Friday, June 4, 2010

Mengulas Saat Terakhir Pakuan Pajajaran




Pantun Bogor....

sesaat saya terhenyak membaca tulisan baraya kita disitus jejaring sosial Facebook

menguraikan walau secara singkat tentang Pantun tersebut.

Terlebih diceritakan dalam pantun tersebut, bahwa Prabu Ragamulya/Suryakancana

/Prabu Siliwangi V? mengalami saat saat yang getir sebagai penerus tahta kerajaan

besar, melarikan diri akibat serangan Koalisi kerajaan Islam yang dipimpin oleh

Sultan Maulana Yusuf anak dari Sultan Hasanudin atau cucu dari Sunan Gunung

Djati/Syarif Hidayatullah (anak dari Nyimas Rara Santang atau masih cicit Prabu

sri Baduga Maharaja dari istri yang bernama Nyimas Subang Larang)
.

Bahkan menurut Pantun tersebut, Uga Wangsit Siliwangi disampaikan Prabu Ragamulya di

saat masa pelarian itu berakhir. Hal tersebut, sangatlah masuk akal karena memang

pada awal kalimat uga disamapaikan kata " ”Lalakon urang ngan nepi ka poé ieu,

najan dia kabéhan ka ngaing pada satia! Tapi ngaing henteu meunang mawa dia

pipilueun, ngilu hirup jadi balangsak, ngilu rudin bari lapar. ............. ”"
.

Artinya kurang lebih ”Kisah kita (=Pajajaran) hanya sampai disini, meskipun

kalian semua setia kepadaku! Tapi saya tidak bisa membawa kalian ikut-ikutan

bermasalah),ikut hidup susah, ikut miskin dan kelaparan. .........”
. Jadi

sangatlah tidak mungkin kalau uga tersebut disampaikan oleh Prabu Sri Baduga

Maharaja, karena kondisi Pakuan pajajaran pada kedua tokoh tersebut jauh berbeda.

Hal lain yang menarik, adalah diceritakan pula dalam pantun tersebut bahwa Prabu

Ragamulya melakukan pelarian sampai ke Ujung Genteng Sukabumi. Disana dikisahkan

rencana Prabu Ragamulya yang sempat membuat perahu besar untuk keperluan menyebrang

ke pulau Nusa Larang? pulau tersebut kini bernama P. Christmas. Namun rencana

tersebut digagalkan oleh badai dashyat. Selanjutnya, Prabu Ragamulya pun memilih

mengasingkan diri/Moksa/Ngahyang. Sementara itu, Putrinya yang bernama Dewi Purnama

Sari memilih melakukan perjalanan ke daerah sekitar Pelabuhan Ratu, kemudian sang

Putri Ngababakan mendirikan kampung disana bersama para pengawalnya.

Perkampungan tersebut berkembang menjadi semacam kerajaan kecil sehingga tempat

tersebut dikenal kini sebagai pelabuhan Nyai Ratu/ Pelabuhan Ratu. Sedangkan Putra

Mahkota yang bernama Pangeran Anom Kean Santang? menyelamatkan diri ke daerah hutan

digunung Halimun dan menyamarkan diri dengan nama Batara Cikal. Selanjutnya kelak

akan menurunkan keturunan yang sekarang dikenal sebagai masyarakat adat Banten

Pancer Pangawinan(Masyarakat Kesatuan Adat Ciptagelar).

Isi Pantun diatas hanyalah isi Pantun Bogor leutik, karena sebetulnya Pantun itu

sendiri terdiri dari dua episode. Pantun Bogor Leutik berkisah sekitar kehidupan

sehari-hari masyarakat Kerajaan Pajajaran atau tentang para putri raja dan

kesatria. Sedangkan Pantun Gede berkisah tentang ajaran agama Sunda, silsilah Raja

Sunda, Uga, dan pola pemerintahan Kerajaan Sunda. Pada masa lalu Pantun Bogor

disampaiakan oleh juru pantun sambil diiringi petikan kecapi lisung senar tujuh

khas Pajajaran yang kini sudah punah.Pantun Bogor ditulis sekitar tiga ratus tahun

lalu oleh seorang pujangga misterius yang memiliki nama samaran Aki Uyut Baju

Rambeng hidup di sekitar Jasinga Bogor.

Naskah tersebut kemudian diwariskan kepada Rd. Wanda Sumardja seorang Demang masa

penjajahan Belanda. Naskah-naskah kemudian diwariskan lagi kepada Raden Mochtar

Kala asal Bogor yang kemudian lebih dikenal dengan nama Rakean Minda Kalangan (RMK)

sesepuh Bogor yang meninggal tahun 1983 lalu dalam usia 79 tahun. Semasa hidupnya,

RMK kerap dijadikan narasumber oleh berbagai pihak tentang budaya Sunda. Namun,

dari sekian banyak yang belajar kepadanya, hanya dua orang yang terpilih untuk

mewarisi Pantun Bogor yakni sejarawan Drs. Saleh Danasasmita dan Anis Djatisunda.

Kini tinggal Anis Djatisunda (71) yang masih hidup, tokoh berdarah Sunda dari ibu

dan Sangihe Talaud Sulawesi Utara dari ayahnya ini dikenal sebagai sesepuh

budayawan Sunda dan kerap diminta pendapatnya oleh berbagai pihak.

Anis menegaskan bahwa Pantun Bogor yang ia jelaskan kepada khalayak umum dewasa ini

hanya diambil dari naskah Pantun Leutik, sedangkan ungkapan Pantun Gede dengan teks

aslinya masih dirahasiakan karena sifatnya yang sakral. Bagian ini hanya akan

diberikan kelak kepada ahli waris Pantun Bogor, yang hingga kini belum ia temukan.

Anis berharap sebelum ajal menjemputnya, ia ingin menemukan pewarisnya yang

benar-benar mencintai Kasundaan, yang berkepribadian ”Nyunda, Nyiliwangi, dan

Majajaran” dan memiliki jiwa yang Saharigu, Sasusu, Sahate jeung Sarancage (Sehidup

dan Semati) dengan Kasundaan. Bila tidak juga menemukan sosok yang sesuai, Pantun

Bogor terpaksa akan ia bakar, hal itu sesuai pesan mendiang Rakean Minda Kalangan.

Akan tetapi mudah-mudahan hal itu tidak terjadi, sebab bila kemudian harus sirna

karena dibakar tentu sangat disayangkan, pasalnya kedudukan pantun ini bagi

sebagian sejarawan dan budayawan memiliki nilai tinggi dalam perjalanan sejarah

sastra dan budaya Sunda.

Sekali lagi saya terhenyak, betapa tidak dalam pantun tersebut dikisahkan bagaimana

sesama turunan Prabu Sri Baduga maharaja saling berperang untuk saling merebut

kekuasaan yang bernama tanah Pasundan. Hingga akhirnya Sumedang Larang yang

dipercaya untuk meneruskan Trah Pajajaran melalui perjuangan empat kandaga lante

pun terhempas Mataram yang pada saat itu secara masive melakukan ekspansi ke

berbagai daerah.

(bersambung)

Source: Koran Pikiran Rakyat, Senin 1 Maret 2010

Notes Rakean di FB

Blog Kang Firman

Kang Wiki

(Hapunten bilih mipit teu amit, ngala teu bebeja), mugia dihampura

Lanjut membaca “Mengulas Saat Terakhir Pakuan Pajajaran”  »»

Tuesday, May 18, 2010

Kebudayaan Tembikar Buni


Oleh: Agustijanto indradjaya



Penelitian arkeologi di situs Batujaya, yakni sebuah komplek percandian yang

bersifat Buddhistik di daerah Karawang ternyata mengharuskan kami (arkeolog)

melihat kembali penelitian terhadap budaya Komplek


tembikar Buni yang pernah populer sekitar tahun 1960-an. Ketika itu para arkeolog

dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional yang dimotori oleh R.P.Soejono dan

Sutayasa harus berlomba dengan para penggali liar yang bertujuan mencari emas dari

kubur-kubur prasejarah di wilayah pantai utara Jawa. Pada awalnya temuan

kubur-kubur prasejarah ini ditemukan di desa Buni (Bekasi) dan kemudian daerah

perkembangannya ditemukan meluas ke arah timur di daerah sungai Citarum dan sungai

Bekasi hingga Ciparage di Cilamaya. Istilah komplek tembikar buni ini muncul;

ketika adanya persamaan corak hiasan dari fragmen tembikar yang ditemukan di

beberapa tempat antara Bekasi dan Cikampek. Beberapa situs Buni yang pernah

diteliti antara lain di Buni, Kedungringin, Cabangbungin dan Bulaktemu di Bekasi,

Batujaya, Kobak Kendal, Cilebar Babakan Pedes di daerah Rengas Dengklok.


Namun demikian baru pada tahun 2005 sampai sekaranglah manusia pendukung budaya

Buni ini berhasil diungkap lebih jauh. Ya sebuah komplek kubur periode prasejarah

atau tepatnya periode protosejarah (sekitar abad 1 sm -2 masehi ) berhasil

ditemukan di situs Batujaya. Di situs ini tidak kurang 10 individu berhasil

ditemukan kembali meskipun beberapa diantaranya ada indikasi pernah digali secara

liar (mungkin sisa penggalian tahun 60-an). Berikut beberapa foto yang dapat

dilihat betapa mereka sebenarnya merupakan satu masyarakat yang telah memiliki

teknologi yang cukup memadai untuk mengelola lingkungannya pada masa itu.


Lalu siapakah mereka ? menurut Harry Widi, Arkeolog senior di Museum Sangiran

menyebutkan bahwa mereka berasal dari jenis ras Mongolid. beberapa dari Mereka

menunjukkan struktur tengkorak yang tebal dengan tekstur yang keras. Proses

fosilisasi telah bermula dengan masuknya mineral silika pada tekstur tulang, akan

tetapi masih dalam tahap awal. Banyaknya mineral silika ini mungkin disebabkan oleh

lokasi temuan rangka yang berada dalam lingkungan berpasir.


Sumber: http://tapakarkeologi.blogspot.com/2009/04/mereka-para-pendukung-budaya-komplek.html
Lanjut membaca “Kebudayaan Tembikar Buni”  »»

Monday, May 17, 2010

Situs di Sekitar Gn Wayang, Bandung



Sumber : Harian Pikiran Rakyat 19 Februari 2008

Oleh T. BACHTIAR

KATA wayang dalam Gunung Wayang yang berada di selatan Bandung itu ternyata bukan

berasal dari kata wayang (golek) seperti yang kita kenal saat ini. Wayang di sini

berasal dari kata wa, yang berarti angin atau berangin lembut, dan yang atau hyang

artinya dewa. Jadi, kata wayang yang menjadi nama gunung ini berarti angin surgawi

atau angin dewata yang lembut, yang mencirikan gambaran keindah-permaian alam yang

abadi.


Gunung Wayang sudah dikenal sangat lama, sejak manusia leluhur Bandung memuja

Tuhannya di kesunyian alam yang permai. Dr. N.J. Krom (1914) melaporkan bahwa di

salah satu puncak Gunung Wayang terdapat beberapa arca dari batu cadas yang

pengerjaannya kasar, dan terdapat pula 40 arca lainnya. Dalam salah satu kuburan di

sana terdapat pecahan-pecahan tembikar, kapak batu, dan tembikar.

N.J. Krom juga melaporkan, di dekat hulu Ci Tarum terdapat guci-guci dan sebuah

arca dengan mahkota (seperti sebuah meriam kuno).


Di sisi Perkebunan Kina Argasari, Pacet, terdapat parit-parit pertahanan yang

terbentuk rapi. Bila dilihat dari atas, terdapat pola-pola yang teratur mengikuti

garis ketinggian yang kemudian dipapas untuk kepentingan pertahanan. Keadaannya

masih terjaga, kecuali di beberapa tempat yang pernah dipakai untuk pembibitan kopi

serta beberapa rumah yang berjajar di arah selatannya.


Bujangga Manik, rahib pengelana dari Kerajaan Sunda abad ke-15, dalam perjalanan

pulang dari ekspedisi suci kedua mengelilingi Pulau Jawa dan Pulau Bali,

menyempatkan untuk mengunjungi tempat suci di Gunung Wayang.

Dalam daun lontar Bujangga Manik menulis:

“…

Sacunduk ka Gunung Sembung,

Eta huluna Ci Tarum,

Di inya aing ditapa,

Sambian ngeureunan palay,

Tehering puja nyanghara,

Puja nyapa pugu-pugu,

Tehering nanjeurkeun lingga.

…”

“…

Sadari aing ti inya

Leumpang aing ngidul-ngetan,

Meuntasing di Ci Marijung,

Meuntasing di Ci Carengcang,

Meuntas aing di Ci Santi,

Sananjak ka Gunung Wayang.

…”

Ini menunjukkan, bahwa Gunung Wayang dan sekitarnya sudah sangat dikenal sejak lama.

Pada tahun 1930-an Pangalengan sudah menjadi objek wisata yang terkenal karena

pemandangan alamnya yang permai. Apel dan kapas yang bermutu tumbuh dengan baik di

sini, ditambah keasrian hotelnya, membuat Pangalengan menjadi sangat terkenal.

Nji Anah, Zangeres-Dichteres di Tjiandjoer, juru mamaos Cianjuran dan penulis dari

Cianjur, menulis pupuh yang kemudian menjadi buku panduan wisata, Beschrijving van

Pangalengan en Omstreken yang dilengkapi dengan foto-foto dan peta berukuran besar

yang sangat terperinci.


Dalam pupuh Sinom, Nji Anah menulis:

Tanah ma’mur Pangalengan

Mun ku urang dikuriling

Atawa ditingalian

Palih ti wetan ngadingding

Watesna Gunung Bedil

Gunung Wayang Gunung Windu

Ngantay jadi sajajar

Jiga nu pairing-iring

Cek urang teh bade arangkat ka mana?

