 1579. Naskah itu ditulis pada waktu unsur Islam sudah mulai masuk ke dalam kehidupan masyarakat Sunda, dibuktikan antara lain dengan dikenalinya dua patah kata Arab, dunya dan niat, di samping penyebutan Islam dengan sêlam (Aca 1968:11).
Sehubungan dengan jangkauan isinya itu, hingga saat ini pada umumnya para pengaji naskah bersepakat menduga naskah CP ditulis dalam tahun 1580. Kepastian itu menjadi kian kuat setelah ditemukan naskah Carita Parahyangan (4 jilid) karya Pangeran Wangsakerta (Cirebon) yang menyebutkan bahwa karyanya itu didasarkan pada naskah CP yang berbahasa Sunda.
Hal yang berkenaan dengan kehidupan keagamaan, antara lain ditemukan pada bagian awal, ketika terjadi pergeseran agama pada masa pemerintahan Sanjaya (723-32). Menjelang penyerahan kekuasaan kepada anaknya, Rahyang Tamperan, Sanjaya menganjurkan agar anaknya beralih agama, karena dengan agama yang dianutnya ketika itu, Sanjaya menyebabkan orang menjadi takut:
/14/ ... haywa dek nurutan agama aing, kena aing mrêtakutna urang reya ... ‘...
Janganlah mengikuti agamaku, karena dengan itu aku ditakuti orang banyak’ (Poerbatjaraka 1958:259).
Nampaknya sejak itu kedua agama tersebut bersama-sama berkembang, dan saling lengkapi serta saling isi bagian-bagian yang mungkin dirasakan sebagai kekurangan.
Pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja (1482-1521) ada embaran mengenai pedoman hidup /19/ ... tan krêta ja lakibi dina urang reya, ja Ioba di sanghiyang siksa‘ Tidak merasa aman yang berkeluarga di lingkungan khalayak karena mereka yang melanggar Sanghyang Siksa’
Cag-peun
Ronggeng Tujuh Kala Sirna IV
Urang tunda sing waspada ……. !(51)
Urang teruskeun !
Peuting éta, Rakéan ngendong di babakan leutik. Rupa-rupa pikiran jadi pikiraneun inyana. Eudeuk tatanya, budakna anggeus héés !
Caturkeun baé isukna !
Inyana jeung éta budak narindak la Ci Dadap … mapay sisi basisir ka wétankeun, nyabrang cai ngojayan walungan, asup leuweung ka raura leuweung, unggah pasir turun pasir, mapay-mapay sisi gunung… sabari ngagandong budak !
Ceuk budak : “Di leuweung tadi, geuning euweuh kerud ?”
Ceuk Rakéan : “Euweuh !”
Ceuk budak : “Di rancah itu, euweuh jurig ?”
Ceuk Rakéan : “Heunteu !”
Ceuk anu digandong : “Bapa teu sieun jurig ?”
Ceuk Rakéan : “Henteu”
Ceuk anu digandong: “Kunaha hanteu sieun ?”
Ceuk Rakéan : “Batur !”
Ceuk anu digandong, sora inyana sora heran, anu héran eujeung kaeueung : “Bapa ogé jurig ?”
Ceuk Rakéan sabari mesem : “Lain ! Jelema biasa, cara bapa nyai ! Saha bapa nyai ?”
Ceuk anu digandong : “Bapa nyai mah euweuh !”
Ceuk Rakéan : “Ka mana ?”
Ceuk anu digandong : “Ceuk Ambu, inyana keur nyaba jauh !”
Hate Rakéan séjén deui rasana, ceuk pikir inyana : “Mun kieu, lain anak Nyai Putri !”
Laju ceuk inyana : “Ngaran Ambu dia saha ?”
Ceuk anu digandong : “ Aaaaaambu !”
Ceuk Rakéan : “Ngaran inyana ?”
Ceuk anu digandong : “Heueuh, Ambu !
========================
Caturkeun baé, geus narepi ka muhara Ci Mandiri, sabrang kalér anu ruhur. éar anu nareuleu : “Kapanggih, batur, kapanggiiiiih ! Nyi Putri leutik kapanggih …. !”
Ceuk anu harayang nareuleu : “Mana …. mana ?”
Ceuk anu nareuleu : “Tah ! Di sabrang kalér “
éar sasisi lembur : “ Heueuh, tuh, digandong !”
Rakéan diparapagkeun, laju disarabrangkeun sabari ngagandong kénéh, disabrangkeun dina bandungan !
Ceuk anu nyabrangkeun, saurang : “Huh !”
Ceuk batur inyana saurang : “Haaah ?”
Ceuk anu tadi sabari haréwos : “Jiga monyét !”
Ceuk batur inyana : “Heueuh, joré jasa. Jiga lutung !”
Ceuk saurang deui sabari nulak bandungannana digancangkeun, jeung sora anu keueung : “ Boa jurig ti Coblong….!”
Anu nyarabrangkeun laju kareueung, narulak bandungannana digarancangkeun jasa… can ogé bandeungan adek pisan ka sisi, arinyana geus ting aracleng laju lalumpat gancang jasa ….
éar anu marapagkeun. Tétéla ka Rakéan, anu digandong téh puguh anak Nyai Putri Purnamasari. Haté Rakéan atoh jasa… Bari nangkeup pageuh heula, inyana ngécagkeun anu digandong! Rakéan atoh kabina-bina. Sakali deui inyana nangkeup Nyi Putri Mayang Sagara, nangkeup nyaah deudeuh jasa, sabari ngusap-ngusap bari calimba…..
Nyai Putri leutik laju tereleng baé lumpat, mulang diiring ku nu lalumpat di pandeuri …. Diringkeun barudak loba, nu ngiringkeun sabari lumpat, jeung ku kolot-kolot sabari lumpat, ku aki-aki sabari lumpat, mun lumpatna pararétot.
(52)
jeung ku nini karudang iteuk nu lumpatna dalugdag-daligdeug…..!
Ngan Rakéan anu hanteu lumpat. Inyana mah ngagidig biasa, alak-ilik sabari nindak … Paaaaangling ayeuna mah ! heueuh, bener geus kebel miang ti Ci Dadap téh ! Inyana inget kénéh lebah-lebahna imah Nyi Putri lebah panyimpangan anu aya katapangan ! barang inyana nepi, Rakéan bener pangling. Sabab imah nyi putri anggeus séjén …. leuwih gedé leuwih alus. Sakurilingna dipageran berenuk jaradi kerep. Pakarangannana lega, bararesih jeung caraang, hanteu dipelakkan. Ngan loba tatangkalan pangiuh-ngiuh ! Jeung Kamuning jeung kembang Dayang, ngajajar rapih dipelak !
Inyana eudeuk asup, tapi ku kokolot anu harita jeung jelema loba ngagarimbung ruareun pager, inyana hanteu meunang.
Ceuk Rakéan : “Kunaha ?”
Ceuk kokolot anu pangkolotna : “Mantak kasiku ! Pakarangan Puun mah, sangar. hanteu beunang ditincak sambarangan suku!”
Rakéan eudeuk nyebut ngaran inyana, tapi kaburu inget talatah Ki Léngsér “Hanteu meunang aya nu nyaho, saha sia, naeun sia !”
Ceuk Rakéan : “Tah., atuh ! Kujang Nyai Mayang Sagara. Kujangna mah, béjakeun Kujang Rakéan !”
Najan inyana hayang jasa papanggih jeung Nyi Putri Purnamasari, inyana hanteu jadi. Laju inget sumur haur, sumur haur pamunjungan, nu baréto inyana ngadegkeun ! Inyana nindak. Keur inyana deuk sibeungeut, méméh unggah ka pamunjungan, dina kobak hérang caina, beungeut inyana kadeuleu cara dina eunteung ! rakean reuwas jasa ! Inyana sedih jeung nalangsa, neuleu rupa inyana joré kabina-bina ! Inyana ceurik … sedih mani nyeletit, ci mata inyana nyarakclakan keuna kobak hérang caina ….. Ras inget ka omong Ki Léngsér, inyana téh keur mudu maké kedok …..
Kacaturkeun Rakéan munjung di pamunjungan. Inyana hanteu nyaho dideuleukeun ku anu hanteu kadeuleu, teu kadeuleu ku mana manusa di raga jelema !
Ceuk pikir anu neuleukeun, anu neuleukeun hanteu kadeuleu : “Saaaaha éta téh ? Asa ku coooop keuna haté !!!!” Laju inyana némbongan, dina rupa waruga nini-nini, anu kolot mani bongkok, nu buuk ngan huis wungkul, bujigjrig aut-autan …..
Ceuk inyana ka Rakéan : “Saha Dia ? Ti Mana ?”
Ceuk Rakéan : “ Kula mah teu boga ngaran. baheula mah ti Pajajaran!”
Ceuk Nyi Putri Arum Wiyaga anu ngarupakeun nini-nini : “Basa baheula di Pajajaran, tangtu dia boga ngaran !”
Ceuk Rakéan : “ Nini, baheula mah jaman kaliwat. Di Kiawari jaman ayeuna, di jaman keur dilampahan, ngaran kaula anu baheula, geus lebur kaluluh waktu, geus hilang diusap papastén! Ngaran anu kiwari, kumaha karep anu nyebutna, sebut monyét, hampék ! Sebut kunyuk, hanseug. Moal kula eudeuk nyeri keuna haté, da puguh di kieu rupa!”
Ceuk anu dina rupa nini-nini : “Basa dia, cara kalakay ditebak barat! Sora dia, cara pulek curug dina sedong ! Naeun sabab kitu ?”
Ceuk Rakéan : “Sababna, kaula hirup jadi jelema nu gelarna kabagéan, mudu malang dina bagja, mudu nyukang mapay lara. kaula keur ngalalana, dititah nyiar tarataseun jalan pieun nu nyusul.
(53)
Nu teu sabar nanggoan jaman, ngarep-ngarep datangna wayah, peunggasna caringin kurung disayangan manuk sabrang, jeung karapyak tinggal saralak, anggeus diruksak banténg coréléng !
Kaula mah mudu mapak raja :
anu anggeus diparunggu ka heulang sabrang,
dipindahkeun ka hulu banténg !
Kaula mudu nyaksian :
Banténg ngamuk nguwak-ngawik,
ngabuburak raja panyelang
nu karanceuh lila teuin
jeung arédanna kamalinaan !
Ceuk anu ngarupa nini-nini : “Mantak naeun dina dia ngalalana, dia maké ngaran dia anu baheula ? Abéh kabéhan pada nyaraho !”
Ceuk Rakéan : “ Moal eudeuk jadi guna, ngalulungkut anu geus undur ! Sabab ceuk carita kolot baheula :
Engké mah ka hareupna, euweuh ngaran anu maneuh, hanteu kaeur ditukeur-tukeur, gunta-ganti sina murilit, pabeulit euweuh nu ngarti…!
kaula keur nyiar ngaran anu hadé dibawa paéh !”
Ceuk anu ngaruipa nini-nini : Anu hadé kadéngéna ? Atawa anu hadé dina hartina ?”
Ceuk Rakéan : “Anu hadé ingeutaneun !
Sabab anu hadé dina déngé, can tangtu hadé dina harti !
Anu hadé dina harti, can tangtu hadé balukarna !”
Ceuk anu ngarupa nini-nini : Mun cara baheula ? Maké Ciung, maké Manara ? Kumaha amun Ciung Panungtung, atawa Wanara Minda Kalang ?”
Ceuk Rakéan : “Ngaran kitu mah, ngan hadé pieun dina carita, pieun lalakon kosong euweuh toongeun. Pieun dongéng anu ramé, tapi réHé ku bukti baris ngajadi ! kaula hayang ngaran : Anu napak dina rupa, anu teu sulaya ti pangabisa ! Anu teu pondok diheureutkeun, anu ngeusi dina harti, eujeung manjang dina jaman, anu pantes dijajarkeun dina tepas diamparan siloka!
Heueuh, rupa kaula, rupa lutung ! Mun maké lutung ?”
Ceuk anu ngarupakeun nini-nini : “Heueuh ! Tapi kumaha ngarékana abéh alus ?”