Tanah Makmur Pangalengan

Jika kita kelilingi

Atau sekadar dilihat

Sebelah timur mendinding

Batasnya Gunung Bedil

Gunung Wayang Gunung Windu

Seperti beriring-iring

Kata kita mau berangkat ke mana?



Dalam buku itu, Nji Anah pun menuliskan sakakala Gunung Wayang:

Tersebutlah seorang keturunan Ratu yang bernama Pangeran Jaga Lawang. Dalam

kehidupannya ia sering bersemedi di puncak Gunung Wayang yang sunyi. Sang Pangeran

mempunyai seorang puteri cantik tiada tandingannya. Puteri Langka Ratnaningrum,

namanya. Ia sudah mempunyai calon, pemuda keturunan Galuh. Gagak Taruna, namanya,

yang sedang menempa diri dengan melakoni hidup bertani di lembah Ci Tarum yang

subur. Pemuda yang rajin, siang bertani, malam bersemedi.


Padi tampak subur dan hasilnya pasti akan jauh lebih banyak dari panen musim lalu.

Maka disepakati untuk segera menikah dengan puteri pujaan hatinya.

Seperti biasa, ia sering bersemedi di makam Nyi Kantri Manik di hulu Ci Tarum.

Malam itu terlihat datang gadis cantik yang tiada taranya. Gagak Taruna kaget.

Diam-diam ia jatuh hati kepada gadis itu, namun si cantik segera menghilang di mata

air. Sadar itu sekedar godaan, maka ia segera pulang. Namun pikiran dan hatinya

masih terus terpaut kepada si cantik di hulu Ci Tarum.


Padi sudah menguning, tapi belum juga dipanen. Rupanya Gagak Taruna sedang kasmaran

kepada bayangan si cantik. Semua merasa aneh, karena Sang Pangeran terlalu sering

bersemedi di hulu Ci Tarum begitu magrib menjelang. Bukan tiada yang mengingatkan,

namun pemuda itu sudah terpincut senyum yang sangat memikat.

Nyi Kantri Manik asalnya gadis yang cantik yang sakit hati hingga meninggalnya

karena pemuda pujaan calonnya tidak menepati janji untuk bersatu. Kini ia selalu

membalas dendam dan membenci semua lelaki yang lengah.


Sang Pangeran selalu diingatkan agar segera mempersiapkan diri karena waktu

pernikahan sudah dekat. Padi yang sudah lama matang kemudian dipanen. Persiapan

menikah besar-besaran sudah dipenuhi. Ketika waktunya tiba, iring-iringan seserahan

bergerak menuju puncak Gunung Wayang tempat calon mertuanya berada.

Setelah calon pengantin pria dirias, ia memohon diri untuk melakukan nadran ke hulu

Ci Tarum. Sesampainya di sana, ia menyuruh pengiringnya mundur dan segera menuju

puncak Gunung Wayang, karena ia akan segera menyusul. Setelah kembang rampe, melati

dan campaka ditebar, di seberang terlihat Nyi Kantri Manik tersenyum memikat.

Dengan sigap Gagak Taruna berdiri, berjalan menuju ke tempat senyuman yang terus

mengembang. Gagak Taruna terus berjalan di dalam air menuju bayangan hingga

akhirnya tenggelam.

Di tempat calon pengantin wanita, semua gelisah menunggu, ke mana Gagak Taruna?

Rombongan yang menyusulnya mendapatkan Sang Pangeran sudah mengambang.

Pangeran Jaga Lawang sangat prihatin. Ia melampiaskan rasa dukanya itu dengan

mengobrak-abrik apa yang ada di dapur. Hawu/tungku dilemparkan dan perabot dapur

dibanting. Makanan yang dimasak dilemparkan sampai habis, maka terbentuklah kawah

Gunung Wayang.

Air yang mendidih dengan lalab-lalabannya dilemparkan membentuk kawah Cibolang di

Gunung Windu.

Puteri Langka Ratnaningrum sangat bersedih, lalu berjalan tak tentu arah. Ternyata

ia sudah berada di dalam hutan. Air mata darah terus mengucur. Itulah yang kemudian

membentuk air terjun Cibeureum di Gunung Bedil.

Nayaga yang masih berharap Sang Pangeran datang tak mau pergi, maka berubahlah

mereka menjadi arca. Sebagian alat-alat tabuhnya dilemparkan, di antaranya

membentuk Gunung Kedang.

Mayit Gagak Taruna dikubur di hulu Ci Tarum. Sementara itu Pangeran Jaga Lawang

menempa diri menyepuh hati, menghyang di Gunung Seda, ia selalu menanti putri yang

dicintainya segera pulang.


Oleh karena itu jangan heran, bila pada malam bulan purnama sering terdengar

sayup-sayup bunyi gamelan. Itulah prosesi penyambutan pengantin pria. Bila terlihat

asap Gunung Wayang mengepul berlapis-lapis, itu artinya keluarga pengantin

perempuan sedang sibuk memasak.


Kini, Gunung Wayang-Windu itu sudah dimanfaatkan energi panas buminya (geotermal),

sehingga dapat menambah pasokan energi untuk Jawa-Bali. Panas bumi di sini akan

panjang umurnya kalau pasokan air yang meresap ke dalam bumi terjaga. Sebaliknya,

bila keadaan hutan di tangkapan hujan yang memasok air terus berkurang, dapat

dipastikan umurnya akan berkurang.***


Penulis, anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung


Lanjut membaca “Situs di Sekitar Gn Wayang, Bandung”  »»

Situs Batu Jaya



Berdasarkan analisis bangunan dan peninggalan artefak yang ada, Batujaya merupakan

kompleks candi tertua di Pulau Jawa.

Situs Batujaya

Sebelum setengah abad yang lalu, dunia arkeologi memang sepi dari temuan yang

berarti. Namun sejak Situs Batujaya ditemukan pertama kali oleh warga di Desa

Segaran, Kecamatan Batujaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, para arkeologi

tercengang. Temuan itu boleh jadi merupakan prestasi terbesar di Asia selama 50

tahun terakhir ini.

Betapa tidak, berdasarkan riset para arkeolog dari Jurusan Arkeologi Universitas

Indonesia (UI), jumlah candi yang sudah diteliti (diekskavasi) di kawasan Batujaya

sejak ditemukan pada tahun 1984 hingga 2000 itu mencapai 11 candi.

Malah menurut riset yang digarap Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi

Nasional (P3AN), hingga 2006 lalu di kawasan itu ada sekitar 31 candi. Dua di

antaranya yang paling monumental adalah Candi Blandongan dan Candi Jiwa.

Keduanya berbentuk bujur sangkar dan bercorak Budha. Kedua candi tersebut sangat

berbeda dibandingkan candi-candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang dibuat dengan

bahan batu.

Candi Blandongan dan Jiwa tersusun dari bata merah yang konon dicampur dengan kulit

kerang. Maklum, ketika itu sangatlah sulit menemukan batuan andesit di lokasi yang

tak jauh dari pantai utara Jawa.

Sementara itu, lapisan dinding dan hiasan candinya menggunakan bahan yang unik,

yakni stuko atau campuran dari pasir, kerikil, dan kulit kerang. Candi Blandongan

berukuran lebih besar, dengan panjang dan lebar masing-masing 24,2 meter.

Candi bertingkat satu dengan satu stupa di tengahnya ini punya empat tangga yang

berfungsi sebagai pintu.

Menurut Hasan Djafar, arkelog dari UI yang menjadi Ketua Tim Penelitian Batujaya,

dengan desain arsitektur seperti itu, Candi Blandongan diduga merupakan candi utama

di kompleks Batujaya.

Sementara itu, Candi Jiwa yang berukuran panjang dan lebar masing- masing 19 meter

serta tinggi 4,7 meter itu tidak memiliki pintu dan tangga.

Bentuk semacam ini jelas tidak ditemukan pada candi manapun di Indonesia. Pada

bagian atas candi tersusun bata melingkar dengan ukuran diameter enam meter.

Para arkeolog menduga bangunan tersebut merupakan stupanya. Bentuk di bagian atas

laksana bunga padma atau teratai. Di tengahnya terdapat denah struktur melingkar

sebagai tempat stupa atau lapik patung Budha.

Candi Tertua Berdasarkan analisis bangunan dan peninggalan artefak yang ada, Djafar

yakin, Batujaya merupakan kompleks candi tertua di Pulau Jawa.

Alasannya, umur benda-benda bersejarah itu berasal dari abad ke-2 hingga ke-12.

Dengen demikian, Situs Batujaya berada di ambang batas masa prasejarah dan sejarah.

Seperti diketahui, batas masa prasejarah adalah sebelum tahun 400 Masehi. Beragam

benda kuno yang ditemukan antara lain arca, manikmanik (terbuat dari batu, kaca,

dan emas), serta tembikar yang berjumlah sekitar 10.000 buah.

Tembikar yang berupa perikuk, kuali, kendil, piring, mangkok, guci, tungku, bandul

jala, dan lain-lain ini berasal dari berbagai daerah dan negara.

Sementara itu, 30 fosil kerangka manusia yang ditemukan, berdasarkan analisis

arkeolog, berasal dari periode prasejarah yang disebut Buni Pottery Complex atau

Kompleks Tembikar Buni.

Buni merupakan bekas permukiman prasejarah yang punya tradisi menguburkan mayat

yang dibekali benda-benda berharga seperti gelang kaca, manik-manik (yang terbuat

dari kaca, batu, atau emas), dan lain-lain.

Buni ditemukan di dekat Kali Bekasi. Melalui berbagai penemuan mencengangkan itulah

wajar kalau para arkeolog menyimpulkan Situs Batujaya sebagai penemuan arkeologi

terbesar di Asia dalam 50 tahun terakhir ini.

Kini, Anda pun bisa menikmati jejak-jejak dan hasil karya nenek moyang kita yang

fenomenal itu. Apalagi, akses ke lokasi yang terletak di koordinat 6o 6’ 15” – 6o

6’ 17” Lintang Selatan dan 107o 9’ 1” – 107o 9’ 3” Bujur Timur itu mudah dijangkau.

Usai dipugar, Situs Batujaya semakin ramai dikunjungi masyarakat luas.

Apalagi menjelang hari raya Waisak, umat Budha memanfaatkan candi itu untuk

menggelar upacara suci tersebut. Tak cuma itu, warga non-Budha pun terlihat menaruh

sesaji di Candi Jiwa itu usai panen raya.

Menurut keterangan warga, pemberian sesaji itu merupakan bentuk terima kasih kepada

Dewi Sri atas panen padi yang berlimpah.

Menurut ajaran Hindu, semua yang mengatur masalah keberhasilan membudidayakan

tanaman padi tak terlepas dari peran Dewi Sri.

Lumbung Beras Terlepas dari mitos tersebut, faktanya Karawang memang dikenal

sebagai lumbung beras nasional. Tanahnya subur.

Para petani bebas menanam padi sepanjang tahun tanpa harus menunggu musim hujan

tiba. Karawang juga tak pernah dilanda kekeringan. Air irigasi yang berasal dari

Sungai Citarum itu mencukupi kebutuhan budidaya tanaman.

Citarum adalah sungai purba yang mengalir mulai dari hulu di Gunung Wayang, Malabar

hingga bermuara di Laut Jawa. Sungai yang memiliki lebar 40 hingga 60 meter di

bagian hilir ini berkelak-kelok dan mempunyai tiga anak sungai; Solo Bungin, Solo

Balukbuk, dan Muara Gembong. Selain itu, kawasan Batujaya juga dialiri tiga sungai

lainnya, yakni Pakis, Sukajaya, dan Cikiong.

Lokasi Situs Batujaya

Dengan kondisi topografi se macam ini, tak heran kalau di masa lampau Batujaya

dijadikan kawasan persawahan dan perkebunan. Karena lokasinya sangat dekat dengan

pantai (sekitar enam kilometer dari Candi Batujaya), sebagian penduduk tempo dulu

berprofesi sebagai nelayan.

Jejak itu terlihat jelas dengan adanya jaring bandul dan sisa-sisa merang yang

ditemukan di Candi Batujaya.

Berbekal berbagai temuan bendabenda purbakala itu, kita sebenarnya bisa

merekonstruksi masa lalu. Puluhan ribu tembikar yang ditemukan itu merupakan

representasi dari hiruk pikuknya berbagai kegiatan pertanian, perdagangan, dan

penangkapan ikan masa lalu.

Di sektor perdagangan misalnya, nenek moyang kita itu sudah menjalin hubungan

dagang dengan berbagai negara seperti Thailand, Vietnam, Cina, Eropa, dan India.

Tembikar Arikamedu yang ditemukan di Batujaya misalnya, sebenarnya berasal dari

pelabuhan kuno di India Selatan pada abad ke-1.

Mereka juga sudah mengenal stratifikasi sosial dan kepemimpinan jauh sebelum

Kerajaan Tarumanegara berdiri pada abad ke-5.

Transaksi perdagangan bukan hanya terjadi di daerah pantai. Melalui Sungai Citarum,

aneka barang kuno itu disalurkan hingga ke pedalaman-pedalaman.

Sumber: http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=43365



Lanjut membaca “Situs Batu Jaya”  »»

Saturday, March 6, 2010

Bencana Alam Penyebab Keruntuhan Kabuyutan Sunda




Judul diatas sangatlah provokatif, dan

cenderung mengada ada. Namun demikian tak bisa

terbantahkan bahwa Kabuyutan Sunda dikelilingi oleh alam yang sewaktu waktu berubah

menjadi ganas dan mematikan. Letusan gunung berapi, bencana gempa yang bahkan

menimbulkan gelombang tsunami diduga menjadi salah satu faktor yang mendorong

kemunduran kabuyutan kisunda.

Penulis belumlah mendapatkan referensi yang akurat selain buku Atlantis sebagai

mahakarya Prof. Arysio Santos dan saduran tentang Kedahsyatan Letusan Gn Krakatau

yang tertuang dalam catatan syair kuno yang berjudul Syair Lampung Karam.

Dalam buku Atlantis, diyakini bahwa kepulauan Nusantara sebagai benua atlantis dan

merupakan satu satunya peneliti yang menyatakan bahwa Atlantis benar benar ada di

Nusantara.

Diyakini 11000 tahun SM, Gn Krakatau masihlah berbentuk Gn menjulang tinggi

walau tidak sepenuhnya utuh akibat letusan pertamanya. Bersamaan dengan itu

perkembangan kebudayaan manusia di sekeliling Gn Krakatau berkembang sangat pesat.

Bahkan dikatakan kebudayaan manusia mencapai puncak keemasan pada periode tersebut.

Diyakini pula bahwa penduduk masyarakat disana adalah masyarakat yang mungkin saja

sekarang dikenal masyarakat suku sunda (karuhun Sunda). Hal tersebut selalu

menimbulkan perdebatan panjang, tak sedikit yang mencibir sebagai bualan belaka.

Penulis meyakini bahwa masyarakat sunda, yang pada masa sampai menjelang keruntuhan

Pajajaran adalah masyarakat yang berbudaya tinggi. Masyarakat yang harmonis dengan

alam dan akibat pengalaman masa lalunya, dimana keseimbangan alam menjadi sebuah

kearifan lokal hingga berkembang menjadi sebuah budaya.

Bencana alam yang secara periodik menghantam kepulauan Nusantara berbuah kehancuran

termasuk mempengaruhi pasang surut kebudayaan karuhun sunda.


Sejarah mencatat, bahwa letusan gunung berapi dan gempa bumi berkali kali

memusnahkan peradaban disekitar kepulauan Nusantara.

Dimulai dengan meletusnya gunung Toba (75 Ribu th yang lalu) yang diyakini oleh

prof.Arysio Santos sebagai masa "Sang Ibu Agung" yang berakhir pada masa 11000 SM.

Setelah Alam sekitar kembali bersahabat bangkit kembali masa peradaban kedua yang

disebut "Putra Sang Perawan" sampai mengalami kehancuran yang massive akibat

letusan Gunung Krakatau sekaligus mengakhiri Zaman Es kala itu, dan sekaligus

mengakhiri Nusatara sebagai benua menjadi kepulauan. Kemudian perkembangan budaya

selanjutnya bergeser ke India (Diyakini mereka adalah para imigran dr Nusantara

pada th 3100 SM). Namun demikian diyakini pula mereka yang selamat melanjutkan

kembali untuk membangun peradaban di tanah Nusantara, walaupun hanya dengan jumlah

yang sedikit.

Kesimpulanya, ada tiga periode masa Atlantis sampai dengan hilangnya Nusantara

sebagai benua berubah menjai pulau. Orang Hindu mengenalnya sebagai kejadian

Trimurti (trinitas).

Setelah itu, kebangkitan budaya baru yang terpisah dan tidaklah sehebat kebudayaan

sebelumnya.

Di era keruntuhan Pajajaran, penulis meyakini letusan gunung salak mendorong

kehancuran persediaan pangan kerajaan pajajaran di sekitar tahun 1600 M, ditambah

dengan maraknya pemberontakan menyebabkan hampir punahnya budaya emas karuhun

Sunda peninggalan budaya Atlantis tersebut. Namun demikian sisa peninggalan

kejayaan tersebut benar benar hilang setelah letusan Gunung krakatau pada tahun

1883, terutama didaerah pesisir antara Lampung dan Ujung P Jawa bagian barat

tersapu gelombang Tsunami.

Hal tersebut dimuat dalam berita satu satunya sumber pribumi yang memuat kesaksian

mengenai kedahsyatan letusan Gunung Krakatau.

(Penulis, akan memuat isi naskah Lampung Karam di edisi berikutnya.)


Walaupun tulisan diatas bukanlah merupakan hasil penelitian, namun penulis meyakini

bahwa bencana alam meyebabkan kehancuran Kebudayan Emas Karuhun Sunda.

Lanjut membaca “Bencana Alam Penyebab Keruntuhan Kabuyutan Sunda”  »»

Monday, January 4, 2010

CUPLIKAN PERJALANAN BUJANGGA MANIK


CUPLIKAN PERJALANAN SUCI KEAGAMAAN BUJANGGA MANIK MENUJU SURGA

Nepi aing ka Cinangsi, Sesampainya aku ke Cinangsi,
meuntas aing di Citarum. aku menyeberangi sungai Citarum.
Ku ngaing geus kaleumpangan, Semua itu telah kullalui,
meuntas di Cipunagara, nyeberang di sungai Cipunagara,
lurah Medang Kahiangan, daerah Medang Kahiangan,
ngalalar ka Tompo Omas, berjalan lewat Gunung Tompo Omas,
meuntas aing di Cimanuk, aku nyeberang di sungai Cimanuk,
ngalalar ka Pada Beunghar, berjalan lewat Pada Beunghar,
meuntas di Cijeruk-manis, nyeberang di sungai Cijeruk Manis,
ngalalar aing ka Conam, aku berjalan lewat Conam,
katukang bukit Caremay. Gunung Ceremay telah kulewati.

Itu ta bukit Caremay, Yang itu Gunung Caremay,
tanggeran na Pada Beunghar, sebagai tiang tapal batas Pada Beunghar,
ti kidul alas Kuningan, dari arah selatan daerah Kuningan,
ti barat na Walang Suji, dari arah baratnya Walang Suji,
inya na lurah Talaga. itulah daerah Talaga.
Itu ta na Tompo Omas, Itulah yang disebut Gunung Tompo Omas,
lurah Medang Kahiangan. daerah Medang Kahiangan.

Itu Tangkuban Parahu, Yang itu Gunung Tangkuban Parahu,
tanggeran na Gunung Wangi. tiang tapal batas Gunung Wangi.
Itu ta gunung Marucung, Itulah Gunung Marucung,
tanggeran na Sri Manggala. tiang tapal batas Sri Manggala.
Itu ta bukit Burangrang, Itulah Gunung Burangrang,
tanggeran na Saung Agung. tiang tapal batas Saung Agung.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

leumpang aing nyangwétankeun, aku berjalan ke arah timur,
meuntasing di Cilamaya, kuseberangi sungai Cilamaya,
meuntas di Cipunagara, nyeberang di sungai Cipunagara,
lurah Medang Kahiangan, wilayah Medang Kahiangan,
ngalalar ka Tompo Omas, berjalan lewat Gunung Tompo Omas,
meuntas aing di Cimanuk, aku nyeberang di sungai Cimanuk,
ngalalar ka Pada Beunghar, berjalan lewat Pada Beunghar,
meuntas di Cijeruk-manis. nyeberang di sungai Cijerukmanis.
.................

Awak eukeur beurat pading, Badan sedang masanya dikubur,
eukeur meujeuh ngarampésan. sedang saatnya menuju keindahan.
Lamun bulan lagu tilem, Bagaikan bulan menjelang tenggelam,
panon poé lagu surup, matahari menjelang terbenam,
beurang kasedek ku wengi, siang terdesak malam,
tutug tahun pantég hanca, tutup tahun bertemu ajal,
nu pati di walang suji, yang mati di walangsuji,
nu hilang di walang sanga, yang meninggal di walangsanga,
awak nyampay ka na balay, badan bersandar pada balay ,
mikarang hulu gegendis, kepala berbantalkan selendang,
paéh nyanghulu ka lancan. meninggal menghadap lawan.
Pati aing hanteu gering, Kematianku tanpa sakit,
hilang tanpa sangkan lara, meninggal bukan karena derita,
mecat sakéng kamoksahan. melesat menuju kebebasan.

Diri na aci wisésa, Saat kepergian sang sukma,
mangkat na sarira ageung, keluar dari raga kasar,
ngaloglog anggeus nu poroc. copot sesudah yang terakhir,
Atma mecat ti pasambung, Sukma lepas dari ikatan,
aci mecat ti na atma, ruh lepas dari sukma,
pahi masah kaleumpangan. sama-sama lepas dan pergi.
Ragaing nyurup ka petra, Ragaku lebur ke kubur,
kaliwara jadi déwa, tak ternoda jadi dewa,
pasambung nyurup ka suwung. nyambung lebur ke kehampaan.
Atmaing dalit ka lentik, Sukmaku menyatu ke kegaiban,
sarua deungeun déwata. sama seperti leluhur.

Tuluy nyorang jalan caang, Selanjutnya menempuh jalan terang,
neumu jalan gedé bongbong. menemukan jalan besar terbuka.
Unggal sampang dilamburan, Tiap persimpangan disediakan bangunan,
laun lebak dicukangan, tiap lembah dipasang jembatan,
sumaray ditatanggaan, yang curam dipasangi tangga,
maléréng dipasigaran. yang miring dibuatkan titian.
Tapak sapu bérés kénéh, Bekas sapu masih nampak jelas,
barentik marat nimurkeun. lengkungannya mengarah ke barat timur
Golang-golang situ mungkal, Ngalir berputar telaga batu,
patali patalumbukan. saling kait bertumpukan.
Kembang patah cumaréntam, Rangkaian bunga semarak warnanya,

nambuluk apuy-apuyan, gemerlap menyala-nyala.
Tajur pinang pumarasi, Kebun pinang pumarasi,
pinang tiwi pinang ading, pinang tiwi pinang kuning,
pinang tiwi kumarasi, pinang tiwi kumarasi,
pinang ading asri kuning. pinang kuning indah kemuning.
Di tengah bantar ngajajar, Di tengah parit berjajar,
hanjuang sasipat mata, pohon hanjuang selaput mata,
handeuleum salaput hulu, pohon handeuleum setinggi bahu,
handong bang deung handong, pohon handong merah dan handong

‘haat di janma sajagat, ‘sayang kepada manusia sejagat,
bihari basa ngahanan, dahulu ketika tinggal,
masa di madiapada’. pada saat di alam dunia?.

Rakaki Bujangga Manik Yang mulia Bujangga Manik
ngarasa manéh ditanya. menyadari dirinya ditanya.
Umun teher sia nyebut, Lalu nyembah sambil berkata,
némbalan sakayogyana, menjawab sebagaimana layaknya,
nyarék sakaangen-angen, bicara sesuai dengan nurani,
némbalan sang Dorakala: menjawab kepada Sang Dorakala:
‘Mumul mangnyarékkeun manéh, ‘Malas membicarakan diri sendiri,
sugan bener jadi bélot, kalau-kalau yang benar jadi salah,
sugan rampés jadi gopél, kalau-kalau yang baik jadi jelek,
sugan sorga jadi papa, kalau-kalau kesenangan jadi penderitaan,
sugan pangrasa ku dapet, kalau-kalau menurutku bisa,
sugan pangrasa ku tembey, kalau-kalau menurutku sudah mati
Mumul misaksi na janma, Tak mau minta saksi kepada manusia
pangeusi buana ini, penghuni wilayah ini,
janma di madiapada. manusia di dunia.
Sariwu saratus tunggal, Seribu seratus satu,
kilang sahiji mo waya, meski seorang pun takan pernah ada

janma nu teteg di carék. manusia yang teguh akan ucapannya
Réa nu papa naraka, Banyak yang menderita di neraka,
kilang déwata kapapas, bahkan leluhur pun terbawa-bawa,
ku ngaing dipajar rényéh, kuanggap tak ada yang bisa dipercaya,

ja daék milu ngahuru, sebab mau ikut bersekongkol,
ja daék dibaan salah, sebab suka diajak salah,
ku nu dusta jurujana. oleh pendusta yang jahat.
Kucawali hénggan hiji: Kecuali hanyalah satu:

saksiing sanghiang beurang, kesaksianku kepada siang,
saksiing sanghiang peuting, kesaksianku kepada malam,
candra wulan deungeun wéntang, bulan purnama bersama bintang,
deungeun sanghiang pratiwi. serta kepada bumi.

Itu nu ngingu mireungeuh: Itu semua yang memelihara keperdulian:
pratiwi nu leuwih ilik, bumi yang lebih teliti,
akasa nu liwat awas, angkasa yang sangat jeli,
hidep nu nyaho di bener. pikiranlah yang mengetahui kebenaran
Inya nu ngingetkeun rasa, Yaitu yang mengingatkan perasaan

itu nu ngingu na bayu, itulah yang memelihara kekuatan,
éta nu milala sabda, yakni yang memperhatikan ucapan,

inya nu mireungeuh tineung, yaitu yang perduli akan ingatan,
nu milala tuah janma, yang memperhatikan sifat manusia
bisa di bélot di biner, mengerti tentang yang salah dan yang benar,
nyaho di gopél di rampés. tahu tentang yang jelek dan yang baik.
Hénggan sakitu saksiing.’ Hanya demikianlah kesaksianku.’

Carék aki Dorakala: Jawab yang mulia Dorakala:
‘Samapun sanghiang atma. ‘Mohon maaf, sanghiang sukma.
Mungku aing mirebutan, Sebab aku tak akan ngambil paksa,
ja na rua mungku samar. karena dalam rupa tidak samar.
Na awak hérang ngalénggang, Kilapan wujudmu kemilau,
na rua diga déwata, dalam hal rupa mirip dewata,
kadi asra kadi manik. bagaikan mutiara dan permata.
Na awak ruum ti candu, Harum tubuhmu melebihi candu,
mahabara ti candana, semerbak melebihi wangi kayu cendana,
amis ti kulit masui.’ manisnya lebih dari kulit masui.’
Kitu pamulu nu bener, Begitu rupa yang sesungguhnya,
éta na kingkila sorga. itu merupakan pertanda kesorgaan.
Samapun sanghiang atma, Mohon maaf, sanghiyang sukma,

rakaki Bujangga Manik, yang mulia Bujangga Manik,
leumpang sakarajeun-rajeun, silakan berjalan sekehendakmu,
sia ka na kasorgaan. keberadaanmu di alam sorga.
Samungkur aing ti inya, Lalu aku meninggalkan tempat itu,
leumpang nanjak nyangtonggohkeun, berjalan mendaki ke perbukitan,
husir kéh na taman hérang, hendak menuju ke taman indah,
dibalay ku peramata. yang ditaburi permata.