Ceuk Rakéan : “Kula moal nurutan anu ngan raresep pupulasan ! Sanajan kituna disababkeun paréntah jaman ! kaula sanggup hirup dina adegan anu wajar ! Rupa kaula, rupa lutung. Ti seret poé ieu, ngaran kaula : Ki Lutung ! Moal ditambahan naeun-naeun deui”
Rakéan laju pamitan ……Inyana nindak deui, undur ti Sumur Haur Pamunjungan, di deuleukeun ku nini-nini anu malik deui jadi geulis, jadi deui Putri Bidadari Arum Wiyaga anu ngileus deui di pamunjungan …. nanggoan wayah miang ditéang …..
========================
Tunda ! Anu geulis hanteu kadeuleu, deuleueun engké ka hareup !
(54)
Urang tuturkeun Rakéan nindak. Mimiti terus ka tonggoh, mapay pasir turun unggah, ka bobojong anu loba kopo, di mana engké jaga baris ngadeg lembur nu sangaran,di lebahan urut Rakéan reureuh heula pieun noong ka anu paroho ka inyana. Ti dinya inyana nyabrang walungan anu saban walungan anu saban caah carang kiruh ka girang-girangna ! *)
((*Ngaran lemburna = Bojong Kopo, Ngaran walungannana = Cidadap))
Amun engké wahangannana dicukangan beusi papalang, laju batu batuna dipaké ngabalay tambak mapay sagara, tah éta totondénna anggeus parek keuna wayah datangna jelema gagah tengah édan, ngaur-ngaur duit jadi panyakit, ngabulungbungkeun jalan gedé tapi suwung, ngagara-garakeun ramé masar di palabuan, tapi ngusir loba urang palabuwan pararindah masisian !
Rakéan nindak deui, nepi ka hiji gawir anu panjang malipid pasir. Inyana nepi ka hiji lebah anu tangkalna wungkul Ki Sampay, dijarieun enggon nyarampay sagala rupa anu bisa nyampay : Oray sanca sagedé-gedé catang kalapa, kalong-kalong sagedé bagong, areuy-areuy sagedé-gedé beuteung, monyét-monyét sagedé-gedé…. monyét garedé…. ngan poé popok jeung poé cangcut, harita mah can nyarampay !
Engké jaga, amun dilolongok pamoyaman maung, diadegkeun saung panoongan, tah éta totondénna baris loba anu ngarep-ngarep : Témbong beureumna matapoé nu surupna pieun nu jaya, nu bijilna pieun nu sedih!
Gawir panjang mapay pasir, kiwari aya kénéh. Di dinya engké jaga baris aya babakan anu maké ngaran SAMPAY. Tina éta saung panoongan, engké ku anu naritah nyararieunna, baris katoong datangna wayah ngadak-ngadak, arinyana marudu mulang, marulangna dihogor-hogor monyét karonéng.
Rakéan nindak terus, ngunggahan Gunung Porang, ngaliwatan Gunung Rompang, malipid ka Gunung Bongkok ….., urang caturkeun baé inyana geus nepi ka Gunung Mandalawangi salebakkeun Gunung Sang Hiyang Purwa anu kiwari dilandih ngaran, disarebutna GUNUNG GEDé.
Caturkeun baé, inyana geus aya di pamunjungan, tonggoheun SITU TALAGA WANA, laju alak-ilik … kadeuleu aya areuy gedé anu mébér jiga ayunan tina samping, jiga ayunan paranti ngayun orok ! Jeung kadeuleu dina mémébérna anu rubak, aya nu keur héés sabari ayun-ayunan ! Anu héésna buuk panjang kabéh bodas ! halis … bodas ngaroyom panjang, kumis … bodas panjang ngambay ka dada, janggot bodas pabeulit jiga sayang beurit ! tétéla héés inyana geus kebel jasa !
Pikir Rakéan : “Moal salah, anu kieu yeuh Ki Mulangpurwa téh ! Heueuh ceuk kolot anu karolot, ulah ngandelkeun sagala ka anu karolot. tah geuning rupana ! Pagawéan sakitu lobana, ditunda héés sakitu lilana!
bener heueuh ceuk anu karolot, sagala anu ka hareup, mudu digarap ku anu ngarora!” Ceuk Rakéan sabari neukteuk areuy : “Hudang, Lot, hudang!”
Areuyna pegat, anu héésna murag, nampuyak cara buah picung anu dalu. Inyana eudeuk hudang, tapi pajeujeut keuna jenggot ! Laju ngorondang, angkuh inyana eudeuk narajang … popolotot sabari nyanggéréng. Ngan ku Rakéan kaburu kabetot bulu korong inyana … mani ngabaung !
Ceuk anu deuk narajang : “Bangka warah ! Siah !”
Ceuk Rakéan sabari ngagulung udud dun kawung, : “ Kula ? Ki Lutung! Hayu ah, geura hudang !”
(55)
Sabari mageuhkeun samping dina cangkéng, anu ambek deuk narajang deui. Tapi ku Rakéan laju disépak, nyepakna sabari jongjon ngagulung udud! Anu ambek, tambah ambek. Sabari nyanggéréng, inyana narajang bari ngorondang. Tapi ku Rakéan kaburu kacekel punduk inyana, jeung irung inyana dijejelan kaul nu keur hurung !
Ceuk Rakéan : “Disundatan, siah !”
Ceuk anu narajang sabari ambek : “Tobaaaat, Ki Lutung, tobat!”
Ceuk Rakéan : “Sieun ? Disundatan ?”
Ceuk anu totobatan : “Lain sieun dikampakna. Sieun sotéh moal karasaeun deui beubeur panyumpelna…. Naha sia wani calutak ka karuhun ? Saha Sia ?”
Ceuk Rakéan : “ Aaaaanggeus Ki Lutung ! Tatanya kénééééh ! Deuleu, geus wayah kumaha yeuh ?”
Ceuk anu totobatan sabari nepak-nepak dada : “Ngaran Ngaing Ki Mulangpurwa ! Tah ieu, ieu yeuh karuhun tonggoheun Talaga Wana. Kabéh euweuh anu waranieun ka ieu karuhun mah !”
Ceuk Rakéan : “Deungeun-deungeun teu waranieun. Kaula mah hanteu sieun. Tah deuleu !” Rakéan ngomong sabari ngebulkeun haseup udud ka beungeut Ku Mulangpurwa anu laju kabesékan manu pependelikan !
Ceuk Rakéan : “Hayuh, geura mandi di talaga !”
Ki Mulangpurwa ngahunted baé. Ku Rakéan inyana disépak deui. Nyépakna cara nyépak runtah dikasisieun, bari ngomong : “Deuk mandi moal ?… Jadi yeuh disundatannana !”
Ceuk Ki Mulangpurwa : “Lain embung mandi, embung sotéh ku baseuhna !”
Ceuk Rakéan : “Ari embung mandi mah, sibeungeut atuh ! Tuh, di mata cai di Dungus tepus nu ayana di juru talaga beulah wétan, ruhureun enggon ka ruar haseup ti jero cai ! Kumbah tah mata dia abéh ku dia kadeuleu : Ieu téh wayah kumaha ? jeung abéh dia neuleu, saha anu undur, saha anu aya, jeung saha nu baris datang!”
Ceuk Ki Mulangpurwa : Tobaaaat ! Mun kieu mah, dia téh leuwih ti karuhun. Sabab dia nyaho sagala rasiah Pajajaran ! Sampuraaaa kaula tadi nyia-nyia !”
Ceuk Rakéan : “Kaula hanteu nyaho di rahiah-rasiah Pajajaran. Sabab kaula lain karuhun !”
Ceuk Ki Mulangpurwa : “Geuning dia nyaho anu ngan karuhun anu nyaho. Nya éta mata cai anu disebut CADAS PAMELONGAN téa !” Apan éta téh ngan paranti engké sibeungeutna para ipri jeung para karuhun anu marudu nyaksian ngadegna RATU ADIL anu SAéSTU!”
Ceuk Rakéan : “Amun dia ngomong baé, ieu lalakon panjang teuin, Hayuuh geura turun ari embung diteukteuk tulalena mah!”
Ki Mulangpurwa laju turun, keuna leuweung tepus anu bala, mapay gawir anu lukutan anu leueurna kabina-bina…. tapi sabab sieun ku nu tulak cangkeng neuleukeun di tonggoh, nya inyana nepi-nepi ogé ka juru talaga ruhureun caina ngebul baé. Laju deuk sibeungeut, tapi caina laju orot ! Liang mata cai anu aya dina batu beureum anu nonjol, ku inyana ditutupan ku irung inyana. Barang inyana cengkat, nyebrot cai jiga diburakeun kenceng jasa, nyemprot ka beungeut Ki Mulangpurwa anu kareuwasan meh baé ngajeblag keuna talaga.
Bray ku inyana kabéh kadeuleu teges : Sakur anu aya nu ngajugrug
Sakur anu aya tapi hanteu ngajugrug, anu deukeut, anu jauh, anu deukeut aya kénéh, jeung nu deukeut anggeus liwat, anu jauh rentang-rentang ti nu anggang baris datang dina jaman bakal kasorang !
Ceuk inyana bari gogodeg : “ Aduh, aduuuh…. baruk geuning kiiieu…..!”
Inyana ngalieuk ka Rakéan anu dina sisi gawir keur cangogo dina tunggul, keur ngelepus ngudud dun kawung !
(56)
Ki Mulangpurwa gogodeg deui, laju nyampeurkeun Rakéan. Sabari nyuuh, inyanha numpangkeun suku Rakéan kana hulu. Tapi sukuna ditarik deui ku Rakéan sabari ngomong : “Ngarah kula katulah ? najan hulu dia jiga sabut kalapa ogé, lain pieun ngésédkeun suku kaula !”
Ceuk Ki Mulangpurwa bari nyembah acung-acungan : Tobaaaat karuhun ! Ngan dia anu ku kaula hanteu kadeuleu teges ! Tétéla, dia téh karuhun najan hanteu jabrigan ogé ! Sabab dia mah, Sebuuuut jelema, da sagala nyaho !
Sebuuuut kalangkang, da ngawaruga ! Sebuuut ngawujud, da hahalimunan ! Naueun atuh seja dia, putra déwaaaa……….. !”
Ceuk Rakéan : “Kaula keur nyiar jalan anu samar, nutur galur nu geus lebur, mapay lacak nu geus hanteu katara ! Kaula mah ngageuing anu hanteu aréling, keur sarasar kamalinaan ! Mudu nitah dia sasadia pieun ngadegkeun Lawang Sakéténg ! Coba ayeuna pangdeuleukeun, wayah iraha mudu kaula muka kedok?”
Ceuk Ki Mulangpurwa : “Kadeuleuna, dia mudu nanggoan heula loba wayah di sababaraha jaman. Dengekeun ! Amun engké jaga aya anu ngararang atawa ngarobah carita pantun Pajajaran, masing dia nyaho, tah I n y a n a anu jadi raja Panyelang. Tah Inyana pisan MUSUH SUNDA PAJAJARAN. Buka kedok inyana ! Laju datang engké wayah : Somah ditaritah nyarambat Karamat, Laju ditaritah nyunyuhun jimat, ditaritah ku tukang sunglap !
Anu jaradi tungkang suinglapna ? Nya inyana anu nyarieun sagala loba. Loba bapa, loba aturan:
Anu ngatur mudu ka kalér,
Anu ngatur mudu ka kidul,
Anu ngatur mudu ka kulon,
Anu ngatur mudu ka wétan,
nepi ka loba aturan pabeulit aur-awuran !
Sabab anu jaradina bapa, lain bapa anu ngatur, lain bapa-bapa anu nyaraho aturan, tapi bapa-bapa anu ngalangkahan kabéh aturan, narindakna nyompor ka kolong …. !
Ceuk Rakéan : “Naeun sabab nyarompor ? Nyaromporan aturan !”
Ceuk Ki Mulangpurwa : “Barudakna barangor”
Ceuk Rakéan : Sabab barangorna ?”
Ceuk Ki Mulangpurwa : “Bapa-bapana nyarontoan!”
Ceuk Rakéan : “Lajuna ?”
Ceuk Ki Mulangpurwa : “Ku lobana aturan, lobna aturan hanteu jaradi deui aturan. Laju anu ku dia geus dibaruka kedok, ngatur séwang-séwang maruka deui kedok ! Sing waspada, sabab dina kedok anu anyar, maranggung deui anu harayang ngajungjung ngaran SUNDA, tapi DINA SEJA PIEUN NGABEUBEUTKEUN bangsa SUNDA ! Arinyana maranggung di wayah karancolahna anu hanteu bareunang diélingan ! Bukaan kabéh kedok arinyana. Sabab jagat geus ménta dilokat ! Tah, di wayah panglokatan jagat, wayah dia muka kedok …..!”
Laju Ceuk Rakéan : “Lot ! Déngékeun ! tanggoan di dieu. Kaula deuk ka lebak deui, ka Leuwi Ki Pataunan. Deuk nyokot makuta raja. Ku Kaula deuk dibalangkeun ka dieu. Sanggap ku dia, laju sumputkeun di dasar talaga. Ulah aya anu nyaho lebah-lebahna, séjén ti dia sorangan. Sing buni, kaula ogé teu meunang nyaho ! Sanggap ku dia. Amun hanteu kasanggap, éta makuta baris ngarungkup hulu dia ! Moal beunang dibuka deui !
(57)
Moal beunang dibuka deui, sabab ngarungkup nepi ka beuheung! Sanajan hulu dia nyunyuhun makuta ogé, dia mah moal jadi raja, sabab boro-boro deuk neuleu, ngomong jeung ambekan ogé, moal dia eudeuk bisa ! Boro-boro jadi raja, nyatu géh moal dia bisa !”
Ceuk Ki Mulangpurwa : ”Inggih !”
Ceuk Rakéan : “Tah geuning kara géh sibeungeut, geuning geus tambah pangabisa!Tapi leuwih hadé dia terus ngomong urang baé, beusi létah dia jadi heuras ! Tanggoan. Sanggap sing hadé, sumputkeun sing buni ! kaula nindak ….. !”
Rakéan laju nindak, nindak ka lebakkeun, ka leuwi Ki Pataunan. Ka leuwi anu baheula…..
Sanindakna Rakéan, Ki Mulangpurwa gogodeg baé, bari ceuk inyana: “Anu tadi téh, mooooal kituh keur nyilok deui baé ? Sabab anu nyaho éta mata cai mah, ngan duaan. Nya éta : Sang Hiyang Léngsér jeung ….. tukang pantun ! Anu sok nyingsieunan nyundatan téh, ngan tukang pantun. Tapi anu tadi mah, bau inyana séjén deuuuuuui…., jeung hanteu katimu ku pangdeuleu anu tadi mah ! Boa-boa heueuh Hiyang Léngsér ! Da ku inyana mah, montong teuin di pantar ngaing, Hiyang HANDEULAWANGI ogé, mindeng kasilok ku duwa lengser: Léngsér Kahiyangan jeung Léngsér Kawah Hiyang, anu dua tapi hiji, anu hiji mindeng misah …. ! Mending amun nyilokna dina Hiyang Léngsér Kahiyangan, tapi amun nyilokna dina Léngsér Kawah Hiyang, cilakaaaaa baé cindekna sakabéh Hiyang-hiyang jeung karuhun ! Dasar Sang Hiyang Léngsér mah, Sang Hiyang Buruuuuuuung….. !”
Ki Mulangpurwa anu jadi karuhun satonggoheun Talaga Wana, laju tangogo bari kukulutus dina bogor sisi gawir, nanggoan makuta ragag…. !
========================
Tunda !
Keun sina cingogo, dina tunggul kawung sisi gawir, sina nyanggap makuta murag, nu ragagna ampihaneun, teuleumaneun ti talaga …. talagana dina rasa tina haté nu rancagé ……..!
Urang mah ulah nagog kukulutus ! Urang tuturkeun Rakéan …..
Caturkeun inyana anggeus aya di lebahan kiwari ayana lembur MéGA MENDUNG, Mégamendung beulah kidul.. nu mendungna lain angkeub, tapi mendung nu deuk bédah ti beulah wétan ! Ti lebah dinya kadeuleu teges lapat-lapat di kajauhan, lebah dayeuh nu geus euweuh … tapi najan euweuh, kadeuleu teges di katineung ! Dayeuh Pajajaran bener anggeus musna … ngan kari urutna wungkul anu hauk jiga rarahan, tapi… najan lapat-lapat, tetep ngadeg dina angen ! Rakéan ngenes…. gemes… tapi eudeuk kumaha ? Saha anu bisa ngahalang-halang tutunjuk waktu, tatarajangna jaman ?
Saha ?
Mémang alam bisa dipénta supaya nurutkeun kahayang jelema, buktina, najan bisa disarang, halodo bisa dipatok, manuk ungkut-ungkut mah karahan, bisa dijurung eunteup sina ngagendam, mawa pélét deukeut ka soré, maut-maut haté nu di jauh …. !
Mémang, jelema bisa NGAROBAH alam. Buktina, gunung-gunung diwuwuda, abéh saraat walungannana…. Alam mémang jiga bisa diparéntah ku jelema. Tapi saha anu boga rasa geus bisa marentahna, mudu nyaho datangna pamulang, inyana baris diparéntah ku alam !
Jelema anu kitu embung nyaho, manusa téh bagian tina alam. Tapi ku pangawéruh, inyana kapangaruhan ku angkuh anu jadi kasombongan anu misahkeun inyana ti jero kalangan alam ! Jelema kitu, embung ngarti, alam téh lai bagian ti inyana, tapi
(58)
inyana téh, bagian kabogana alam …….. !
========================
Rakéan nindak deui, ngaliwatan ka lebahan nu kiwari aya lembur sisi Ci Jayanti …. ka Nagrak anu baheula … laju ka Bantar kemang nu harita acan aya….. Inyana alak-ilik deui …. teges kadeuleu anu baheula disebut alun-alun Tanjung Salikur,… tapi anu harita kadeuleu Rakéan, tanjungna euweuh salikur. Ngan kari opat anu anggeus baréto kabarerang, daunan deui kembangan deui …..
Teges kénéh kawauhan, kulah-kulah di taman anu baréto disebutna Taman Mila Kancana… anu harita mah ku Rakéan témbongna jiga pamuruyan tengah rarahan ! Kulah-kulahna loba anu bédah, pinuh jujukutan anu jarangkung. Ki Pahit jeung Suket-rawa… taratena mah anggeus paraéh ! Gintung anu tujuh narangtung kénéh dadaunan deui … ngan dayeuhna … kari ngaran di urutna, kari sebutan dina carita…..
Ancal-ancalan di dieu di ditu, aya imah saung sababaraha, dina taneuh urut dayeuh anu harita sabagian jadi huma…..
Inyana laju nindak deui ka leuwi anu harita mah aya kénéh, nu legana jiga talaga jeung ngaranna LUEWI KI PATAHUNAN… jeung kiwari moal aya anu nyaho di mana lebah-lebahna…. sabab Leuwi Ki Patahunan Pajajaran, ayana di talaga panjang nu ngaranna TALAGA KAMALA- REUMA – WIJAYA anu kiwari mah kari urutna… nyanghulu ka BANTAR PEUTEUY, nunjang ka lebak Pilar.
Rakéan laju nyiar hantap anu sapasang handapeun jabon gedé anu doyong… nyiar lebah nu aya sodongna, palebahan cayotan buburialan… nu nyeot ka jero taneuh, sabari ngaguruh cara curug ….. Inyana nyiar di lebahan anu geueuman, anu keueungna mantak ginggiapeun anu teu ludeung. Tapi Rakéan mah hanteu keueung ! Sabab inyana mah nyahoeun doi wayah jeung di kumahana mudu asup keuna sodong ! rakean teuleum…. teu kungsi sabaraha kebelna, inyana timbul deui, sabari nyunyuhun makuta alus jasa. Makutana tina emas, diukiran kembang tanjung, jeung tarate nu kuncup kénéh, ditarétés ku permata gugurilapan.
Barang inyana eudeuk hanjat, inyana kadeuleu ku anu keur nguseup di beh girang. Rakéan deuk teuleum deui, tapi kaburu disampeurkeun.
Ceuk nu nyampeurkeun : “ Naeun tah ?”
Ceuk Rakéan : “Makuta!”
Ceuk nu nyampeurkeun : “Makuta naeun ?”
Ceuk Rakéan : “Emas!”
Ceuk nu nyampeurkeun : “Lain kitu, anu saha ?”
Ceuk Rakéan : “Barétona boga Raja Pajajaran ! Tapi ayeuna mah, kaula anu boga!”
Ceuk nu nyampeurkeun : “Kadieueun ?”
Ceuk Rakéan : “Ku naha ?”
Ceuk nu nyampeurkeun : “kadieueun baéee ! Sabab kaula anu bogana! Sabab ieu nagara geus lain bogana deui Raja Pajajaran, tapi bogana raja séjén! Kaula di dieu bopatina !”
Ceuk Rakéan : “Ti mana datangna maké jadi bopati?”
Ceuk anu hayang makuta : “Ti wétan!”
Ceuk Rakéan : “Asa ku hanteu merenah ! Hanteu jiga !”
Ceuk anu hayang makuta : “Kiwari mah, lain teureuh anu dipilih. Tapi kabisa. Ari kabisana mah, naeun baééééé….!”
Ceuk jero pikir Rakéan : “Pantes deuk sagala-gala aut-autan ogé !” Laju Ceuk inyana : “Baheula mah, bopati téh ukur bener-bener rarupa menak téh, dimudukeun
(59)
mudu pinteur, tapi dia mah, kadeuleuna rada béda !”
Ceuk anu nyampeurkeun méntas nguseup téa : “Tétéla sia lain urang dieu ! Lain somah ngaing ! Sabab can neuleu di dieu aya anu sajoré sia ! Sia ka dieu tangtu eudeuk babadog !”
Rakéan eudeuk ambek, tapi nahan heula. Laju ceuk inyana : “Sora joré patut mah, teu mantak naeun-naeun ! Tapi amun rupa pangagung nyeples tukang nyadap tuak, asa-asana téh moal béda keuna maréntahna…..!”
Bopati anu resep nguseup, anu hayangeun makuta jeung rupa inyana jiga tukang nyadap, nya karuhan inyana ngambek. Laju narajang, der gelut, gelut… garelut marebutkeun makuta, garelut sabab séwang-séwang rasa dihina ! Rosa jasa garelut arinyana, sabab bopati éta jawara wétan anu ku raja wétan dijenengkeun bopati. Saba dina urusan sinembah anu anyar, inyana loba jasa pangawéruh, jeung ku galak kabina-bina, inyana dipikasieun sakabéh somah ! gagah jeung sakti mapadan JAYA ANTéA.
Urang caturkeun garelutna. Gelut jaman baheula mah, beda ti gelut jaman kiwari, komo gelut dina carita pantun mah ! Baheula mah, ari gelut téh kacaritakeun nepieun aya poéannana…. ledeg taneuh urug gawir, rarungkad jeung tatangkalannana !
Rakéan geus kadéséh, sabab mudu gelut sabeulah leungeun. Da anu kenca mah nyekelan makuta. Barang inyana keur dicekék, inyana ngaleupaskeun makuta. Makuta dirontok bopati ! Harita kénéh, makuta ku Rakéan disépak kenceng jasa, mecleng ka tengah-tengah leuwi. Nyépakna dibarengkeun jeung neunggeul puhu ceuli musuh, disusul jijekan anu nenggel keuna cangkéng bopati anu deuk ngarontok makuta. karuhan bopati tukang nguseup anu jiga tukang nyadap, inyana hanteu éling …. dalugdag-daligdeug ngagoloyong keuna leuwi, leong palid …. modar !
Modar, sabab najan pinteur ngojay cara lauk ogé, ari tikecebut eukeur teu éling mah , nya tikerebeeeeek…..
(Ceuk anu nyaraho di caritana, éta bopati téh ngaran inyana KIAI JAWARéD. Inyana mémang sakti. Ceunah mah, inyana hanteu paéh, tapi barang kecebur keuna leuwi téh laju ngileus. Engké jaga, inyana baris adatang deui. Datangna hanteu nyorangan, tapi mawa loba batur. Inyana datang jadi urang bangsa ANGGRIS, diiring-iring loba nu harideung, loba anu barulé. Tapi anu harideung mah, hanteu kabéh ngilu ka inyana, sawaréh mantuan urang. Arinyana di urang hanteu lila, ngan saukur salila haneut poyan !)