.....................
Cag heula!
Ambu Wirumangggay

“Hinduisme i.e. Sivaism made its entry into the Pasundan but wether it ever became popular is rather doubtful, as not more about half a score of images belonging to the Sivaitic pantheon have been discovered, whilst such temples and monasteries as abound in Middle and Eastern Java sought for in vain. Its fair to conclude therefore, that while a few of the native princes did perhaps adopt the foreign religion, the bulk of population remained true to their original creed founded on animism and ancestor worship”

Lanjut membaca “CUPLIKAN PERJALANAN BUJANGGA MANIK”  »»

SITUS CADAS NANGTUNG PASANGGRAHAN, SUMEDANG


BATU TONGGAK DI GUNUNG CADAS NANGTUNG PASANGGRAHAN, SUMEDANG SELATAN,
SITUS BCB-KAH ATAU SEKEDAR HASIL PROSES GEOLOGI SEMATA ?

Oleh: Richadiana Kadarisman Kartakusuma

1. Kearifan Lokal
Pepatah mengatakan “Lain Lubuk Lain Ikannya, Lain Padang Lain Pula Belalangnya” , ungkapan peribahasa yang menunjukkan betapa tajamnya nenek moyang kita di dalam mengngungkapkan masalah anekaragam data istiadat masing-masing daerah pada berbagai wilayah di (Kepulauan) Nusantara ini.

Secara sadar ataupun nirsadar sebenarnya ungkapan itu merupakan suatu cerminan tindakan sangat hati-hati bila kita mendatangi atu menilai daerah (baca: etnis) lain di dalam lingkungan masyarakat dan kebudayaan yang bersifat ‘mukti etnis’; yang menampilkan cara yang berbeda–beda pula, baik dalam proses pembentukan maupun pembekuan unsur-unsur tradisionalnya.

Berbicara tentang fenomena warisan aktivitas kebudayaan di Tatar Sunda (BCB), secara langsung berhadapan kepada berbagai permasalahan epistemologis yang fundamental:
- Apakah kita, bertolak dari keyakinan bahwa gagasan teoritis dalam pengetahuan Ilmu Sosial Budaya universal, seperti Ilmu Pengetahuan Alam, atau terikat kepada kebudayaan dimana gagasan itu dicanangkan? Ataukah harus diteruskan dengan pertanyaan
- “Apakah kebudayaan suatu masyarakat/individu/ kelompok sosial merupakan suatu sistem yang dihayati warganya sehingga pemahaman tentang lingkungan sosial dan biofisika harus dianggap seragam?”
- Ataukah pula masing-masing warga memiliki pemahaman sendiri-sendiri yang tidak perlu dan belum tentu sama dari satu warga ke warga yang lain ?

Layaknya pepatah kuna mengatakan “ciri sabumi cara sadesa” menyiratkan pengertian amat mendalam bahwa setiap masyarakat pendukung budaya di Nusantara mengembangkan kelengkapan ‘supraorganik’ atau perlatan ‘nonragawi’ yang merupakan perwujudan atas seluruh tanggapan aktifnya terhadap lingkungan hidupnya. Variasi lingkungan hidup di berbagai wilayah tersebut menimbulkan aneka-ragam cara memahami, memperkirakan dan menilai lingkungan serta menentukan nilai dan gagasan vital yang menjadi pedoman pola tingkah laku anggota masyarakat.

Maka dalam rangka IDENTIFIKASI SITUS sekalipun, ‘ntah yang dimengerti oleh atau secara umum atau ke dalam ujudnya yang lebih formal (akademis), harus dipandang dan diselaraskan sesuai kepada latar kebudayaan tiap-tiap alam lingkungan kebudayaan dan kerangka waktu pendukung budayanya.

Sebagaimana umumnya masyarakat Nusantara, masyarakat Tatar Sunda sejak sebelum masa Tarumanagara (protosejarah) hingga hadirnya berbagai inovasi, akrab dan mandiri dengan ciri budaya berladang dengan segenap perangkat kepercayaannya. Ciri khas budaya berladang adalah orientasi kuat terhadap lingkungan alam dengan segala kandungannya (kesuburan), serta iklim.

Karena masyarakat dengan budaya berladang memenuhi hidupnya secara langsung terlibat dengan memnafaatkan lingkungan alam, sehingga mereka berusaha mendekatkan diri dengan lingkungannya. Yang selanjutnya dibakukan ke dalam konsep (pikukuh) pemeliharaan bumi dengan segala isinya yang hakekatnya adalah simbolisasi hubungan antara dirinya kepada PenciptaNYA.

2. Gunung (Pasir Reungit) Cadas Nangtung Pasanggrahan
Gunung/Pasir Reungit secara geografis (GPS) pada koordinat 06° 51’ 43”-51°43” Lintang Selatan (LS) dan 107° 53’59,9” Bujur Timur (BT) ketinggian dari permukaan laut (dpl) 525 m. Terletak di Kampung Seulareuma (dahulu Salareuma) menempati lahan tertinggi dari sekitarnya diapit dua kampung lainnya yang mengisi dataran lebih rendah yaitu Kampung Lebak Huni (sebelah barat) dan Kampung Legok Bungur (sebelah timur). Lokasi yang dirujuk berupa suatu bukit yang oleh penduduk bersangkutan disebut Pasir (Sunda: Pasir=gunung kecil) di lingkungan pegunungan Perbukitan Sumedang Selatan yang terdiri dari
Gunung/Pasir Nangtung,
Gunung/Pasir Konci, Pasir Peti,
Gunung/Pasir Ciguling,
Gunung/Pasir Palasari dan Gunung Palasari.

Di lingkungan perbukitan tersebut hingga kini terdapat Makam Kuno Karamat Eyang Jagabhaya di Gunung/Pasir Nangtung dan Batukorsi (Stonesit ) Gunung/Pasir Ciguling.

Pasir Reungit merupakan salah satu bukit (Pasir) di lingkungan Sumedang Selatan yang kini dalam kondisi digali khususnya lereng dan dinding bukit bagian selatan (menghadap jalan raya Sumedang–Bandung). Penggalian berkaitan dengan usaha penambangan sumberdaya bahan bangunan rumah dan alat-alat sehari-hari diprakarsai oleh Perusahaan Bangunan CV. Stone-House. Sekitar 50 % lahan bukit bagian selatan nampak terbuka oleh hasil pengupasan sengaja pihak perusahaan bersangkutan, dan memperlihatkan sejumlah besar bongkahan batu dengan bentuk khas berupa sejumlah besar tonggak dengan ukuran yang spektakuler.

Dari catatan ringkas (arsip PolWil Priangan) tentang Gunung/Pasir Reungit diberikan oleh seorang bernama Rohman (Bojongmenje-Cangkuang, Rancaekek, Bandung) yang berkunjung pada 17 Oktober 2002. Ia membuat catatan ringkas (arsip Polwil Priangan BripKa.Asep Harijadi) tentang Gunung/Pasir Reungit atas dasar apa yang dilihatnya dengan dilengkapi keterangan wawancara dengan sesepuh penduduk setempat bernama Aki Jenar (87 tahun). Selain bongkah batu tonggak di Gunung/Pasir Reungit ditemukan terowongan dari sungai Cipeles yang menembus hingga ke Pasir Reungit, di dalam terowongan ada jalan berupa teras-teras undakan yang disusun menuju ke atas bukit, dan berfungsi sebagai pintu gerbang.

Disebutkan oleh Aki Jenar kepada Rochman bahwa pada tiap-tiap bulan (Islam) Maulud dan bulan Rajab khususnya di malam Jum’at di puncak Gunung/Pasir Reungit ini kerap muncul cahaya berkilauan seperti cahaya lampu neon. Maka Rochman menambahkan pada bagian akhir catatannya gunung/Pasir Reungit adalah “situs”:
1) ada keajaiban berupa cahaya pada lahan tertinggi Gunung/Pasir Reungit;
2) ada lubang berupa terowongan dari Sungai Cipeles hingga tembus ke lokasi tumpukan batu–batu
di atas, dan batu-batu yang berbentuk “persegi” adalah buatan manusia.

Keterangan yang sama diperoleh dari penduduk bernama Sukandar (43 tahun), ketika ayahnya masih hidup (Juned bin Juned meninggal dalam usia 74 tahun) menceritakan Pasir Reungit semula leuweung geledegan – hutan rimba mulai digali dan diketahui mengandung batu-batu tonggak ketika pada tahun 1954 membuka lahan ini untuk pertanian. Pada bagian selatan lahan kawasan Pasir Reungit terpotong jalan raya Sumedang-Bandung terdapat irigasi (sungai) Cipeles guna mengairi lahan permukiman dan persawahan penduduk Kampung Seulareuma. Diantara irigasi menuju lahan Pasir Reungit terdapat terowongan tanah yang menembus hingga ke bagian dalam Pasir Reungit.

Dari kondisi yang telah ditampakkan CV Stone-House Gunung/Pasir Reungit mengandung sumberdaya alam berupa batu-batu tonggak dalam jumlah besar; yang ketika digali posisinya demikian tersusun rapi, jenis batuan andesit yang keras dan kokoh, dan berwarna hitam. Maka permasalahan yang hadir “apakah kawasan Pasir Reungit ini hasil karya manusia (artefak) ataukah hadir semata karena gejala alam?”

Karena alasan kondisi inilah pihak keamanan setempat yang berwenang di wilayah Pringan Timur – PolWil.Priangan dipimpin (KaPolWil.Priangan) Kolonel Anton, menimbang dan mencurigai kemungkinan tidaknya Gunung (Pasir Reungit) Cadas Nangtung Pasanggrahan sebagai “Situs Bersejarah”.

Menegaskannya, perlu Tenaga Ahli yang secara profesional memiliki latarbelakang pengetahuan disiplin ilmu bersangkutan. Bersamaan dengan itu penyidik dari pihak PolWil Priangan mengundang beberapa Tenaga Ahli (Ilmuwan) dari berbagai disiplin ilmu, yang khusus dimintai pendapatnya tentang identifikasi dan status Pasir Reungit dengan kandungan sumberdaya alam yang tampak sebagaimana adanya kini.

Keterangan disampaikan beberapa oleh Tenaga Ahli tersebut direkam sesuai proses verbal menurut pihak Kepolisian Wilayah dan disimpan sebagai bukti saksi (istilah penyidik PolWil) atas status Pasir Reungit. Secara lisan diterangkan oleh Kompol Elman Limbong (salah seorang penyidik PolWil.Priangan) bahwa pihak PolWil.Priangan belum memperoleh ketegasan tentang status Gunung/Pasir Reungit.

Permasalahan yang menanti jawaban adalah identifikasi Gunung (Pasir Reungit) Cadas Nangtung Pasanggrahan dengan seluruh kandungan sumberdayanya yang dinilai cukup mencurigakan itu apakah dapat dikaitkan dengan warisan aktivitas budaya yang disebu “SITUS” atau harus dipandang sebagai gejala alam hasil proses geologis semata?

Penggalian CV.Stone House telah menampakkan Gunung/Pasir Reungit dengan kandungan sumberdaya alam berupa bongkah-bongkah batu andesit yang berbentuk tonggak dengan ukuran sangat besar dan kokoh. Lahan bukit yang telah ditampakkan tersebut sekitar 50 %, beberapa dintaranya dibaringkan di bagian bawah bukit di halaman rumah milik Ade Rahmawati (30 tahun), satu-satunya bangunan rumah yang berada di lereng Pasir Reungit; sebagian besar lainnya lagi masih berada pada tempatnya (intax sesuai matrixnya).

Sejumlah besar batu yang telah nampak ditemukan sebelum dijadikan tambang bangunan telah
banyak dipergunakan penduduk setempat selain dijadikan bahan bangunan rumah mereka, juga
untuk menyanggah tebing sungai (Cipeles). Pemanfaatan batu-batu tonggak baik oleh perusahaan maupun masyarakat setempat karena jenis batunya sangat keras tidak mudah retak meskipun dibanting dan dijatuhkan dengan keras, namun belakangan Perusahaan CV.Stone-House menggunakan mesin berat dan besar yaitu Buldozer yang kini masih terparkir di halaman rumah penduduk.

Ketika diamati lebih seksama batu tonggak memiliki bentuk hampir serupa namun dengan ukuran tinggi dan diameter berbeda-beda. Batu-batu tonggak yang masih terletak utuh pada tempatnya, berposisi “seakan-akan’ sengaja disusun berbaris dan menyandar pada dinding (lereng) Gunung/Pasir Reungit dengan tatanan yang cenderung miring 60° ke arah timur. Dari pengamatan Batu Tonggak yang telah dipindahkan dan berada di halaman rumah penduduk, ujung badan bagian bawah (menempel ke tanah) bentuknya rata “seperti usai dipangkas” sedangkan ujung badan bagian batu tonggak yang menghadap atas bentuk- nya “kerucut semu” seperti sengaja dipangkas kasar. Ukuran panjang batu-batu tonggak berkisar antara 7 – 8 m; sedangkan diameternya antara 60-70 cm.

Pada bagian lereng bawah Gunung/Pasir Reungit (dibawah susunan batu tonggak) masih terhampar kerakal andesit dan kericak sebagian masih tersusun rapih seperti lantai dan sebagian lagi terserak bercampur kerikil (kerikcak). Dibalik dinding susunan batu tonggak ditemukan tatanan batu lainnya seperti “susunan kue lapis” yang mengisi bagian dalam Gunung/Pasir Reungit.

Lahan paling atas tatanan batu tertutup tanah dengan partikel padat sekitar 50 cm dari batas tatanan batu, diikuti hamparan pasir pada bagian permukaan. Bagian selatan kawasan Gunung/Pasir Reungit kurang lebih 1-1.5 km mengalir sungai besar disebut Cipeles, aliran sungai tersebut mengalir arah timur-barat dan bermuara di Cimanuk.