Anggeus musuh inyana kadeuleu palid, Rakéan teuleum deui nyokot makuta. Anu leutik, ku inyana disumputkeun dina sodong di beulah wétan. Laju inyana hanjat sabari mawa makuta anu gedé. Laju harita kénéh dibalangkeun….. engkéna nepi ka Talaga Wana, disanggap ku Ki Mulangpurwa, disumputkeun di dasar talaga …. di tonggohna, dijaga ku Ki Mulangpurwa, di dasar talaga, dijagaan naga anu engké mudu beunta!
Rakéan nindak deui. Inyana hanteu engeuh keur gelut téh, aya anu neuleukeun. Nya éta tujuh lalaki di kajauhan keur araya di huma séwang-séwangan. Nareuleukeun baé, ari ngadareukeutan mah hanteu. Ngadeuleu Rakéan unggul gelut, arinyana buru-buru moro. Lain moro cara moro monyét, tapi moro nyampeurkeun bari atoh. Laju sasalaman…. ”La-i-kuuuuum…..”
Rakéan hanteu sasalaman, inyana ngajanteng baé, bingung …..
Ceuk nu nyampeurkeun : “Sukur, Ki Semah, sukuuuuur !”
Ceuk Rakéan : “Ku naha nyukur-nyukur kaula ? Apan anu paéh téh, bopati dia !”
Ceuk nu nyampeurkeun, pangkolotna : “Bopati sato, Ki Semah, éta mah lain jelema, boro-boro manusa ! Bengisna leuwih ti dedemit, galak leuwih ti sétan, sarakah jeung rarampas. jeung hanteu kaop salah saeutik, sakali gaplok, kadua bedog …. !”
Ceuk Rakéan : “Kaula maéhan bopati, tangtu raja dia ngukum kaula!
(60)
Ongkoh kaula mah lain urang dieu !” Inyana ngomong sabari nelek-nelek, neges-neges anu tujuhan…. tétéla, satujuhna urang Pajajaran, tétéla urang panamping anu baréto ditamping sabab garanti sinembah!
Ki Jiba. anu pangkolotna pangbongkokna, Ki Topo, anu kolotna rada ngoraan tapi bongkokna meujeuhna ogé, Ki Seunu, aki-aki anu pangngorana, Si Meuti anu keur meujeuhna ngolotan, anu keur budakna nyorang gelut ngalawan kunyuk. Anu tiluan deui mah, anu baréto barudak kénéh !
Rakéan tenget ka arinyana, tapi sabab Rakéan salin rupa jadi joré, anu tujuhan mah hanteu tarengeteun ka Rakéan !
Ceuk Ki Jiba anu pangkolotna : “Ki Sémah ! Mémang, samuduna mah anu jadi kokolot téh urang dieu ! Tapi pieun somah mah, lain asal datang ti mana atawa saha, tapi saha anu béla somah, tah éta tangtu anu dipiluan ! Najan urang mana urang mana ogé, ari ka somah hadé raksa hadé ajak, hadé jeujeuh jeung deudeuh, hadé ngatur, saeutik catur, méré bukti nu kaharti, ari jangji tangtu jadi, moal somah mudu dititah. Sabab lain paréntah anu diturut ku somah téh, tapi kanyaah somah, anu nurut ka anu maréntah !”
Rakéan hanteu sanggup jadi kokolot, sabab inyana mudu nindak deui, mudu ngalalana nanggoan wayah, wayah inyana mudu muka kedok, anggeus mukaan kedok-kedok anu ngaralakon!
Rakéan nindak. Anggeus inyana rada jauh, ceuk Ki Jiba ka batur-batur anu genepan : “Ti tukangna mah, jiga Rakéaaaan anu baheula bageur ka kabéhan! tapi beungeut inyana, ieu mah ku joré jasa ….. Batur, moal kituh éta téh anu ku urang disambat saban peuting maké mantra anyar ? Amun heueuh enya, geuning kiiiiitu karuhun sabrang téh, nya batur ! Saban peuting urang sasambat abéh leupas tina siksaan bopati. Ayeuna kurunyung Karuhun jiga lutung, Nya suuuuukur, karuhuuuuuun ! Joré patut gé da hadé tulung…. hamdulilah, nuhun, nuhuuuuun !”
Anu tujuhan laju nyarembah. Ka saha nyembahna mah, nyao teuuuin….!
Moal, moal ditunda !
Atuh ari ditunda ditunda deui mah, moal gancang eudeuk kateundeun di haneuleum sieum pieun anu baris nyarampeur…. moal eudeuk datang datang wayah hanjuaneun anu narineung …..
Urang caturkeun baé Rakéan !
Inyana nindak deui, seja inyana ngalongok urut taman. Taman Mila Kuncana anu geus bédah ! Inyana ngaliwatan Hanjuang Siang nu sadapuran jeung Suji Domas, sisi taman beulah wétan, sisi pisan kulah nu geus saat !
Pikir Rakéan : “Dimana-mana Hanjuang Siang geus teu kadeuleu aya, tapi di dieu aya kénéh Pakujajar !” Laju ngadeukeutan tangkal Ki Paharé anu gedé ! Inyana ngejat deui, sabab suku inyana asa nincak seuneu ! Taneuhna panas mani cara seuneu…. Ceuk inyana : “Salila di Pajajaran, ngaing can nyorang neuleu ieu taman anu disarebut Taman Sangar téa ! Ari kieu mah, ngaing percaya keuna sangarna !”
Keur sosoranganan ngomong kitu, pelengir baé wangi menyan Pajajran, disusul arum kukus Jayanti wangi kamuning !
Ceuk Rakéan : “Bener sangar ! Tapi saha anu ngageugeuh di dieu ? Tiiiilok aya kénéh Karuhun anu tinggaleun ? Apanan ceunah, ku sinembah anu anyar, moal aya deui Karuhun Pajajaran anu nyésa????”
(61)
Laju inyana mapatkeun rajah paringgaan, disambung ku rajah paneja… tapi euweuh kadeuleu aya nu némbongan.
Ceuk inyana : “Karuhun sabrang meureun ! Hayang neuleu dirupana…” Euweuh anu némbongan kénéh baé. Ngan melénghirna menyan Kamuning, tambah banget mingkin wangi…..
Ceuk Rakéan sabari luak-lieuk : “Tétéla ari Pajajarannana mah. Tapi sasaha anu di dieu jang panggeugeuh ? Kaula Pajajaran, dia ogé Pajajaran! Dia saaaaaha, karuhuuuuun ?”
Harita tangkal Hanjuang anu panggedéna laju gedag jiga anu nepak…. bréh dina kayu tangkalna aya KUJANG dikadékkeun !
Ceuk Rakéan : “Amun hanteu salah deuleu, kujang anu kitu mah, boga Ki Guru Sekar ! Amun bener boga inyana, boga ki Guru Sekar Santarupa, coba éta kujang sina mere tanda anu moal sulaya !”
Harita kénéh kujang nanceb dina congona !
rakean laju nyembah : “Baruk geus jadi karuhun ?! Aki, kaula hayang nyarita eujeung dia. Bisa kaula nyarita ?”
Euweuh anu ngajawab, jaba ti sora angin leutik ngérésékkeun daun hanjuang…..Rakéan nyeukeut-nyeukeutkeun pangdéngé sora haréwos, sora déhém aki-aki…. Laju kadéngé deui sora haréwos tukangeun inyana “Acan wayah, kaula nyora. Tapi kaula deuk nyarita, dina sora anu kieu, jeung sakeudeung baé ! Dia bener Rakéan! Sabab dina dada dia, di jerona, ku kaula mah kadeuleu teges tanda anu ngan ayana di Pajajaran Sunda nu keur lara ! Tanda éta ! Anu hurung jiga ruhak, tapi kabulen lebu!
Rakéan déngékeun !
éta kujang kaula, pangmikeunkeun ka jelema nu hirup inyana balangsak baé, bari kukuh napak dina benerna hadé, jeung tetep dina hahadéna benerna kabener! Najan rupa inyana mantak cangcaya jeung sagala-gala mantak curiga, masing dia nyaho, inyana téh Pajajaran minda raga, anu diparajarkeun nista ku mata anu ngarewa, nu diham ku tatangga, dipikagiruk ku urut batur, tapi dipikabarutuh ku sakur anu baringung, ku anu sarusah meujeuh keur payah!
Pangmikeunkeun ka inyana, sabab inyana :
Anu baris mudu nyabrangkeun walungan tanpa sunggapan
Anu baris mudu ngojayan sagara tanpa basisir,
Anu baris mudu nau …. sagara Sabdawarna ….!
Tapi kujangna, mudu dicokot ku inyana ! Dia mah ngan saukur nuduhkeunnana ! béjakeun !
Mudu ditéangna, wayah janari, meujeuh gelédég patingjelegér, dipeutingan poék bulan, jeung ti sareupna nepi ka brayna, guludug patinggulugur terus-terusan ….!
Béjakeun !
Ieu hanjuang amun kari ngaran samar catang ulah inyana eudeuk nuar, sabab engké jaga, amun tina Pakujajar sadapuran, kari Suji Domas anu nyésa, engké méntas aya anu karep eudeuk ngaruksak, tangkalna baris sempal, reunggasna potong sorangan, inyana mudu nohagaan dawuan di Ci Kabuyutan. Tapi anu maéhannana lain Sunda Pajajaran !
Rakéan !
Taneuh di lebah dieu, saratus jeung sapuluh tahun, moal aya suku anu sanggup nincak, séjén ti inyana anu baris narima éta kujang !
Siar ku dia éta jelema ! Inyana bakal kasampak di pangparatan WARGA
(62)
SUWUNG, di wayah opat sagara, lautna pada ngagolak cara cai piasakkeun dina kancah !
Béjakeun ! Kujangna mudu disarangkaan dahan Pakujajar, Hanjuang Siang Lalayaran……………”
Sora haréwos laju leungit, cara aweuhan celuk dipangku angin, jiga ngalayang ka anu anggang …. laju lebur, leyur… nyampur hiji deui keuna ngalindengna sawara alam……
Rakéan, Rakéan Kalang Sunda, laju nyembah, nyembahna ka anu ngaleungit, ka sawara tanpa rupa, nu celukna engké baris nyurup keuna gelegerna génjlongna jagat anu jadi tegal pangperangan …..
Rakéan laju nindak deui ! K a m a n a ?
Ka jaman anu bakal datang ka wayah baris makana sakabéh anu maraké kedok salila arinyana maranggung dina panggung meungpeung-meungpeung, meungpeung-meungpeung arinyana barisa kénéh nyaringsieunan somah, meungpeung-meungpeung banténg acan ngamuk……!
Urang caritakeun heula !
HANJUANG SIANG NUNDA NGARAN Anu kiwari ngari kénéh ngan, Suji Domas sajajaran anu ayana hanteu jauh ti anu kiwari disarebutna LAWANG GINTUNG ! Lawang Gintung anu kiwari, lain Lawang Gintung anu baheula, sabab lawang gintung Pajajaran, éta mah anggeus musna, runtuh ku kebelna waktu, eunyeuh ku tatangkalan nu jaradi di ruhurna !
LAWANG GINTUNG PAJAJARAN, Pajajaran anu baheula, ayana satonggoheun kiwari aya karét kebo anu gedé, beulah wétan rada ngidul…… // kiwari = 1908! //
Ceuk carita anu nyaraho kajadiannana !
Di lebahan éta Pakujajar anu kiwari aya kénéh, mindeng kadeuleu di waktu peuting aya anu ngagebur hurung, caangna semu-semu héjo….. Amun disampeurkeun, anu ngageburna laju ngileus, tapi anu nyampeurkeunnana laju harudang bulu punduk inyana.
Ceunah, kungsi aya budak deuk ngala daunna pieun parab embé. Naékna mah éta budak téh kadareuleu, tapi laju leungit dina gumpulkan daun anu kerep di ruhur tangkal.
Ceunah kungsi aya Kiai anu kasohor eudeuk nuar éta tangkal, di imah kénéh inyana ngadadak kémpér mantaré…..
Kungsi sababaraha kali anu ngaheureuyan éta tangkal, hanteu lila laju paéh handapeunnana, atawa paéh anggeus nepi ka imah…. anggeus ngaco heula teu bisa ditambaan ku dukun-dukun anu lalepus !
Ceuk anu nyaraho di ugana, éta Pakujajar baris dipindahkeun….. ! Amun dipindahkeunnana dijieun papajang taman, tah éta tandana RAJA anu NGADEG téh, raja anu kawarisan PAJAJARAN, Pajajaran anu anyar. éta raja baris terus banjaran dina jayana, ngabuburak kabéh raja panyelang anu arédan keur senang-senang. Raja-raja penyelang anu balageur ka somah jeung barener laku lampah, ku éta raja ditaraékkeun pangkat jeung raja dipupuji sakabéh somah anu disina sangsara balangsak sakitu lilana……
Anu ceuk ceunah, sok kadeuleu ngagebur hurung, éta téh naeun?
Ceunah mah KUJANG anu geus ménta ditéang. Ceuk ceunah deui, anu ngagebur mah. HANJUANG BODAS tangkal pupundén, pupundén Pajajaran … anu engké jaga baris témbong, pakéeun Raja nu kawaris Pajajaran. Pakéeun inyana dina perang jagat keur dilokat, dina perang anu diheulaan ku perangna caang merangan poék, perangna bodas merangan hideung !
Cag tunda !
Hanjuaneun di séjén wayah, sabab pamali amun mantun kabeurangan ! Urang teundeun heula di haneuleum kasieuman, nu sieun ku anu hanteu arengeuh. Langit beureum sapaméntangan, béntang konéng ngabaranang …… !
Catetan :
Rawayan = runtayan / rundayan
Taram = breng
Buritna = ahirna
éwéna = pamajikannana
Kebelna = lilana
Binuang = diuber-uber
Bulu borang = bulu dina indung suku
Ngadanieun = nyadarkeun
Dani = sadar, éling
Basa = waktu, eukeur
Basa = omongan, ngomong
Bogor = tunggul kawung
Talaga Reuma Wijaya = Talaga Kamalajaya
Kadongdon = kapariksa, kabokér
Ieu Kenging nyutat tina blog anu sanes sareung mailist
Réngsé disalin deui : tanggal 13 Februari 2002
Ronggeng Tujuh Kala Sirna III
Tunda !Keun sina molor ! Ulah digandéngan, beusi hudang cara nu kasurupan, nyakaran samak nyingkabkeun samping, hayang mentil ka anu nyempil, hayang nyapaan lawang ka mandala jabrig …..
Urang mah, urang susul Rakéan Urang piheulaan …..!
Urang caturkeun baé, Urang mah geus aya di Ci Mandiri, beulah kalér sisi laut, ruhur ka-
(39)
rang anu pangruhurna, anu renggang eujeung nyodor, ruhur jasa ruhureun laut. Jeung handapna gorowong kohok, dibobok séblokna ombak nu neunggaran patinggulugur.
Urang aya di ruhur karang, dina poé anu panas, euweuh angin ngahiliwir, tapi di handap di suku karang, ting jalegur ombak anu neumbrag, pabuyar muncrat ngabudah jeung ngaguruh di sela batu nu pasoléngkrah sisi basisir….
Harita wanci pecat sawed geus kaliwat, tangari mimiti gépéng kadeuleu jauh di tengah laut tinggoloyong parahu payang. Sapuluh maragang layar, tapi hanteu karembung ditebak angin. Tapi gancang ngoloyongna, diboséh nyampeurkeun muhara ….
Sapuluh parahu gedé, leuwih gedé manan payang biasa, leuwih jangkung leuwih rubak jeung di luhurna tihang indung, ngélébét umbul-umbul coréléng beureum !
Dina karang anu ruhur nenggang, narangtung tilu jelema, ngarawaskeun nelek-nelek, negeskeun parahu ngadareukeutan…. parahu-parahuna jarauh kénéh jasa, tapi ku nu tiluan mah kabéhan !
Trong kohkol ti ruhur karang, ditihtirkeun …. disambung harita kénéh ku sora tihtir nu di lebak …. laju ramé sora tihtir di mana-mana !
Sadia batur sadia ….. pirusuheun keur nyampeurkeun !
Nyingkah-nyingkah ! Nyingkah nu marudu nyingkah !
Kumpul, batur kumpul. Kumpul mawa pakarang !
Sumputkeun ka jero leuweung, di nu buni ka nu anggang !
Awéwé reujeung cawéné, jeung budak anu laleutik !
Ulah aya banda tinggaleun ! Giring kebo ! Giring embé, giring nini-nini jeung aki-aki !
Sadia batur sadia ! Sadia bedog, kampak, sumpit jeung baliyung, gobang, taméng jeung jamparing, jeung halu nu bareurat, kayu sempur.
Aya naeun , tukang pantun, aya naeun ?
Aya bajooooooo !
Aya bajo, aya bajo deuk arunggah, deuk ngarampog jeung nyarulik !
Tagiwur salelembur, ti Cidadap anu baheula. Lembur gedé dayeuh leutik, nu rama kunu mangkalan, marawa géték turun ti girang nu parinuh numpuk dagangeun jeung hakaneun!
Tagiwur salega Cidadap, Cidadap anu baheula, anu ramé ku parahu eujeung kapal nu balabuh ti mana-mana.
Tagiwur … rusuh….. geumpeur …. haliwu salelembur ! Tapi euweuh sora budak nu careurik, euweuh sora awéwé patingjarerit. Da harita mah, urang Cidadap jaman baheula, béda deui ti urang Cidadap anu kiwari!….. Da heueuh ! harita mah harideng sakabéhan!
Kabéh anu ngarana lalaki, anu baredas nu jaragjag, nu karolot can aki-aki, jeung barudak ngarora, budak bujang, budak tanggung, kabéh geus pada sadia. Marawa pakarang sapakarang-sapakarangna, nyaregat di pameuntasan … dina rungkun sisi laut, dina tambak jero rungkun, dina rungkun sapanjang muhara …..
Hanteu cara loba urang dayeuh nu baréto,
marawa bedog papanjang-panjang, dipanjangkeun dina cangkang… ari musuh keur jauh kénéh ! Tapi ari musuh asup deuk ngarurug mah, lung bedog laju karabur …. Da heueuh !
(40)
Lain lalaki baé nu geus sadia marapag bajo, tapi awéwé géh geus sacarangcut pageuh, sacarawet purek … geus moal aya curuk bisa nyelap dikorobétkeun ! Moal lesot ku dibedol, moal udar ku dijeuwang….
Cawéné paréungkeur meujeuh cokcrokkeun,
Awéwé lagas parungkil meujeuh kenyoteun,
Rangda bareuneur meujeuh seuseupeun …. jeung awéwé baroga salaki teu boga anak, teu baroga salaki teu baroga anak, jaragjag eujeung garalak, kabéh geus sadia-sadia marapag bajo nu deuk hanjat, eudeuk raranjah !
Di saban pamegatan, baruni jero rungkun, tingdarepong awéwé-awéwé nu geus teu sabar harayang mareubeutkeun halu arinyana ka hulu bajo…
Urang Cidadap anu séjénna, éta mah pada bebenah, angkut-angkut eujeung gigiring, angkaribung ka pangélian … ngangkut banda, ngangkut paré, ngangkut nu garering jeung rarémpo … ngangkut sakur anu mudu dibawa jeung kabawa…
Ngarangkut bari gigiring, ngagiring bari sasabet, ngagiringkeung embé jeung bébék, ngagiringkeun kebo jeung éntog, ngagiringkeun budak dibawa nyumput….
Ku tagiwur-tagiwurna, loba nu angkut-angkut mani tikusruk ! Aya nini-nini kageumpeuran, nyényéréd aki-aki anu bongkok, nyényéréd bari sasabet … samaruk si nini-nini nu keur geumpeur, inyana téh keur nyényéréd nanarik badot…
Aya deui anu mamanggul bari sésépak, nyépakkan anu leumpang hareupeun inyana ! Majar inyana, dina kageumpeuran rarasaan téh najongan embé anu melid digiringna, jeung anu dipapanggul, rarasaan téh ku puguh mitoha inyana anu awéwé ! Padahal, anu dipanggul inyana téh, embé budug boga tatangga jeung anu ditajongan …. mitoha inyana anu awéwé … Ja heueuh!
éta mah nyao kasalahan rarasaan, sabab geumpeur, nyao teuing kumaha boa. Kitu téa mah kahaaaaarti…. sabab hanteu kurang-kurang anu ngarep-ngarep hayang bisa ngabebek mitoha !
Harita di ka-Puun-nan, tilu kokolot jeung nu jadi Puun, keur ngatur-ngatur pipetaeun ngayonan musuh ! Saha nu jadi Puun ? Nya Putri Purnamasari. PURNAMASARI PAJAJARAN, Putri bungsu tinu katujuh, nu mandiri sisi Ci Mandiri, di basisir sagara kidul.
Ceuk kokolot satiluan : “Nyi Putriiii, dia mah hadé unggah ka gunung, bari mawa Nyi putri MAYANG SAGARA!”
Ceuk Nyi Putri Purnamasari : “Kokoloooot ! Puun anu ninggalkeun somah jero bahaya mah, lain Puun teureuh Pajajaran !” Kula bener awéwé, tapi awéwé anu diadegkeun jadi Puun. Jadi puun anu diadegkeun ku somah sakabéhna. Sabab éta, kaula mudu jadi Puun téh lain baé ngan di keur sagala kera. Tapi ogé jero lara jeung bahaya, kaula mudu tetep jadi Puun ! Jeung perang mah, lain mudu disanghareupan ku somah bareng jeung somah,lain ku somah bareng jeung puun. Tapi mudu ku Puun ngahiji jeung somah ! najan kaula awéwé, tapi cukup weruh di ngaran perang !”
(Memang heueuh. Kawani dina ngayonan musuh di kalang pangpérangan, ayana lain di lalaki baé. Sabab gedéna kawani, lain dicirian ku beuratna gayot nu ditumpangan nu gedéna sagedé kohkol, jeung lain ku peupeungkeur kandelna anu ngagempit nu buni nyempil, tapi ku tegerna gedag léntab di jero dada !)
(41)
Laju ceuk Nyai Putri : “Ongkoh kaula kabina sono hayang neuleu deui gurilap burinjal sinar, nu muncar tina bedog dipapag bedog, tina gobang ditangkis kujang ! Jeung kabina sono hayang ngadéngé deui tingsaruitna panah anu nyaramber ! Kaula eudeuk aya du pusuk pamapag, di jajaran panghareupna ! Dia tiluan di jajaran pangburitna, di aleutan pangtukangna sabari ngajaga anak kaula !”
Ceuk Nyai Putri Mayang Sagara : “Ambu ! Nyai mah embung di tukang, hayang hareup panghareupna, hayang neuleu kumaha perang! Hayang dijajaran teu kahalangan, abéh teges lalajona!”
Ceuk Nyai Putri Purnamasari : “Perang mah lain lalajoaneun budak!”
Ceuk Nyai Putri Mayang Sagara : “Da, geus gedé ! Huntu nyai geus cuplak dua kali ! Apana geuningan ari Ambu dongéng perang, geuningan ceuk ambu, déngékeun ceunah, sing bener ! Ayeuna hayang neuleu perang enyaan ! Nyai deuk ngilu perang, cara Ambu baheula. Deuk maké bedog nu buntung béééé, abéh nyai ulah raheut!”
Nyai Puun Putri keukeuh nyaram, laju Nyai Putri Mayang Sagara ku kolot anu tilu dibawa bari dibébénjokeun, dibarawa ka jajaran pangtukangna, ka suku gunung leutik anu kiwari disarebutna PUNCLAK KADONGDONG.
========================
Tunda !
Tunda anu dibawa ka pangtukangna. Sina dibébénjokeun ngala kadongdong!
(Ceuk nu nyaho di béjana, dipajarkeunnana gunung Punclak Kadongdong, sabab baréto mah di salahsahiji punclakna aya tangkal kadongdong gedé jasa jangkung jasa. Tapi ceuk anu nyaraho di Ugana mah ngaranna téh lain punclak kadongdong, tapi punclak kadongdon. Sabab di lebah dinya engké mah n baris kadongdonna anu ngaku-ngaku Ratu Adil.)