Diantara dinding ruas jalan (Sumedang – Bandung) dan sungai Cipeles terdapat sungai irigasi yang sekaligus menjadi batas lahan Gunung/Pasir Reungit. Pada lahan ini ditemukan lubang terowongan (diameter terowongan 80-100 cm) Kendati besaran ukurannya cukup untuk dimasuki manusia, namun keadaannya kini telah terisi tanah dan bahkan kerap berisi air dan dihuni binatang (sero) sehingga sulit untuk diamati.

Hasil pengamatan terhadap Gunung (Pasir Reungit) Cadas Nangtung Pasanggrahan menunjukkan:
- lahan terbuka yang masih intax lekat pada matrixnya, dan yang tidak mungkin dipindahtempatkan
atau diubah oleh manusia
- Mengandung sumberdaya alam sangat potensial berupa batu andesit dari bahan yang sangat keras
juga dari berbagai bentuk diantaranya bentuk tonggak dalam jumlah yang sangat banyak memenuhi
bukitnya; kerakal dan kerikil juga dengan jumlah yang banyak; kandungan pasir dan tanah
- Gunung/Pasir Reungit terletak di lingkungan pegunungan atau perbukitan yang masih termasuk ke
dalam jajaran pegunungan Dataran Tinggi Parahiyangan
- Didekatnya mengalir sungai besar Cipeles yang bermuara di Cimanuk

Dapat disebutkan bahwa Gunung (Pasir Reungit) Cadas Nangtung Pasanggrahan lebih merupakan lingkungan dengan kandungan batuan, tanah, air dan tetumbuhan sebagai sumberdaya aalm yang dibutuhkan oleh manusia demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Sumberdaya alam yang bukan merupakan ciptaan atau dibuat oleh manusia, namun berkenaan dengan upaya dan usaha kehidupan berkebudayaan, manusia sebagai makhluk historis manusia memanfaatkan sumberdaya alam tersebut, dan tinggal dalam lingkungan dengan seluruh kandungan sumberdaya tersebut, sebagaimana adanya sekarang. Lalu bagaimana situasi dan kondisi pemanfaatan lahan Gunung/Pasir Reungit dan keberada- annya? Ke dalam pengertian Gunung/Pasir Reungit di dalam tatanan ruang budaya Sumedang Larang sejak awal hingga sekarang?

Karena manusia di dalam upaya memanfaatkan lingkungan pada dasarnya selalu mempertimbangkan pemilihan lahan atau lokasi dari manusia menempatkan dirinya dalam suatu lingkungan fisik. Pertimbangan ini mencerminkan bahwa dalam batas-batas tertentu masyarakat mengikuti aturan umum yang berlaku (normative), sehingga tidak berperilaku acak dalam memilih suatu lahan atau lokasi pemukiman, melainkan berpola, maka pemolaan aktivitas manusia tercermin pada keruangannya, waktu dengan ciri dan karakter budaya dalam suatu lingkungan tertentu.

3. Apakah yang disebut Situs, Bagaimana Kaitannya dengan Gunung (Pasir Reungit) Cadas Nangtung Pasanggrahan ?

Seorang pakar Arkeologi Prof.Dr. Moendardjito di dalam salah satu artikelnya berjudul “Perencanaan Tata Ruang Situs Arkeologi” salah satu makalah di dalam Laporan Pelaksanaan Workshop Pelestarian Dan Pengembangan Kawasan Percandian Situs Batujaya, Kabupaten Karawang” (Cikampek, 15-19 April 2002), Proyek Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalan Jawa Barat, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Propinsi Jawa Barat. Tahun 2002 (8 halaman).

Mengemukakan secara rinci tentang apa dan bagaimana ketentuan suatu SITUS kedalam pengertian Arkeologi, pada lembar 3 aliena 10 ia menuturkan, sebagai berikut: “Nama Situs di Indonesia pada umumnya diberikan menurut nama lokasi administratifnya, meskipun tidak konsisten. Kadangkala menurut nama kampung, atau nama desa, kecamatan, dst. Seringkali juga menurut nama yang diberikan penduduk . . . Perlukah kita memberi nama secara sistematis seperti sekarang, atau kita memberi nama dengan cara lain, atau membebaskannya menurut keinginan masing-masing peneliti, perencana, atau penduduk.

Tingkat pengetahuan mengenai isi situs bertambah ketika mendalaminya, sehingga penamaan yang diberikan seringkali jadi berubah. Misalnya bukit yang dinamakan penduduk sebgai Unur Jiwa selanjut nya oleh peneliti menyebutkannya situs Unur Jiwa, setelah dilakukan penggalian dan ditemukan candi, peneliti menyebutkannya situd Candi Jiwa.

Tetapi mungkin ada peneliti yang menamakannya situs Segaran I karena berada di wilayah administratif Desa Segaran. Mungkin ini menguntungkan dari sudut pengelolaan secara administratif. Namun kerugiannya, jika desa tersebut berganti nama, akan menimbulkan permasalahan baru...”

Disebutkan bahwa kata ‘situs’ di Indonesia menimbulkan kerancuan dalam pemakaiannya, karena tidak konsisten dengan prinsip taksonomi keruangan yang sifatnya hirarkial. Untuk kota kuna Trowulan misalnya dengan luas 9 x 11 km ditnamakan ‘situs’ dengan tambahan keterangan yang menunjukkan keistimewaannya sebagi situs yang luas sebesar kota, yaitu ‘situs kota’ (city-site, urban-site).

Istilah ini memang tidak salah benar karena ada dalam kepustakaan arkeologi. Hal ini mungkin disebab kan selama kita menganut definisi situs sebagai ‘sebidang lahan yang mengandung atau diduga meng andung tinggalan arkeologi’, tanpa merinci kompleksitasnya, dan keluasannya (apakah 1 meter persegi atau 1 hektar persegi),kepadatan penduduknya,dsb.

Penggunaan definisi tersebut di tasa tidak hanya dipakai di kalangan arkeolog-peneliti, tetapi juga arkeolog-pelestari sebagaimana tersurat dalm Undang Undang tentang Benda Cagar Budaya Tahun 1992. satuan ruang yang dinyatakan dalam undang-undang tersebut hanya ‘situs’, bukan ‘kawasan’. Kini, sudah ada upaya untuk memasukkan istilah, pengertian dan konsep ‘kawasan’ di dalam wacana para arkeolog Indonesia, tetapi belum dalam perundang-undangan...”

Moendardjito (2002:4) memperjelas keterangannya:
bahwa pengertian ‘kawasan arkeologi’ secara sederhana diartikan ‘sebidang lahan yang relatif luas, yang mengandung sejumlah situs arkeologi yang letaknya berdekatan (spatial clustering sites), seperti kawasan Batujaya dan Pakisjaya tidak hanya berdekatan dal hal keruangannya (space), juga memiliki kedekatan dalam hal bentuk (form), dan waktu (time).

Situs-situs yang berada dalam ‘kawasan’ tersebut dapat mengandung warisan aktivitas budaya (baca: arkeologi) yang sejenis atu aneka jenis, semasa atau lintas masa, tunggal atau banyak atau multi- componentsites, besar atau kecil. Di situs-situs itu juga terdapat sejumlah warisan aktivitas arkeologi berupa bangunan dan fitur, artefak, ekofak dan lingkungannya.

Menurutnya, di berbagai bagian dunia lain para arkeolog ‘Perencanaan Tata Ruang Situs Arkeologi’ dikatagorikan dalam empat satuan ruang dengan berdasarkan kepada keluasan atu kompleksitasnya:
1) satuan ruang ‘situs (site)’;
2) satuan ruang yang lebih luas dari situs yaitu ‘locality’;
3) satuan ruang yang lebih luas dari locality, yaitu ‘region’ dan
4) satuan ruang yang lebih luas dari region, yaitu ‘area’.

Namun di Indonesia ‘region’ dan ‘area’ disepadankan dengan istilah ‘kawasan’ atau ‘wilayah’ dipakai secara bergantian (rancu) di dalam tulisan-tulisan berupa laporan atau makalah/artikel; sedangkan
‘daerah’ dipakai sebagaimana adanya kini,

ada juga istilah ‘mintakat’ untuk menyepadankan ‘zona’ :
Ada ‘Zona I’ atau ‘Zona Inti’ yang merujuk kepada ’sanctuary area’;
‘Zona II’ atau Zona Penyangga yang merujuk kepada’buffer area’;
‘Zona III’ atau ‘Zona Fasilitas’ yang merujuk kepada ‘facility area’ zona merupakan daerah sarana penunjang;
di luar zona-zona atu mintakat-mintakat tersebut adapula ‘Zona IV’ atau ‘Zona Lansekap Sejarah’
yang merujuk kepada ’historical landscape’ tentunya dimaksudkan untuk mempertahankan lingkungan

Mengacu kepada paradigma ‘situs atau lahan situs’ yang diajukan Moendardjito tersebut, disebutkan bahwa Gunung (Pasir Reungit) Cadas Nangtung Pasanggrahan dengan situs-situs yang terletak diselilingnya berada dalam lahan yang tidak berjauhan, lahan-lahan yang secara tegas disebut ‘situs’ dengan posisi ‘mengelilingi’ dengan mengambil pusat lahan Gunung (Pasir Reungit) Cadas Nangtung Pasanggrahan, maka:

1. Situs Sanghyang Kolak di Gn. Palasari 1349.27 m
2. Situs Batu Lingga Cikondang di Kampung Cikondang , Desa Pasanggrahan Baru (524m)
3. Situs Batu Kursi di Kampung Pasirpeti, Desa Margalaksana (1641.61 m)
4. Situs Geger Hanjuang (Patilasan Kraton dan Makam Sunan Guling) Kampung Ciguling, Desa
Margalaksana (1651.27 m)
5. Situs Cadas Gantung di Kampung Pasirpeti , Desa Margalaksana (1404.61 m)
6. Situs Patilasan Ibukota Sumedanglarang di Kampung Ciguling, Kelurahan Pasanggrahan
(1358.78 m)
7. Situs Makam Prabu Pagulingan raja Sumedanglarang ke-4 di Kampung Nangtung,
Desa Ciherang (1291.07 m)
8. Situs Makam Bagus Suren di Kampung Jamban, Desa Girimukti (594.25 m)

Kedekatan antar ‘situs-situs’ tidak hanya ditunjukkan dalam keruangan (space) juga bentuk (form) dan waktu (time) yang secara ringkas :
- Skala ruang ditunjukkan oleh jarak yang tidak lebih dari 2 km (jarak yang cukup dekat) terletak pada delapan arah mata angin, dengan Gunung (Pasir Reungit) Cadas Nangtung Pasanggrahan berada ditengah-tengah ‘situs-situs’ tersebut;
- Skala bentuk ditunjukkan oleh pemanfaatan batu-batu alam dengan bentuk yang sangat alami dengan “mengimposisi kepada lingkungan alam’. Seperti kenyataannya di Pasir Reungit terdapat singkapan lava bersifat basaltis dengan struktur kekar kolom (columnar joint), oleh penduduk setempat disebut Batu Tonggak dan diyakini batuan andesitis. Kekar kolom (columnar joint) ini lazim terbentuk di daerah gunung api, hasil pembekuan magma yang keluar ke permukaan yang disebut lava. dengan bentuk yang bervariasi segilima, segienam ataupun segi delapan dengan arah kolom yang dapat berdiri/tegak, miring maupun rebah, tergantung dari arah dan pola aliran lavanya.

Dengan adanya kekar kolom, maka diketahui arah aliran lava, karena arah aliran lava tegak lurus dengan sumbu memanjang dari kolom kedudukan kekar kolomnya berdiri, meski miring sekitar 60o.
Di Situs bekas Ibukota Sumedanglarang di Ciguling terdapat batuan basaltis dengan kedudukan terguling/rebah, yang bertumpuk sejajar dan searah, yang pada dasarnya juga merupakan kolom-
kolom dari lava basaltis.

Yang perlu dipelajari secara rinci adalah, apakah penumpukan tersebut merupakan hasil karya leluhur Kabuyutan, atau secara alami.

Jika penumpukan tersebut hasil karya leluhur, sangat mungkin bahannya diambil dari daerah sekitar yang tidak jauh, sebagaimana disebutkan seluruh tempat terdapatnya situs-situs merupakan batuan lava basaltis dengan struktur kekar kolom (columnar joint). Namun jika penumpukan dengan kedudukan terguling/rebah adalah hasil kegiatan alam, artinya terdapat pola dan arah aliran lava yang berbeda dengan di Situs Batu Nantung, karena menghasilkan pola kekar kolomnya tidak berdiri/ tegak seperti tonggak, melainkan terguling/ rebah.

Demikian pula penamaan situs di daerah ini oleh masyarakat Sunda Sumedang masa lampau (Kabuyutan) sebagai Batu Nantung (Batu Tonggak/Berdiri) sangat sesuai dengan keadaan alam,
batuan di situs tersebut berdiri tegak, atau Batu Tonggak memang terbentuk secara alamiah sebagai hasil pembekuan lava basaltis di permukaan, hasil kegiatan volkanisme pada Kala Plestosen (sampai sekitar 1,5 juta tahun yang lalu).

Batuan lava basaltis yang membentuk kekar kolom kiranya dimanfaatkan oleh Kabuyutan yang kini dapat dimaknai sebagai situs budaya masa lampau seperti di Situs Batu Menhir di Cikondang, Situs Ciguling, Situs Petilasan Kraton dan Situs Bagus Suren di Desa Girimukti. Selurus situs–situs itu terletak di suatu daerah bukit atau perbukitan yang diketahui jelas adanya suatu tubuh kekar kolom dari batuan basaltis digunakan Kabuyutan untuk kepentingan tertentu berhubungan sesuai nilai kehidupan kala itu.