Urang caturkeun heula anu araya di muhara, nangkoda-nangkoda kapal, anu marangkalan jeung balabuh ngaradon dagang datang ti wétan, ti kalér eujeung ti kulon, jeung nu karonéng saripit mata jeung buntutan ngambay ti hulu, harita kabéh geus pada sadia ! Sadia ngayonan bajo hanjat rarampog!
Kapal-kapal jeung parahu-parahu anu balabuh di muhara, sina didarayung maju ka girang, disarumputkeun di walungan Ci Tarik, di lebahan Batu Nunggul sagirangeun ngamuharana Ci Tarik ka Ci Mandiri.
Ngan hiji kapal anu hanteu kaburu bisa disumputkeun, sabab bocor keur diomékeun ! Nya éta kapal nangkoda anu konéng kulit mata sipit jeung ti hulu ngambay buntut ! Nangkodana mah eujeung batur-batur inyana anu sarua kulit sarua mata, jeung sarua pada buntutan di lebah hulu, arinyana geus sadia di pamapagan, tingdarepong di pamegatan ! Sakarep jeung seseja, sahaté jeung sakabéh urang Ci Dadap ! Deuk ngaralawan tutumpuran !
Caturkeun !
Sapuluh parahu bajo geus narepi ka basisir ! Hanteu kebel deui, ku sakur anu araya di saban pamegatan, kadéngé tina dua parahu baji panggedéna, patingjalegur sora cara gelédég, jeung kadeuleu ngebul haseup ngaburakeun seuneu ! Hanteu kebel deui, ka pangjagaan di muhara, murubut jiga batu sagedé- gede kalapa!
(42)
Urang Ci Dadap, kabéh pada rareuwas jasa. Sabab ti sabarang nyaho baroga hulu dua, jeung ti sabarang arengeuh osok getek mun ditoél, saumur géh kakara hariiiita neuleu gelédég bisa dileupaskeun tina parahu! Bener heueuh, batur, éta carita-carita bajo anu dipajarkeun pohara gagahna téh ! Heueuh, garagah ceunah, tapi ogé taralenges euweuh bandingna ceunah….
Karuhan nyah, deuk gagah unggul perang ogé, da geus barisa perang maraké gelédég !
Tuh deuleu ! Anggeus tilu batur urang sisaramber huntu gelap ! Tuh deuleu tangkal kupa mani sapat …. kebon kiray mani papak….
Urang Ci Dadap jaradi sieun, sarieun dipanték gelap ku gelédég nu dileupaskeun ti kapal bajo !
Tapi ceuk nagkoda nu buntutna dina hulu : “Ulah sieun, Kaka ! Di nagala kula mah, lain baé saban peulang, saban taun balu ogééé, malaké kituuu. éta mah lain kéléték lain kulutuk, éta mah booooo, éta mah lantaka ngalana … maliyem hayaaaaah !”
Laju ceuk inyana ka Nyai Putri : “Ambu Puun ! Peulang kieu mah, mudu cala maénpo. Ulah bélé atal, ulah undul-undulan, tapi angsleug, angsleug telus bééééé….!
Uang Ci Dadap, saringkil deui, hanteu jaradi sieun… sabab kadareuleu Ambu Puun arinyana mageuhkeun sampin dicawét-purekkeun, ngadangong di jajaran panghareupna ! Dada inyana dibeulitan pageuh karémbong cindé !
Kacaturkeun !
Dibarengan patingjalegurna walantaka, bajo-bajo tarurun ti sapuluh parahu. Lobana, loba jasa…. nayo tilu ratus nyao lima ratus, da lain eudeuk ngitung lobana anu tarurun. Mantakna araya di pamegatan ogé, eudeuk modaran bajo anu hareupeun…. Anu jarauh kénéh mah, podareun sakeudeung deui ari geus parek sahontal kujang !
Bajo-bajo tarurun sabari sarurak… dipapag ku urang Ci Dadap anu diluluguan Ambu Puun, dibantu ku sémah-sémah anu ngadon daragang! Najan bajo-bajo lobana mantak pikarisieun, tapi lobana anu marapag, moal kurang ti pimahieun, kolot ngora awéwé lalaki, ditambah barudak mareujeuh karasa uyahna !
Ger perang ! Perang, batur, perang rosa !
Perangna urang Ci Dadap, urang Ci Dadap anu baheula, dibantu sémah-sémah jeung batur-batur nu jukungna bocor keur dioméan, perangna rosa jasa !
Loba bajo patingjaroprak, méméh arengeuh labuh deuk paéh, loba bajo mararodar, méméh ngarasa napak di taneuh pageuh ! Kararojor!
Dicekék bari dikadék,
diringkus bari dicacag,
dikerekebkeun di leutak rancah !
Nyi Puun Purnamasari, perang deui cara baheula !
Tara gagal metakeun kujang,
sasunduk bajo opat anu nambru,
tajongan inyana nararenggel,
kelid inyana rikat bari ngababad !
Tapi bajo anu disanghareupan, lobana loba teuin ! Nyai Putri laju kakurung ku bajo-bajo nu karutap-kétap bari buringas, neuleu nu geulis sacawet heureut, keur heureut, nyeprét meulitna, nareuleu pingping beresih anu montok, nareuleu bujur mongplo piuruyeun….
Nepieun arinyana hanteu ngadareuleu kujang kokolépatan, ngajohjorkeun anu nyampeurkeun !
Kabéh bajo harayang néwak, harayang ngaboaan nu keur ngamuk ngan sacawet heureut ….
(43)
Loba bajo anu marodar, tapi leuwih loba bajo anu harayang ngabogaan nu keur ngamuk tapi geulis, nepieun hanteu kadareuleu kolépat kujang euweuh gagalna. Sabab anu ngan kadareuleu arinyana:
lain awéwé anu keur ngamuk, tapi awak beuneur, rupa geulis, eujeung lain awéwé sacawet purek, tapi anu nyawet lebah purek …!
Nyi Putri Puun kawalahan ! Urang Ci Dadap kawalahan… nya mararundur. marundur sabari ngalawan, ngalawanna sabari mundur… mundur… mundur… marundur nepi ka deukeut lembur…. bajo-bajo maringkin galak, maraju sabari ngahuru, narajang laju rarampog !
========================
Tunda heula !
Keun sina maraju heula !
Urang papag deui di lebahna,
Urang lawan dina wayahna !
Urang caritakeun heula Nyai Putri Bidadari Arum Wiyaga !
Inyana harita nepi ka sisi Ci Mandiri, palebahan kapal jukung anu bocor, nu digalang di darat di beulah kalér. Inyana alak-ilik, laju asup…
Kasampak jero kapal, ngan aya hiji aki-aki kolot jasa, kumis inyana mani ngarumpay, buntut anu ngambay ti hulu inyana, ngambayna nepi ka bitis, jeung kuku ramo sapuluhna, paranjangna mani sajeungkal ! Si aki keur nyanghareup ka arca. Arca awéwé geulis mata sipit, sajamang panjang nutupan suku … jamang panjang, jamang sutra, sutra konéng, sutra beureum, sutra gading disulam emas ! Jeung ditarétés permata mahal… Aki-aki anu buntutan di hulu, keur acung-acungan, sesembah nyekelan nyéré, anu hurung melenghir wangi …..
Najan éta aki-aki lain bangsa bidadari, lain manusa anu datang ti Kahiyangan, tapi Nyi Putri Bidadari Arum Wiyaga mah ngarti ka haté éta aki ! Sabab Bidadari mah,
nyaho di sagala basa,
jeung ngartina lain ngarti tina ceuli,
lain maca tina ucap, tapi ngarasa tina sora
anu medal ti jero haté nu keur nyarita!
Sabab bidadari mah, ayana di sagala bangsa. Ngan béda sotéh dina sebutannana!
Aki-aki téh eukeur nyambat, keur pupuntang ka para déwa, supaya bajo-bajo anu rarampog, cuculik bari peupeuncit, supaya diéléhkeun urang Ci Dadap !
Nyai Putri Bidadari laju ka ruar … kadeuleu ti ruhur kapal aya awéwé geulis nu sacawet, keur ditéwak opat bajo, dipaksa deuk ditangkarakkeun dina galengan …. Harita kénéh Nyi Putri Arum Wiyaga geus aya dina galengan. Jleg ngarupakeun awéwé anu nyeplés awéwé nu keur direjeng ! Bajo anu opat, arinyana harimeng jasa, apan keur ditangkarakkeun, apan keur nangtung tulak cangkéng?
Sabot bajo eukeur barengong, Nyi Putri Purnamasari motah sataker tanaga … laju…. lain opat kujang bajo, lain kujang nu ngabuhel dicongona pagantian nyundukan awak Nyi Putri, tapi opat bajo patingkarebek keuna rancah, anggeus disunduk kujang Nyi Putri Purnamasari ….
Nyi Putri Purnamasari himeng jasa neuleu aya awéwé cara inyana, sacawet cara inyana, jeung sagala-gala nyeplés inyana !
Ceuk Nyi Putri Purnamasari : “Nyi Sémah, saha dia, ti mana dia ?”
Ceuk Nyi Putri Bidadari : “ Ulah wara tatanya ! itu musuh loba kénéh. Hayu!”
(44)
Ceuk Nyi Puun Purnamasari : “Lain tandingeun ! Lobana mah hanteu loba teuin. Tapi di arinyana loba anu maraké sumpit, ngabeledég cara gélédég !”
Ceuk Nyi Putri Arum Wiyaga : “Keun éta mah bagéan kaula ! Jeuh ! Paké Perewit kaula, abéh dia ulah teurak ku pakarang !”
Nyi Putri Bidadari laju néangan sakur bajo anu marawa sumpit gélédégan. Inyana ngileus hanteu kadeuleu ! Diitung-itung aya tujuh likur anu marawa sumpit kitu, jeung aya opat kali opat bajo anu marawa lodong tina beusi, opat bajo hiji lodong ! Ku Inyana kadeuleu, méméh éta sumpit jeung lodong ngajelegér cara gélédég téh, geuningan dijejelan heula anu hideung jiga bubuk areng. éta bajo-bajo disampeurkeun ku inyana, laju wadah-wadah anu jiga bubuk areng, eusina ditukeuran ku keusik ti muhara ! Ti dinya inyana unggah ka parahu-parahu bajo anu aya mariyemna. Sakabéh wadah anu eusina pieun ngabeledagkeun gélédég, ku inyana dibanjur cai leutak, laju diaduk-aduk… meni jiga bubur jawawut kabarangna ! Ti dinya inyana mulang deui, nulung urang Ci Dadap nu keur ngalawan pohara jasa.
Sabab dilawan pohara bengis jeung garalak jasa, sakabéh bajo jadi rada culak-cileuk. Sabab salila jaradi bajo anu kasohor euweuh tanding, acan nyorang nyampak anu ngaralawan cara urang Ci Dadap! Andelan arinyana, nya parabot-parabot anu ngajelegér-jelegérkeun gélédég. Barang euweuh hiji-hiji acan anu daékeun ngabelekbek atawa ngajurujus, sakabéh bajo jaradi keueung ! Saméméh sarieuna sieun enyaan, arinyana narajang sakali deui, narajang rosa cara ombak laut nu keur motah ! Der perang rosa, anu rosana rosa jasa !
Neuleu perangna awéwé nu sacawet purek diheureutkeun mantak pihimengan jasa, bajo-bajo jadi kareueung tambah enyaan ! Sabab sakabéh pakarang euweuh anu bisa neurak, kabéh mariley cara malam amun antel ka awak inyana ! Jeung modaran musuh téh, inyana mah cara nindesan tumbila baé …..
Karuhan loba bajo anu kasima !
Kasima pangabisa Nyi Putri,
kasima kageulisan Nyi Putri,
kasima pingping putih nu parungkil,
kasima potongan awak beuneur piuruyeun,
jeung kasima ku nu ngagendok montok jero cawet anu purek !
Heueuh ! Perang bajo jaman baheula mah, hanteu saruuuua jeung perang na kumaha ogé ! Najan gagah najan bédas, kasima mah osok baaaéééé…
jeung tengah perang rorosana, bajo mah mudu baé panasaran, mun can néwak nu gagadil mun kagasir, nu ngalawan sabari tanggah ! Sabab ceuk jampé perang arinyana, amun geus paéh hayang hirup deui, mudu ngagaleykeun hulu keuna pamatang misah ka handap, keuna anu nunjang jiga larapan …..
========================
Tunda heula !
Keun sina kasima, sina jeger dina hirupna, sina perang deui nepi ka seubeuhna !
Urang mah, urang ngadeuleu heula ka tukang, ka jajaran pangtukangna, di sukuna punclak Kadongdong !
Meujeuh perang rorosana, Nyi Putri Mayang Sagara nyumput keuna jero rungkun. Majar inyana téh, sieun bajo. Padahal mah… inyana terus norolong ka lebak deui, mulang deui ka Ci Dadap. Laju asup ka imah inyana, alak-ilik keuna bilik, tumpu-rampa keuna galar….
(45)
gep aya anu kacekel. Nya éta KUJANG ! Kujang anu ceuk ambu inyana, baheula meunang nepa mamang inyana, basa ngababakan di Gunung Reuma. Cerelet Nyi Putri leutik lumpat ka sisi cai, ka lebahan enggon balabuhna parahu jeung kapal-kapal.
Laju nyawetkeun samping, kujang diselapkeun jero samping … jrut luncat ka cai, ngojay ka sisi laut …. nyampeurkeun parahu-parahu bajo. Nyampeurkeun parahu bajo anu panggedéna ! Inyana nyangkél di buritannana, tapi sabab buritannana ruhur tina cai, inyana hanteu bisa unggah ka ruhur. Kusiwel, kujang dikaruarkeun, dikadék-kadékkeun keuna buritan parahu gedé, angkuhan inyana sina bocor !
Da ngarana ogé kujang, lain kampak, jeung dikadékkeunnana keuna kayu sakitu kandel jeung teuasna, jeung dikadékkeun ku tanaga budak … sanajan dicaritakeun dina lalakon pantrun ogé… parahuna hanteu daékkeun bocor!
Harita, di darat bajo-bajo ngarasa tétér, laju kadéséh ka sisi laut… paburu-buru arunggah keuna parahu. Saba sarieun dipodaran ku anu ngaruber bari babajég jeung cecekék, bajo-bajo anu geus arunggah, buru-buru ngabaroséh, ngadarayung sataker tanaga …. Goloyong parahu-parahu bajo ka tengah laut, dibantu ku angin anu niup layar mani karembung, jiga beuteung anu rareuneuh di bulan alaeun ! Bajo-bajo anu tinggaleun, loba anu beunang ku urang Cidadap, laju dipodaran. Bajo-bajo anu ngarojay deuk nyarusul parahu anu geus laju, loba anu marodar dibedol coyot ombak ka handap. Anu marulang deui ka basisir, éta ogé marodar. Lain ku coyot ombak, tapi dibebek maké halu….
Nyi Putri Mayang Sagara anu deuk ngabocorkeun parahu bajo, inyana ogé nyaho parahu dilajukeun … mingkin gancang mingkin gancang, mingkin jauh ka tengah laut… ngadékkannana digancangkeun. Tapi parahuna, teu bocor bocor baé ! Barang geus jauh ti basisir, ku bajo-bajo kadéngé aya anu kakadék di buritan lebah handap. Laju ditarempo …. Nyi Putri leutik laju ditéwak ! Inyana motah ! Tapi da ngarana ogé tanaga budak, hanteu kebel deui ogé, inyana ditalikung. Ngan hadéna, euweuh bajo anu neuleu, kujang kaburu disumputkeun deui jero samping!
Ceuk Bajo saurang : “Budak kénéh ! Amun tilu taun deui mah, meujeuhna dicawénéan ! Urang jual baéeee !”
Nyi Putri leutik motah deui, sabab inyana ambek jasa deuk dijual, jeung béjana mah, dicawénéan téh leuwih nyeri manan ditojos linggis…. Sabab neréwélang baé, inyana dicangkémos, disépak, laju dialungkeun ka juru! Ari dipaéhan mah, hanteu. Sabab pikir bajo : “Tangtu pimahaleun ! Sabab cawéné jeung bagus jasa !”
Parahuna laju terus … mingkin jauh mingkin jauh, lajuna ka tengah laut, lajuna maju ka kulon…..
========================
Tunda …. !
Keun, parahuna sina laju. Urang sina laju maju ka kulon. Urang cegat di lebahanana …..!
Urang caturkeun di Ci Dadap !
Gehgér Nyi Putri leutik baruk leungit !
Leungit, batur, leungit !
Leuuuuuuuuuuuungit ? …… Ja heueuh ! …….. Ka mana leungitna, batur, ka mana ?
(46)
Kokolot anu tilu….. saling salahkeun ! laju naréangan, mimiti tiluan babarengan, laju duaan jeung sorangan. Laju naréangan séwang-séwangan….. ngasruk-ngasruk saban rungkun, nyarakraksrak saban lebak, narempoan saban logak, naroongan saban sodong… tapi anu ditaréangan arinyana mah, hanteu kapaaaaaaanggih !
Ceuk kokolot anu saurang : “Boa ditekuk kerud !”
Ceuk kokolot anu saurang deui : “Boa dilegleg oray !?”
Ceuk kokolot anu pangkolotna : “Boa….boa, boa dirau kééééélong.??”
Ceuk kokolot satiluan, dibarengkeun sabari tanggah : “Boa dirau kééééélong? “. Laju satiluannana naréangan deui, sabari narabeuhan nyiru, sabari narakolan upih tangkal belendung !
Caritakeun heula Ambu Nyi Putyri Mayang Sagara !
Nyai Putri Purnamasari acan nyahoeun anak inyana leungit ! Inyana eukeur mariksa urut perang, bagian lembur anu dihuru bajo.
Ceuk Inyana : “ Lebah dieu, urang ngaranan BABAKAN LEBU!”
(Tah éta sababna nepi ka kiwari, di lembur Ci Dadap aya anu katelah Babakan Lebu)
Ti dinya inyana mariksa : Lobana anu taratu jeung lobana anu paraéh. Anu taratu tapi teu ripuh, lobana salapan puluh. 60 urang Ci Dadap, 30 deui sémah-sémah nu daratang ngadon dagang.
Anu taratu rada ripuh : 30 urang Cidadap, 15 deui sémah-sémah nu daratang ngadon dagang, jeung limaan urang sabrang nu buntutna tina hulu, jeung saurang anu nganjang ti Gunung Rompang.
Anu paraéh, lobana sawidak kurang opat. 45 urang Cidadap, nu 7 deui, sémah-sémah nu daratang ngadon dagang, jeung tiluan urang sabrang nu buntutna tina hulu, jeung saurang anu teu ngilu perang. Inyana paéh ku gering payah….
Bajo-bajo anu marodar, bangkéna aya 175. Bajo-bajo anu taratu ? éta mah euweuh saurang-urang acan. Sabab bajo-bajo anu kasampak tatu, tapi acan kojor, anu karitu mah laju dibaruang…. dibéré ngarinum cai dewegan dicampuran godogan akar ceremé. Lain sabab ku telenges urang Ci Dadap. Tapi ngantepkeun bajo harirup mah, sarua jeung ngingu léntah jero kendi….
Dukun-dukun jeung tukang jampé, kabéhan pada haliwu, ngubaran jeung ngomékeun !
Ceuk nangkoda nu bocor kapal jukung inyana : “Amu Puun ! Kula ogé alék bantu ! Anu lalipuh jasa, sina gotong wééé ka kapal kaula ! Ditu aya simséééé….!”
Laju anu raripuh pangjasana, digarotong ka kapal bocor. Ditambaan ditumbalan, ku aki-aki anu tadi nyenyembah arca téa!
Nyi Puun Putri Purnamasari laju mulang. Inyana ngarep-ngarep kadatangan awéwé nu tadi téa, nu nyeplés badis inyana téa,…… tapi anu diarep-arep mah ….. hanteu datang ! Ari kurunyung anu daratang tilu kokolot ! Daratang sabari narabeuhan nyiru eujeung upih !
Ceuk Nyi Putri : “Aya naeun ?”
Ceuk kokolot anu pangkolotna: “Nun ! Putri leutik aya nu mawa !”
Nyi Puun reuwaas jasa, tapi kareuwas inyana hanteu katara !
(47)
Ceuk inyana : “ Ku saha ?”
Ceuk kokolot satiluannana ngaromongna dibarengkeun, sabari ngadarégdég sabab gugup : “Ku kaaaaaalong ….!”
Ceuk Nyi Putri : “Haaaah !?”
Ceuk kokolot satiluanana : “Heueuh !”
Ceuk Nyi Putri : “Ku kalong ? Sagedé kumaha ?”
Ceuk kokolot satiluanana : “Eh, ku kélong kétah !”
Gehger salembur Ci Dadap, Nyi Putri leutik dirau kélong….. ku kélong, batur, ku kélooooong …….!
Ku kélong ?
heueuh ! Ku kélong, ceunah !
Ku kélong awéwéna ?
Ku kélong awéwénaaaaaaaa, batuuuuur ……!
Ku kélong lalakina ? Ku kélong nu jaluna ?
Heueuh ku jalunaaaaaa, batuuuuur……!
Kélong awéwéna…. apa kélong jaluna ?
Ku kélong anu hanteu katémbong, batuuuur !
Laju salembur Cidadap naréangan Nyi Putri leutik, anu leungit ceunah dirau kélong … ku kélong bikangna jeung kélong jaluna…. Naréangannana aya anu ka kalér, aya anu ka wétan, aya anu ka kidul, aya anu kakulon, aya anu katonggoh, aya anu ka lebak, aya anu ka kolong, aya anu ka para…. nu kareuma jeung ka huma, nu ka sawah jeung ka rancah, nu kapancuran ka saban tampian. Malah aya anu néangan anu néangan, patéang-téang jeung anu naréangan !
Kokolot anu tiluan, naréangannana bari sesentak bri sésépak, sabab keuheul katempuhan ! Ku sabab sesentak baé, nya karuhan, anu ngilu naréangan téh jaradi sewot!
Ceuk sémah saurang : “Lot, éling, lot, éling ! Nyebut, geura !”
Kokolot satiluanana laju nyarebut, tapi nyarebutna… lain ngaran Déwa panyambatan, lain mantra jampé pamunah..tapi : “ RAMJIAAADAH…”
Nyarebutna maredok jasa, mani buled anu kuled, mani pinuh sasunguteun, mani ngemplong dina haté…. Ari ngaramjiadahna mah, lain seja arinyana ngucapkeun jampé jangjawokan, lain jampé pamunah Pamijahan, tapi…..ngaleupaskeun rasa keuheul!!
Geeer harita kénéh kabéh sémah ngilu nyarebut : “Jiaaaadah, tah kélong téh !”
========================
Cag teundeun ! Tunda di Cidadap. Sina nareangan bari jajadah…..!
Urang mah urang néangan Rakéan anu nindak ti Gunung Jayasampurna!
Urang sampak inyana keur aya di sisi laut, lebahan hiji babakan leutik nu harita disebutna Babakan Ci Tepus. Ayana lebahan mah tengah-tengah antara muharana Ci Tepus anu kiwari jeung muharana Ci Sakawayana anu baréto. éta babakan kiwari mah anggeus euweuh. Sabab béak kaséblok ombak di tengah peuting. Ceuk anu nyaraho di jamanna, palidna éta babakan téh sabab urang dinya mareuncit lauk duyung. Di urut éta babakan engké jaga baris ngadeg deui babakan GAGAL anu diadegkeun ku laloba teuing duit tapi hanteu daraék méré ka anu sarusah, malah sina sarusah mingkin parayah ! éta babakan gagal baris narikolot, tapi sakuloneunana baris ngadeg PANGGUNG SUSUN undak-undakkan. Anu baris jadi tetengger bakal ngagelebugna angin barat salega nagara !