- Skala waktu (time) ditunjukkan oleh sejumlah data tertulis (textual data) yang terdiri dari naskah prasasti, naskah karyasastra dan tradisi tutur -- hisdtoriografi tradisional yang mengetengahkan peristiwa kontemporer Pasir Reungit selaras zamannya. Digunakannya sumber tertulis dalam rangka mengidentifikasi Gunung (Pasir Reungit) Cadas Nangtung Pasanggrahan adalah sesuai sifat dan data Arkeologi yang didapat dengan melakukan pendaftaran, pencatatan dan pemugaran kemudian membahas masalah-masalah yang ada dibalik data kontekstual (artefak-artefak).

Akan tetapi penafsiran terhadap artefak-artefak atau data kontekstual selalu dilakukan kepada penjelasan-penjelasan sumber tertulis (data tekstual). Karena Arkeologi, disamping sebagai bidang
ilmu yang berdiri sendiri juga dipandang bagian pengkhususan dari Antropologi, maka permasalahan perkembangan seni dalam kedua bidang tersebut didekati dengan cara yang sama.

Di belahan dunia lain Arkeologi sebagai bidang ilmu sebagian besar meliputi masa Prasejarah, maka warisan aktivitas budaya dipelajari tidak mengandung data tekstual (sumber tertulis). Dengan demikian penafsirannya bersandar pada analisis artefak dengan berbagai cara, ataupun pada analogi dengan data Etnografi. Di Indonesia membahas Arkeologi mengggunakan pendekatan 1) Arkeologi Prasejarah dan pendekatan Antropologi, 2) Oudheidkundige dan Art History.

Dalam hal inilah Oudheidkundige memberikan penjelasan mengenai artefak-artefak seni kuna meng- gunakan data tekstual berupa sumber-sumber tertulis yang memberi keterangan-keterangan pemikiran, khususnya tentang gagasan-gagasan keagamaan yang nyata dan secara faktual melandasi karya- karya seni tersebut. Sumber tertulis terutama digunakan untuk meletakkan suatu karya dalam titik waktu tertentu (kronologi) dalam tatanan Sejarah Kebudayaan.

4. Gunung (Pasir Reungit) Cadas Nangtung Pasanggrahan adalah ‘Datum Point’ Kabuyutan (Ceremonial Center): Gerbang (Madyapada) Yang Berlaku Dalam Unsur Keyakinan Keagamaan Masyarakat Tatar Sunda
Tatanan mengelilingi dengan pusat (puseur) di Gunung/Pasir Reungit adalah sesuai konsep Sang Sewasogata, Gunung/Pasir Reungit merupakan Pancatantramantra (lima unsur halus), yang secara
gaib terdiri dari tujuh susun berupa kesirnaan/lenyap, tujuh susun bersuasana sunyi/hampa. Sedangkan di bagian selatan terletak Situs Batu Pangcalikan, simbol sakala (alam dunia) “Bhuhloka/Madyapada”(dunia tempat manusia).

Secara horizontal tatanan Gunung/Pasir Reungit dan situs-situs di sekitarnya yang mengilinginya di arah delapan mata angin merupakan pancer sebagai tonggak dangiang layaknya sarang lebah di
dunia nyata “jagat leutik/buana leutik”; dan secara vertikal melambangkan jagat gede/jagat
ageung- alam semesta sesuai Kropak 422 dan teks naskah Sang Hyang Hayu, tata ruang jagat (kosmos) terbagi menjadi tiga susunan:
(1) susunan dunia bawah, saptapatala ‘tujuh neraka’,
(2) bhuhloka adalah bumi tempat kita saat ini yang disebut madyapada; dan
(3) susunan dunia atas, saptabuana atau buanapitu ‘tujuh sorga’ bhuwarloka.

Tempat di antara saptapatala dengan sapta-buana itulah yang disebut madyapada, yakni pratiwi ‘dunia tempat manusia’. Senarai konsep tata ruang masyarakat Sunda yang secara kosmologis selalu bersifat triumvirate ‘tiga serangkai, tritunggal’.

Dalam tatanan tersebut, Masyarakat Sunda mencari makna dunia menurut eksistensinya: menyangkut keluasan atau lingkupnya yang mengandung segala macam dunia dengan seluruh bagian dan aspeknya sehingga tidak ada sesuatu pun dikecualikan. Artinya masyarakat Sunda memiliki pandangan tentang kesejajaran makrokosmos dan mikrokosmos, antara jagat raya dan dunia manusia.

Di sini Gunung/Pasir Reungit atau Cadas Nangtung Pasanggrahan ataupun Selareuma merupakan Madyapada ‘bhuwarloka’ yang menjadi jembatan (Sunda: rawayan) batas antara alam pratiwi ‘dunia manusia’ atau bhuhloka menuju ke Swahloka atau buana. Dinamai Selareuma bukanlah semata mengacu pada ucapan asal-asalan dan semen-mena, melainkan tetap harus dikembalikan konsep dasar kosmologi Sunda.

Dijelaskan istilah selareuma secara morfologi terdiri atas dua kata, yakni sela dan reuma. Kata sela dalam bahasa Sunda artinya ‘celah atau jarak antara dua benda terpisah’, homofon dengan kata séla yang artinya ‘batu’. Kata reuma adalah varian bentuk dari istilah huma artinya ‘lahan perladangan/ perkebunan’, homofon dengan kata réma artinya ‘jari-jemari atau ujung rambut’ (R. Satjadibrata: KBS, 1954; Panitia Kamus LBSS: KBS, 1990; R.A. Danabrata: KBS, 2006).

Demikian pula istilah sela dikenal dalam bahasa Jawa berarti ‘sela, bersela, lapang, senggang’, sedang kan kata séla artinya ‘batu, kemenyan, intan, pelana, sela, ringka, ringga (gajah)’ (Prawiroatmojo, BJI. 1981). Dalam bahasa Jawa Kuno, sela dapat diartikan ‘selang, celah, antara; sedangkan séla adalah ‘batu’ (Mardiwarsito, KJKI. 1978; Zoetmulder, OJED. 1982). Akan tetapi Baik dalam bahasa Jawa masa kini maupun bahasa Jawa Kuno tidak ditemukan kata réma juga reuma atau pun huma.

Namun secara morfologi ditemukan bahwa dalam bahasa Sunda, kata Selareuma artinya ‘celah atau jarak di antara lahan perladangan atau perkebunan’; atau sélareuma ‘batu atau bebatuan di lahan perladangan/perkebunan’. Selaréma juga merujuk arti ‘celah atau jarak antara jari-jemari atau ujung rambut’; sélaréma artinya ‘batu atau bebatuan bercelah seperti jari-jemari/ujung rambut’. Dengan demikian, istilah selareuma, selaréma, juga selahuma merupakan bentukan kata asli dalam bahasa Sunda.

Selareuma atau sélareuma identik dengan selahuma mengandung pengertian sebuah tempat ladang bebatuan yang tegak berderet bagaikan jari-jemari; sementara itu istilah pasanggrahan secara morfologis terdiri atas kata dasar sanggrah yang artinya ‘menyimpan sementara (barang atau orang) sementara waktu’ mendapat gabungan awalan pa- dan akhiran –an yang berfungsi membentuk kata tempat atau lokasi. Jadi pasanggarahan artinya ‘tempat atau rumah peristirahatan sementara untuk bermalam para pejabat atau tamu penting’.

Senarai data tekstual (sumber tertulis) dan data kontekstual (data arkeologi) kini nyata bahawa Gunung/Pasir Reungit – Selareuma – Pasangggrahan merupakan tempat sementara persinggahan
“axis mundi” karena itu Selahuma (baca : Selareuma) dalam Serat Purusangkara disebutkan sebanyak 25x penyebutan, pada bagian yang menyebutkan istilah Selahuma merujuk pada nama tempat atau lokasi yang bersifat mitos-legendaris. Istilah yang sangat Sunda mencakup berbagai makna yang teramat dalam yang merujuk kepada kegiatan berladang (agraris) di dalam melangsungkan kehidupan sehari-hari (sensorable-message) yang juga dipakai untuk menamai hingga ke alam kalanggengan (unsensorable-message).

Gunung/Pasir Reungit adalah ‘AXIS MUNDI’ alam sela/Madyapada, dan bukan kebetulan pula jika bentuk-bentuk tonggak batu menjulang “menhir” ini disediakan alam (proses geologi), sesuai konsep kepercayaan Sunda, layaknya untaian reuma ‘alam celah’ pemberhentian sejenak, perjalanan jiwa/sukma/roh selanjutnya menuju ke alam lebih tinggi yaitu buanasapta atau saptaloka yang dalam tatanan Kabuyutan Sumedanglarang adalah Gunung Tampomas.

Alam sementara atau alam sejenak adalah adalah alam gaib yang dalam Serat Purusangkara disebutkan sebagai berikut:

“. . . Duh Paduka Sang Jagad Yang Berkuasa, mengenai turunannya Brahma dan juga Kala itu sekarang menjadi raja di Tanah Selahuma. Merajai semua raksasa yang melindungi seluruh tempat di sana. Negerinya pasti dinamai Selahuma, sedangkan yang menjadi raja adalah Kala, dengan julukan (Hal.135) Prabu Yaksadewa. Brahma itu menjadi gada yang dibawa Prabu Yaksadewa, sedangkan yang menjadi keinginannya adalah memusnahkan semua keturunan Wisnu”. Sanghyang Girinata bertanya kembali, “Mengapa sampai tiba-tiba hendak berbuat salah kepada sesama makhluk? Sekarang Brahma dan Kala itu sama-sama tidak patuh pada aturan saya . . . ”

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Selahuma mengacu pada sebuah nama tempat di bumi yang merujuk pada suatu lokasi lingkungan sebagaimana telah diuraikan di muka. Namun demikian, para penghuni tempat tersebut dapat dikategorikan sebagai mahluk dunia gaib, yakni: Sanghiyang Girinata, Sanghiyang Naradha (penghuni Suryalaya), Sanghiyang Kala dan Sanghiyang Brahma (penghuni Suryalaya yang turun ke Selahuma). Dunia gaib itu dalam naskah Sang Hyang Hayu termasuk alam saptabuana atau buanapitu. Artinya bahwa lokasi Selahuma atau Selareuma merupakan tempat yang memiliki fungsi magis dalam tatanan ruang bagi masyarakat yang tinggal di sekelilingnya.

Tidak perlu dipertanyakan dan diragukan mengapa pada lahan Gunung/Pasir Reungit tidak ditemukan artefak (hasil buatan manusia) kecuali benda-benda yang merupakan sumber daya alam. Artefak-artefak (situs-situs) ditemukan justru berada dan terletak disekeliling Gunung/Pasir Reungit. Karena Gunung/Pasir Reungit merupakan lahan dalam kosmologi Sunda merupakan gerbang ke alam Kahiyangan sebelum menuju ke Gunung Tampomas.

Selaras pemilihan dan penmpatan lahan lingkungan (ecological factor:faktor ekologis) sebagian besar Kabuyutan Tatar Sunda menempati lahan gunung, bukit-bukit, atau dataran-dataran tinggi di lingkungan pegunungan; juga dekat aliran atau pertemuan sungai besar; juga bentuk dan konsep continuity, bangunan kabuyutan dilandasi kepercayaan yang dianut masyarakat dengan budaya Megalitik yakni penghormatan kepada leluhur.

Lahan-lahan ekologis yang dipilih tersebut merupakan pusat atau sumber dan sarat dengan
kandungan daya dalam menunjang sarana kehidupan manusia, tidak hanya berlaku bagi
bangunan suci, juga hunian sekaligus mencerminkan landasan keyakinan pokok yakni menghormati leluhur (Karuhun; Rumuhun) yang diistilahkan Hiyang.

Para pakar sependapat bahwa pengaruh India di Nusantara identik dengan hadirnya agama Hindu-Buda ditandai oleh sejumlah besar bangunan dengan latar keagamaannya, mengakibatkan kekunaan sejarah selalu diukur dan dinilai melalui penetrasi kebudayaan Hindu-Buda. Mengesankan seakan-akan seluruh masyarakat Nusantara memeluk Hindu-Buda padahal kenyataannya tidaklah demikian.

Seorang sarjana Belanda bernama C.M.Pleyte (cf. Danasasmita l975:37) pernah menegaskan: ““Hinduisme i.e. Sivaism made its entry into the Pasundan but wether it ever became popular
is rather doubtful, as not more about half a score of images belonging to the Sivaitic pantheon have been discovered, whilst such temples and monasteries as ain Middle and Eastern Java sought for in vain. It is fair to conclude therefore, that while a few of the native princes did perhaps adopt the foreign religion, the bulk of the population remained true to their original creed founded on animism and ancestor worship”.

Sejak awal Masyarakat Sunda akrab dengan kehidupan berladang dan identik dengan sebutan masyarakat peladang tidak memberi peluang subur untuk pertumbuhan kultur Hindu melainkan sebaliknya tradisi megalitiklah yang tetap bertahan sebagai esensi dari kehidupan spiritualnya.
Leluhur (hiyang) adalah unsur pemujaan tertinggi yang mewarnai pusat-pusat keagamaan
(kabuyutan) di Tatar Pasundan, Jawa Barat.

Kabuyutan merupakan khas carek masyarakat Tatar Sunda yang dituliskan di dalam beberapa sumber tertulis, diantaranya karyasastra Kabuyutan ti Galunggung dan piagam resmi kerajaan sebagai Piteket dang dikeluarkan oleh Sri Baduga Maharajadhiraja Sri Sang Ratudewata. Raja yang untuk kesekian kalinya memimpin dan mempersatukan pusat Kerajaan Galuh (wetan–kidul) dengan pusat Kerajaan Sunda (kulon-kaler) ke dalam satu panji kekuasaan mutlak Pakwan Pajajaran.