(48)
Rakéan kasampak di sisi laut. Harita geus parek ka sareupna ! Inyana keur neuleukeun laut anu ombakna mingkin garedé mingkin raruhur, mingkin jauh nyéblokna ka darat… ngabudah buburialan, bari ngagugulung anu dilimpas, bari ngagur ngagalugur harus… dibarengan angin kenceng … mingkin kenceng mingkin bédas … melendoykeun tangkal kalapa, melendoyna mani daréngkdék !
Kencengna angin anu ngagelebugna ririntakan cara ombak paudag-udag gancang, nyempal-nyempalkeun tangkal garedé, ngarungkadkeun tangkal jarangkung, bari ngaguruh ti kajauhan… datangna bari murilit, nyiwit kenceng cara suling dipetitkeun … nyéorkeun keusik ti basisir, jiga hujan anu kerep!
Mantak pikeueungeun, mantak pisieuneun, pieun jelema hanteu bisa sosoranganan di angin barat !
Jauh di tengah laut, kadeuleu aya sababaraha parahu hanteu béda catang palid nurutkeun palidna guntur… Rakéan unggah ka ruhur karang, abéh teges kadeuleuna. Ti Ruhur karang anu liuh dihalangan deui karang, Rakéan neuleukeun prahu… kabéhna aya sapuluh. Garedé eujeung jarangkung, béda ti parahu-parahu anu inyana anggeus neuleu. Rakéan lain urang basisir. Inyana hanteu wauh keuna bangun parahu, ngan inyana nyaho, nu kumaha rupa kolek, nu kumaha rupa payang, jeung nu gedé jasa ngarana kapal…. tapi anu harita kadeuleu umpal-ampul dicocoo ombak, leuwih gedé payang, jeung leuwih leutik manan kapal ! Parahu naeun?
Keur inyana tatanya jero haté, kadeuleu parahu daratangna gancang jasa… kadeuleu teges loba parahu anu paréunggas tihang layarna ! Jeung kadeuleu di parahu anu rada gedé, ngebul haseup mani nyerebung, jeung seuneu katémbong ngageda-gedag…. Kahuruan ! Parahu keur kahuruan!
Rakéan hayang nulungan, tapi kumaha nulungannanan ? Lain tulunganeun, sabab jauh teuin, jeung lautna … deuleu … ! Inyana ngan bisa neuleukeun bari hanteu puguh polah jeung ratug haté keketugan !
Parahu anu keur hurung, ku ombak didémpétkeun ka parahu hiji deui… der kahuruan. Ku Ombak nu neunggar di buritan, parahu anu keur démpét, dipisahkeun deui, tapi disoloyongkeun ka tengah parahu-parahu anu séjénna. Der deui tambah dua parahu jadi jiga tungku pakapuran… opat parahu gedé umpal-ampul jaradi seuneu dina cai, cai laut anu keur motah ! Parahu saha ? Ti kajauhan ku Rakéan kadeuleu anu laluncatan ka laut….
Harita di Ci Dadap, di Sumur Haur Pamunjungan, Nyi Putri Bidadari Arum Wiyaga ngarasa aya anu sasambat ti tengah sagara ! Ku inyana dilik dina dampal leungeun.. témbong bajo-bajo anu beurang téa. Tapi… tapi heueuh bajo anu tadi deuk ngaruksak Ci Dadap téa ! Tapi heueuh, bajo sotéh tadi ! Ari anu keur sasambat di angin barat mah, jelema keur lésot tina kabajoannana….
Apanan ceuk éyang Aki Léngsér, tulungan sakur anu di sagara deuk cilaka ku angin barat. Tapi ceuk éyang Aki Léngsér kénéh, caremkeun parahu-parahu bajo keuna batu karut ! Ceuk éyang Aki Léngsér ogé deuk cilaka. Tapi ieu mah keur cilaka ! Mudu kumaha nyaaaaah ?
Ceuk éyang Aki ogé, caremkeun parahu-parahu bajo, lain bajo-bajona atuh hartina !
Nya ku Nyai Putri Bidadari Arum Wiyaga, opat parahu bajo anu keur jaradi gulungan seuneu, jeung genep deui anu hanteu kahuruan, ku inyana diléongkeun ka basisir … jegér…. parahu anu panggedéna neumbrag karang batu karut…. haluanana mani bencar, buritannana ngacung ka ruhur… dijepit karang di jero laut, hanteu jauh ti muharana Ci Sakawayana… Ci Sakawayana anu kiwari, tapi muharana mah, anu baheula….
Parahu-parahu anu séjénna, kandas dina keusik bari digubag-gabigkeun ombak
(49)
di lebahan anu jauh ti darat, eujeung moal bisa didatangan dina laut keur motah kitu !
Aya tilu anu ku Rakéan kadeuleu teges ! Tina parahu anu bencar kadeuleu aya anu mecleng ka laut. Hiji lalaki jangkung gedé anu dedegan inyana, asa-asa Rakéan nyorang neuleu, tapi hanteu inget deui saha-sahana. Inyana bareng mecleng jeung hiji budak awéwé. Laju harita kénéh, lebahan éta lalaki ragag ka laut, ngocopok lauk gedé jasa….
Kadeuleu teges ku Rakéan, lauk gedé eudeuk nyaplok éta budak ! Rakéan eudeuk luncat, eudeuk nulungan, tapi jauh teuin… moal kaburu! Kadeuleu teges ku Rakéan barang lauk gedé geus calangap, budak téh ngalugas kujang … lauk gedé harita kénéh ngejat bari ngajeblag, jiga reuwas pangreuwas-reuwasna, laju leungit ka jero laut. Tapi budakna, ku ombak galeng anu gedé ruhur jeung ngabudah, diséblokkeun ka basisir…. Ku Rakéan laju diburu, dipangku dibawa jauh ka darat…..
Waktu deuk diécagkeun, budak téh deuk narajang Rakéan, tapi kujang inyana katéwak ku Rakéan bari murilitkeun leungeun budak. Ngan baé hanteu bedas !
Ceuk éta budak sabari tetejeh :”Leupaskeun, bajo, leupaskeun!”
Ceuk Rakéan : “Kula mah, lain bajo”
Budakna neuleukeun Rakéan, jiga sieun, tapi hanteu sieun… laju hanteu sieun….
Ceuk Rakéan : “Dia saha ?”
Ceuk budak sabari ngagibrigkeun buuk inyana anu baseuh : “Urang Ci Dadap, kula ditéwak bajo”
Rakéan ngarénjag dina haté … Ci Dadap…. bajo… jeung ieu kujang … tétéla kujang jieunan inyana baréto….
Ceruk Rakéan : “Saha dia ngaran ?”
Ceuk Budak : “Nyai !”
Haté Rakéan béda rasana, veuk pikir inyana “ :Tiiiilok geus sagedé kieu? Boa anak kokolot … ?! Tapi éta kujang ????”
Bajo,bajo anu sok rarampog sabari ngahuru, bari cuculik jeung peupeuncit…. Keun baé ! Sapeuting éta mah, moal barisa unggah… kara jleng ogé, geus dibaretot céot, dibareubeutkeun keuna karang ku pulek dina ombak !
Rakéan jeung budak anu rancucud, narindak ka tukangeun karang anu nadah angin anu kencengna ngadadak rosa jasa. Di anu iuh, inyana eudeuk miruha, nyieun seuneu pieun ngagarang samping budak !
Ceuk budak : “Lapar….!”
Lapar … Rakéan ogé ti kamarina kénéh can manggih kéjo, anggeus ngakanan cau leuweung baé. Ras inyana inget, tadi ti ruhur karang kadeuleu di beh wétan aya imah. Harita, poé geus laju poék. Beurang keur tukeur giliran, giliran peuting ngarurub alam….. Rakéan nindak sabari nungtun budak, narindak dina peuting anu poék, ngalawan angin anu ngagelebug rosa jasa, nepieun budak mah teu bisa laju…. Nya digandong ! Di Babakan leutik anu harita imahna kara aya opat suhunan, arinyana disuguhan.
Ceuk anu boga imah : “Ti marana ?”
Ceuk Rakéan : “Ti Kulon ! Ari budak mah, urang Ci Dadap ! Diculik bajo !”
Ceuk nu boga imah : “Bajo ? Di mana aya bajo ?”
(50)
Rakéan nyaritakeun anu tadi kadeuleu inyana !
Urang babakan hanteu arengeuh, sabab tadi keur ngareli keuna sodong di béh tonggoh.
Ceuk nu boga imah : “Loba ?”
Ceuk Rakéan : “Nya. Loba sugan, amun teu marodar ku ombak mah“
Urang babakan dikumpulkeun, laju badami. Laju nararindak bari marawa pakarang ka lebahan parahu kandas … nararindak dina peuting anu poék. Kabéhna, dua aki-aki, opat nini-nini nu baredas kénéh nutukeun halu, opat lalaki mareujeuhna gagahna, lima awéwé mareujeuhna leuleus liatna, genep barudak bujang meujeuhna teuas heuheurasna, genep barudak tanggung mareujeuhna dédéglerna, jeung opat cawéné mareujeuhna sareseg peupeungkeurna! Di babakan tinggal hiji nini-nini anu geus moal teurak disangray disangray acan. Inyana nanggoan imah jeung barudak anu laleutik keneh !
Tapi anggeus kitu diatur ku Anu Nyieun lalakon, nepi ka basisir téh, ti darat ngadak-ngadak ngagelebug angin kenceng rosa jasa. Urang babakan nareuleu lima parahu gedé anu melegmeg hideung di laut anu poék, laju nyoloyong deui ka tengah laut. Nyoloyongna garancang jasa, ditiup angin anu kenceng diséréd ombak anu galedé ruhur ….. mingkin jauh mingkin jauh …. Di basisir anu harita kasampak pabalatak dina keusik, sugan aya opat puluh bajo…. laju didareukeutan !
Anu arambekan kénéh jeung anu arusik, laju dipodaran. Lain taralenges! Tapi di mana-mana ogé ari bajo mah dikaritukeun ! Anu henteu arambekan kénéh jeung anu hanteu arusik ogé, diparodaran deui, abéh bener-bener paraéhna !
Rakéan sabari ngagandong budak awéwé téa, ogé nindak ka basisir. Inyana mah néangan bajo-bajo anu sareger kénéh, anu babari teuin ngamodarannana mah, ku inyana disérénkeun ka urang babakan. Inyana mah hayang bajo anu sareger, bajo-bajo anu barisa kénéh ngalawan enya-enya ! Tapi hanteu kasampak aya deui bajo !
========================
Cag teundeun …..
Urang tunda di babakan anu bakal gagal, anu gagalna sabab anu nyariar untung, teu barisa ngitung, ngahambur dur diawur-awur …. kari somah katempuhan, nebus gadéan anu lapur…..
Urang tuduhkeun heula lebahan bencarna parahu gedé anu panggedéna ! Dina pisan urut bencarna parahu bajo, anu buritanana ngacung ka ruhur, nepi ka kiwari témbong kénéh sesa-sesana. Tapi geus ngarupa karang anu nyeplés buritan prahu gedé …. Ceuk anu harayang diperecaya mah cenah, éta karang téh, baheulanana buritan parahu bajo anu bencar téa !
Ayana parek pisan ka karang batu karut anu ogé disarebut BATU LAWANG, sabab numpukna kénca katuhu, cara gapuran jaman baheula! Ayana éta batu lawang hanteu sabaraha jauhna ti muhara Ci Sakawayana.
Baheula mah éta Batu Lawang téh, ayana jauh jasa ti laut, ceuk anu nyaraho di ugana, engké jaga, amun di balik batu anu jiga lawang geus ngadeg imah teu dihateupan, éta lawang baris dibuka ku anu ngarasupkeun jaman harudang jeung hariwang. Hariwang pieun sakur anu nyunyusah jeung nyingsieunan somah ! Hareudang pieun anu sarenang dina babangsat, aradigung abong keur pangkat, jararembar dina ruruba….
Deui ceuk ceunah ti anu nyaraho di ugana, Amun Batu Karut diaut-aut di gunung anu digempur, geura tanggoan baé datangna béja : Aya Raja Gagah dipaéhan anu edan, anu ngaku-ngaku Ratu Adil, da bongan saruka-suka di lain wayah !
========================




