Kedudukannya sebagai ‘maharaja’ inilah yang membuatnya memiliki kedudukan mutlak sebagai pemimpin politik dan pemimpin keagamaan. Karena itu beliau bertanggungjawab atas kelestarian lingkungan alam dan segenap rakyatnya, diantaranya dengan membuat ‘piteket’ mengamankan seluruh gunung sebagai sumberdaya alam dimana di dalamnya terdapat (ditempatkan) bangunan suci kerajaan ‘khas’ Sunda yakni Kabuyutan yang tersebar di seluruh wilayah kekuasaannya.

Berkaitan kepada konsep yang hingga kini tetap diberlakukan dengan ketat pada komunitas Kanekes (Baduy di Banten Selatan) bahwa ngabaratapakeun nusa “apa yang telah dianugrahkan oleh Sang Cipta tidak boleh dirubah melainkan harus diperlakukan dan dipulasara sebagaimana adanya, tanpa merubah apalagi dengan mengeksploitasinya”. Maka Kabuyutan di Tatar Sunda selalu mengimposisi kepada lingkungan dan bukan memodifikasi, jikalaupun ada atau diperlukan perubahan akan dilakukan seperlunya tanpa merusak tatanan aslinya.

Kabuyutan dengan corak tradisi Megalitik adalah representasi pengulangan tingkah laku ke dalam simbol-simbol keagamaan yang khas Sunda. Bangunan keagamaan didirikannya dengan ciri dan karakter sesuai latar belakang budayanya. Sebagaimana istilah kabuyutan identik dengan istilah Sunda Wiwitan, ajaran yang menjadi landasan dasar paling azasi dan mewarnai sebagian besar warisan aktivitas budaya Tatar Sunda.

Rangkaian tingkahlaku yang secara ”nirsadar” telah terbentuk dari endapan pengalaman pribadi di masa lampau, dengan dipilihnya corak tradisi megalitik, tiada lain adalah penstrukturan kepribadian sejalan motivasi dan kemampuan. Di dalam upaya Masyarakat Tatar Sunda menjembatani diri, memberi arah kehidupan sesuai tuntutan sosial budaya keagamaan.

Continuity kentalnya tradisi megalitik pada hakekatnya mencerminkan perilaku kognitif kesinambungan pengakuan peran leluhur terhadap keberadaan kehidupan dunia. Dengan kata lain kabuyutan adalah kepribadian Masyarakat Tatar Sunda di dalam dimensi ruang, bentuk dan waktu.

Kiranya perlu dikemukakan bahwa tidak satu kata maupun istilah yang pernah disebut dalam seluruh sumber tertulis (textual data) yang berhasil ditemukan di Mandala Sunda (Tatar Sunda), yang mencantumkan kata “Candi” untuk menyebut bangunan suci atau pusat upacara keagamaan, melainkan Kabuyutan. Istilah logis mengacu konsepsi dasarnya yakni penghormatan kepada leluhur, dengan aspek dan perangkat pusat upacara keagamaan termasuk faktor keselarasan lingkungan turut dipertimbangkan sehingga memperlihatkan ciri dan karakter khas sesuai lingkup lahannya.

Bangunan keagamaan yang bentuk dan gayanya sangat jauh berbeda dengan bangunan suci pengaruh Hindu-Buda yang disebut Candi. berhasil ditemukan dicirikan oleh kemegahan artefak-artefaknya yang artifisial, bentuk yang jauh berbeda dengan bangunan keagamaaan di Tatar Sunda yang sebagian besar warisan aktivitasnya ketika ditemukan itu tidak lebih daripada sejumlah besar bongkah dan kerakal andesit berserakan, tidak tampak sebagai bangunan tertentu melainkan lahan dipenuhi batu.

Inilah ciri atau variabel yang sekaligus menegaskan khas bangunan Kabuyutan:
- selalu ditemukan pada suatu dataran tinggi, bukit atau gunung atau lahanlahan tertinggi diantara
sekitarnya yang sarat dengan sumberdaya alam
- kabuyutan merupakan mandala gaib puseur dangiang, tahta para leluhur, atau karuhun, karenanya
bukit atau gunung dimana pun berada dipercaya sebagai pusat paragi ngahiyang (parahiyangan)
- gunung, bukit atau dataran tinggi identik dengan kabuyutan itu sendiri umumnya terletak sebagai
batas desa atau batas suatu pemukiman

Bangunan Kabuyutan, di satu pihak secara tegas menggugurkan asumsi di Tatar Sunda tidak ada atau sangat jarang ditemukan bangunan keagamaan, dilain pihak memberi peluang intentitas budaya tentang bagaimana sesungguhnya Kabuyutan masyarakat Tatar Sunda pada masa tatanan pemerintahan masih bercoarak kerajaan (Monarki absolut).

Bukit/[Pasir] Reungit dengan keberadaan dan kandungan sumberdaya alam berupa batu-batu tonggak tersusun rapi dengan kemiringan sekitar 60° ke arah timur. Lahannya terletak di lingkungan pegunungan termasuk dalam rangkaian Dataran Tinggi Parahiyangan yang marupakan “benteng pakidulan” dan kawasan hulu (girang) aliran sungai-sungai Tatar Sunda; seperti kenyataannya bahwa aliran (sungai) Cipeles bermuara ke timur yakni Cimanuk.

Semua tatanan fisiografis tersebut bukan semata kebetulan belaka, melainkan fakta bahwa Pasir Reungit berorientasi ke timur “Leluhur alias Karuhun” yang mengawali kehidupan. Selaras tataran waktu, sejarah mencatat raja-raja Sumedang keturunan raja-raja yang pernah berjaya di masa lalu berpusat di wetan yakni Kerajaan-kerajaan pendahulunya Talaga hingga ke GALUH yang menjadi PANGRUHUM kerajaan-kerajaan di PAKIDULAN atau PRIANGAN TIMUR.

Batu tonggak yang tersusun rapih tersebut sebagian besar menunjukkan ciri khusus yakni bagian badan yang diletakkan di bawah (di atas tanah) menunjukkan permukaan yang rata, sedangkan bagian badan mendongak ke atas berpermukaan kerucut semu “seperti bekas dipangkas kasar” bukan pula kebetulan, namun berkait kepada pola alami bahan bangunan yang secara umum ditemukan pada sebagian besar Kabuyutan di Tatar Sunda khususnya yang mengambil corak tradisi Megalitik.

Kabuyutan adalah mandala kerajaan maka setiap kerajaan selalu memilikinya., karena itu Kabuyutan disebutkan dalam karyasastra Kabuyutan ti Galunggung sebagai timbang taraju jawadwipa mandala.

Maka bukan asal berkata jikalu Warga Pribumi yang termasuk dalam katagori senior (sesepuh) yang menjabat sebagai ketua yayasan Kraton Sumedang Larang menyampaikan kepada KaPolWil Priangan Kolonel Anton (pers.com mobile: 12 November 2009) bahwa Pasir Reungit bagi masyarakat Sumedang merupakan “Cadas Nangtung Nu Ngajadi Ciriwanci Sumedang Larang”.

Selaras dengan yang digambarkan oleh Pantun Lutung Kasarung: “Gunung Cupu Mandala-hayu, Mandala Kasawiatan, di Hulu Dayeuh, dina cai nu teu inumeun, dina areuy nu teu tilaseun, dina jalan teu sorangeun, sakitu kasaramunan..”

Bahkan lebih tegas dinyatakan oleh pakar Sunda (almarhum) Prof.Dr. Ayatrohaedi:
“Bangunan suci masayarakat Tatar Sunda tidak selalu harus diidentifikasi sebagai bangunan dengan artefak atau struktur seperti bangunan suci yang dimengerti masyarakat umumnya (candi); atau bangunan lengkap dengan fondasi, dinding dan atap, melainkan lahan bukit alam atau dibuat lambang suatu bukit (bukit buatan = gugunungan) dengan vegetasi hutan yang dibiarkan tumbuh alami...”

Maka sesuai kenyataannya bahwa sautu Kabuyutan selalu ditemukan pada suatu bukit, gunung, dataran tinggi di lingkungan pegunungan, sekaligus menjadi batas/ujung lahan suatu pemukiman/
hunian (hulu dayeuh) di sekitarnya, sehingga yang nampak tidak seperti megahnya “bangunan candi Borobudur” melainkan tiada lain gunung yang dipenuhi serakan batu berbagai bentuk di tengah-tengah kawasan hutan lebat. Sejauhmana dan bagaimana bentuk dan tatanan Pasir Reungit ketika masih berfungsi dan digunakan pemangku budaya, tidak dapat dijelaskan.

Jelas Gunung/Pasir Reungit dengan seluruh yang nampak ke permukaan, ditunjang letaknya di wilayah Dataran Tinggi Parahiyangan sebagai "BENTENG PAKIDULAN' dengan tatanan alami yakni “mengimposisi” pada (alam) lahan bukit, juga kandungan benda-bendanya yang dimanfaatkan sesuai bentuk alaminya, yang merupakan variabel –varibel penunjang, maka tegas disebutkan Gunung/ Pasir Reungit adalah Situs “Cadas Nangtung Nu Ngajadi Ciriwanci Sumedang Larang”.

Dalam pengertian seluasluasnya Gunung/Pasir Reungit adalah salah satu Kabuyutan Cadas Nangtung disebut:
"Mandala Kasawiatan nu aya di Hulu Dayeuh,
dina cai teu inumeun,
dina areuy teu tilaseun,
dina jalan sorangeun
sakitu kasaramunan"

Kawasan yang dahulu merupakan hutan lebat “leuweung geledegan” kondisi dan karakter lahan seperti inilah tempat dan lokasi yang senantiasa dipilih dan ditempatkan Kabuyutan bagi masyarakat Tatar Sunda sejak masa paling awal,

Berdasar pernyataan tentang BCB 1992 bahwa “dalam wacana para Arkeolog sepakat bahwa pengertian ‘situs’ sebagai kawasan adalah lahan yang relatif luas, yang berada dan mengandung sebaran sejumlah situs arkeologi yang letaknya berdekatan atau dalam satuan ruang (spatial clustering sites)...”. Gunung/Pasir Reungit dengan situs-situs Kabuyutan yang terletak di sekelilingnya (dalam bentang keruangan delapan arah mata angin) tidak hanya berdekatan dalam hal keruangannya (space), juga memiliki kedekatan dalam bentuk (form) dan waktu dalam sejarah kebudayaan Sumedanglarang"

Hasil kegiatan lapangan membuktikan pula Gunung/Pasir Reungit merupakan SITUS ke dalam katagori Locality Site dalam Tatanan Mandala Kabuyutan Cadas Nangtung di lingkungan Gunung Tampomas dengan seluruh kandungan warisan budaya lintas masa Sejarah Sumedanglarang.

5. Penutup
Kiranya, setiap situs memiliki karakter yang unik dan khas sesuai pengalaman pengetahuan budaya masyarakat pendukung yang telah dijiwai sejarah masa lampaunya, maka tidak semua situs arkeologi dapat digeneralisasi begitu saja, apalagi dengan kondisi pengetahuan si peneliti yang kerap terbatas hanya pada pilihan bidang-bidang minat spesialisasi tertentu.

Andaikan di era globalisasi saat ini masih terbersit hasrat untuk melirik sejarah dan kearifan lokal budaya masa silam, hal itu cukup arif, karena jika kita cermati secara seksama, tanpa kita sadari banyak manfaat serta informasi budaya hasil kreativitas dan warisan karuhun terdahulu yang bisa kita gali dan kita ungkapkan di masa kini. Lain daripada itu, harus diakui bahwa di era globalisasi sekarang, ada kecenderungan bahwa masyarakat lebih menghargai budaya asing dibandingkan budaya ‘pituin’ kita sendiri.

Globalisasi memang tidak bisa kita hindari, namun kita dituntut agar pandai memilih dan memilah budaya asing yang masuk, serta lebih menghargai peninggalan warisan budaya karuhun kita di atas kepentingan pribadi, karena warisan budaya nenek moyang kita jauh lebih berharga dan tidak bisa diukur dengan materi semata.

Salah satu sumber informasi budaya masa lampau yang sangat penting adalah naskah, karena naskah dapat dipandang sebagai dokumen budaya yang berisi berbagai data dan informasi ide, pikiran, perasaan, dan pengetahuan sejarah, serta budaya dari bangsa atau sekelompok sosial budaya tertentu.

Oleh karena itu beberapa hal menarik dari naskah, prasasti, maupun tradisi lisan, baik itu tuntunan moral, sistem pemerintahan, kepemimpinan, kosmologis, topografi, pandangan hidup, situs atau ‘kabuyutan’, maupun unsur budaya lain yang dapat memberi sedikit gambaran sistem pemerintahan dan kepemimpinan serta kosmologis masa lampau yang masih sangat relevan untuk dicermati dan dikaji guna menunjang mengungkapakan data arkeologi yang sifatnya sangat terbatas. Maka sebagai sumber informasi, dipastikan naskah-naskah buhun termasuk salah satu unsur budaya yang erat kaitannya dengan kehidupan sosial budaya masyarakat yang melahirkan dan mendukungnya.

Terutama karena menyangkut isinya yang menyiratkan aspek-aspek kehidupan masyarakat meliputi kondisi sosial dan budaya, religi, teknologi, ekonomi, kemasyarakatan, pendidikan, bahasa, dan seni.

Dalam kaitan ini warisan karuhun orang Sunda disebut ‘kabuyutan’ Gunung/Pasir Reungit ada hubungannya dengan salah satu naskah Sunda berjudul Puru Sangkara yang secara faktual mengungkapkan keadaan sosial pendukung budaya tatkala ‘kabuyutan’ tersebut masih berfungsi. Ditunjang oleh tradisi lisan berupa folklore yang berkembang di masyarakat sekitar daerah tempat Gunung/Pasir Reungit berada.

Hal itu membuktikan bahwa naskah bukan isapan jempol belaka, tidak dianggap dan tidak dihargai, apalagi diremehkan keberadaannya. seluruh kabuyutan yang ada di daerah Sumedang Selatan, maka terlihat bahwa sebagian besar kabuyutan terletak di daerah perbukitan landai, dan hanya sedikit di perbukitan terjal, dan tidak ada di daerah lembah yang datar, sehingga kalau dihubungkan dengan aspek arkeologis, kosmologis, antropologis dan lain-lain, maka sangat wajar dan menunjukkan "KEHEBATAN DAN KEGENIUSAN PENGALAMAN PENGETAHUAN PARA BUYUT" YANG MAMPU MEMILIH LOKASI YAKNI KEHIDUPAN YANG MENYATU DENGAN ALAM, MEMBUAT MEREKA SANGAT MEMAHAMI ASPEK LINGKUNGAN DAN DAPAT MEMILIH DAERAH "YANG RAMAH LINGKUNGAN" UNTUK SELURUH KEHIDUPANNYA TERMASUK ASPEK RITUALITASNYA!

Dari hasil kegiatan lapangan (data kontekstual) ditunjang berdasarkan (data tekstual) kutipan teks naskah Carita Ratu Pakuan, tercatat nama Sumedang-larang (dalam teks lengkap dicatat 4x), Pagulingan, dan Cadasgantung ditulis dengan Cadas Gumantung di samping juga Cadas Putih Gumalasar.

Dicatat pula Sanghiyang Karang Curi yang artinya sama dengan Batu Tegak atau Batu Tiang. Gunung Tamporasih adalah nama lain dari Gunung Tampomas yang tercatat dalam teks naskah Kisah Bujangga Manik (tiga kali). Tegas dan nyata bahwa Gunung/Pasir Reungit merupakan SITUS ke dalam katagori Locality Site Tatanan Mandala Kabuyutan Cadas Nangtung di lingkungan Gunung Tampomas dengan seluruh kandungan warisan budaya lintas masa Sejarah Kebudayaan Sumedanglarang.


Cag
AMBU

Bintaro, Desember 2009
Richadiana Kadarisman Kartakusuma

Lanjut membaca “SITUS CADAS NANGTUNG PASANGGRAHAN, SUMEDANG”  »»

Prasasti pada Kertas Emas Batujaya


Thursday, November 5, 2009 at 12:40pm
Prasasti-Prasasti Emas dari BATUJAYA

(Richadiana Kadarisman Kartakusuma)

Ketika itu saya kebetulan diajak bergabung oleh Tim Penelitian Batujaya, dengan alasan disiplin studi saya pada bidang spesialisasi Epigrafi, yakni studi terhadap sumber tertulis (prasasti, naskah, berita cina etc).

Secara khusus meneliti beberapa prasasti yang diperkirakan kontemporer zaman dengan situs penelitan bersangkutan, yaitu prasasti digoreskan pada terakota (Museum Batujaya), prasasti yang digoreskan pada lembaran tipis dari bahan emas yang dibaca berdasarkan foto dari ketua tim, dan beberapa prasasti disimpan sebagai arsip Juru pelihara (Bapak Kaisin, penduduk desa Batujaya).

Prasasti yang digoreskan pada terakota penulis dapat langsung membacanya di tempat, karena tersimpan di Museum Batujaya, sedangkan prasasti-prasasti lainnya diperoleh dan dibaca benar-benar dari foto milik ketua tim dan penulis tidak melihat dan membaca langsung dari benda prasastinya.

Pembacaan suatu prasasti dari masa lampau dengan jarak dan tenggang waktu sekian abad, aksara dan bahasa yang sudah “arkais” tidaklah mudah kecuali membaca pada bendanya langsung. Oleh karena itu, dengan seluruh rasa kesadaran, penulis mohon maaf segala kekurangan hasil pembacaan yang tertera di sini.

Perlu dikemukakan bahwa selama proses penelaahan prasasti-prasasti dari Batujaya tersebut, untuk melengkapi kekurangan dan mendapatkan hasil yang diupayakan semaksimal mungkin. Diantaranya diskusi dengan peneliti senior yang telah lebih dahulu meneliti dan membaca prasasti tersebut, yakni Dr.Hasan Djafar (FIB UI). Beliau Hasan Djafar lah yang telah dengan cemerlang merampungkan Studi Batujaya sebagai Disertasi Pasca Sarjana Universitas Indonesia (kini proses diterbitkan oleh EFEO: Ecole Francaise d’Extreme-Orient bekerjasama dengan Penerbit KIBLAT- Bandung).

Atas izin dan kerendahan hati Dr.Hasan Djafar (Epigrafis Senior FIB UI) meluangkan waktu dan pengalaman studinya kepada penulis. Beberapa hasil diskusi atas pembacaan prasasti yang ditampilkan di sini merupakan salah satu naskah prasasti-prasasti yang secara khusus segera diterbitkan oleh Dr. Hasan Djafar.

Prasasti-Prasasti dari Situs Batujaya ditelaah sehubungan penelitian Situs Batujaya tahun 2009 adalah sebagai berikut:

1) Prasasti pada Meterai Terakota (Votive Tablet)
Prasasti votive tablet ini beberapa disimpan sebagai benda inventaris Museum Batujaya. Prasasti tersebut ditemukan di situs Segaran V–Candi Blandongan, enam votive tablet ditemukan dalam kondisi utuh; 50 votive tablet lainnya dalam keadaan hancur berupa fragmen. Namun ada beberapa diantanya yang dapat direkonstruksi ulang sehingga ukurannya dapat diketahui, yaitu rata-rata berkisar tinggi 6 cm lebar 4 cm dan tebal 0,5 cm.

Prasasti votive tablet tersebut terdiri dari dua bagian. Bagian atas terdapat pahatan relief yang menggambarkan tiga tokoh Buddha yaitu Boddhisatva dengan sikap kaki bersila, dan sikap tangan dhyanimudra. Di bawah gambar tiga tokoh Boddhisatva tersebut ada tiga tokoh Buddha lainnya dengan sikap duduk Bhadrasana dan sikap tangan Abhayamudra; sementara sosok Buddha lainnya yang dipahatkan berdiri mengapit sisi kanan dan sisi kiri dengan sikap tubuh Tribhangga dan sikap tangan Abhayamudra (Hasan Djafar 2005).

Sementara itu votive tablet yang berprasasti, tulisannya digoreskan pada bagian bawah pahatan relief Buddha, terdiri dari dua baris isinya tidak begitu jelas, namun nampak seperti gaya aksara Palawa dan gaya Kharosti. Bentuk aksara yang tidak begitu jelas hingga sulit dibaca ini agaknya merupakan aksara yang dalam posisi terbalik (harus dibaca dari kanan), diperkirakan benda votive tablet dibuat dan dicetak dengan cetakan sama berupa copy. Maka pahatan tulisan maupun gambarnya sama tetapi dengan kondisi suhu bakar berbeda sehingga menghasilkan warna terakota berbeda.

Votive-votive tablet terakota sebagian disimpan di Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional-Jakarta; sebagian lagi ada di BP3 (Balai Pelestarian dan Penyelamatan Purbakala)-Serang, Provinsi Banten; beberapa disimpan di Gedung Penyelamatan BCB Batujaya (Museum Batujaya)-Karawang.

Dr.PEJ.Ferdinandus mengasumsikan votive tablet yang ditemukan di Candi Blandongan beraksara Khmer Kuno dan dihubungkan dengan relief Buddha juga dipahatkan dalam votive tablet tersebut diduga merupakan “Keajaiban Saraswati” seperti votive tablet yang terdapat di Thailand dari periode sekitar abad ke VI dan ke-VII Masehi.

2) Prasasti pada Terakota (Fragment)
Prasasti ini ditemukan pada Situs Candi Blandongan (SEG V) pada bulan Agustus tahun 1999 ketika melakukan pengupasan runtuhan lantai selasar. Prasasti disimpan Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional. Prasasti dipahatkan pada bata, kini bentuknya berupa fragmen sehingga duapertiga bagian bertulisan hilang, dan yang dapat diukur sekitar panjang 7 cm, lebar 5 cm dan tebal 1 cm. Prasasti dituliskan dengan aksara Palawa dan bahasa Sanskerta, isinya tentang ayat-ayat suci “mantra” Buddha dituliskan masing-masing tiga baris pada kedua sisinya (depan dan belakang)

Teks Sisi depan (recto):
1. ajnanac-ci] - yate karmma //
2. [jan mmanah karmma] karanam //
3. [jnanan-na ciyate] karmma //

Sisi Belakang (verso):
1. [...............] ---- ma
2. [...............] – thaya //
3. [...............] bhadrah //

3) Prasasti pada Lembaran Emas
A. Prasasti Emas 1
Prasasti dituliskan pada lembaran emas yang sangat tipis berukuran panjang 12 cm dan lebar antara 1-1.2 cm. Ditemukan dengan kondisi terlipat tatlkala pengupasan pada lahan Situs Candi Blandongan (SEG V) tahun 2002, isinya tentang ayat-ayat suci “mantra” Buddha ditulis-kan dengan aksara Palawa dan bahasa Sanskerta terdiri dari tiga baris tulisan.

Benda prasasti tersebut masih lengkap tetapi pecah menjadi empat bagian yang dapat disambung menjadi bentuknya yang utuh, disimpan sebagai inventaris BP3 (Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala) – Serang, Provinsi Banten.

Teks
1. ajnana-(c=)iyate ka karma [jna]nah karma [......]jnana ciyate karma
2. karma bhava[n=na ja]yate

B. Prasasti Emas 2
Prasasti dituliskan pada lembaran emas yang sangat tipis berukuran panjang 5 cm dan lebar 2.5 cm. Ditemukan dengan kondisi terlipat kala pengupasan pada lahan Situs Candi Blandongan (SEG V) tahun 2004, isinya tentang ayat-ayat suci “mantra” Buddha dituliskan dengan aksara Palawa dan bahasa Sanskerta terdiri dari tiga baris tulisan. Prasasti tersebut masih lengkap hanya saja pada bagian tengah lembaran retak. Kini disimpan sebagai inventaris BP3 (Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala) – Serang, Provinsi Banten.

Teks:
1. ajnanac-ciyate karmma janmanah
2. karmma karanam jnanannah kramanah
3. karm karmma bhava-na jayate

C. Prasasti Emas 3
Sangat kebetulan hanya sempat melihat sebentar ketika berlangsung kegiatan penelitian di Situs Batujaya, dimana penulis sebagai salah satu anggota tim, sehinga tidak sempat mengamati dan membacanya dengan saksama. Namun menilik secara sepintas ketika di lapangan, gaya aksara dan tulisan tertera di dalamnya diperkirakan merupakan kata-kata suci ‘mantra” Buddha seperti prasasti-prasasti emas I dan II yang telah dipapaarkan.

Oleh karena itu yang ditampilkan di sini hanya berdasarkan pengamatan fisik yang sepintas, juga keterangan tentang prasasti Emas 3 diperoleh berdasarkan diskusi dengan Dr.Hasan Djafar.

Prasasti Emas III ditemukan tim penelitian Pusat Penlitian dan Pengambangan Arkeologi Nasional di Situs Lempeng (SEG II) pada bulan Juli 2005.

Aksara Palawa yang dipakai pada prasasti-prasasti di Situs Batujaya sebagian besar isinya berkenaan dengan ayat-ayat suci “mantra” Buddha dan memiliki kecenderungan tidak menyerta-kan unsur pertanggalan; dituliskan dengan media bahasa Sanskerta. Dari segi bentuk, jenis dan gayanya prasasti-prasasti yang berhasil ditemukan di Situs (Kompleks Percandian) Batujaya meperlihatkan adanya kedekatan bentuk dan gaya aksara yang terdapat pada prasasti-prasasti dari masa Kerajaan Taruma yang kini disimpan sebagai benda inventaris Museum Nasional-Jakarta.

Dari tinjauan paleografi J.G.de Casparis (1975; cf. Hasan Djafar 2005) beberapa prasasti termasuk periode Kerajaan Taruma terutama pada lembaran emas mungkin sekali merupaksan bentuk aksara yang berkembang sekitar abad VII-IX Masehi.

Bahasa dipakai pada prasasti-prasasti mantra sehubungan dengan Penelitian Arkeologi 2009 ini (baik yang digoreskan pada votive tablet, pada terakota maupun lembaran emas) adalah bahasa Sanskerta. Sesuai media bahan yang dipilih dan lingkungan situs tempat temuannya, bahasa Sanskerta yang dipakai sehubungan dengan wacana keagamaan yang bersifat Buddhis.

Bagaimana kaitan prasasi-prasasti mantram di dalam hubungan dengan pelaksanaan upacara keagamaan, belum dapat dijelaskan, kecuali prasasti-prasasti pada lembaran emas. Tampak fisik prasasti-prasasti lembaran emas teradapat bekas lipatan, akibatnya lembaran emas itu retak dan patah.

Dalam kaitan ini J.G. de Casparis menuturkan (cf. Hasan Djafar 2005) prasasti-prasasti yang berisi mantra (ayat-ayat suci) Buddha khususnya yang dituliskan pada lembaran emas kecil, memiliki nilai kesakralan teretentu dalam kaitannya dengan ritual agama Buddha dan bangunan suci bersangkutan. Prasasti emas tersebut dilipat atau digulung kemudian disimpan atau diletakkan di dalam bangunan stupa.

Menurut B.Ch.Chhabra mantram “ajnanac-ciyate karmma janmanah” adalah ajaran Sankhya dan Vedanta. Menurut Hariani Santiko yang disampaikan kepada Hasan Djafar (2005) penggunaan bahasa Sanskerta dengan aksara Palawa umum ditemukan sebagai media utama penyampaian pesan Buddha aliran Mahayana, inti mantra ajaran Budisme Pratitiyasamutpada. Maka Kompleks Percandian Batujaya merupakan bangunan pusat upacara keagamaan pemeluk Buddha Mahayana.

Lanjut membaca “Prasasti pada Kertas Emas Batujaya”  »»